Another life story
Posted on July 21st, 2008
bedhiah: jadi pram apa yang bisa ita buat untuk negara kita yang tercinta ini sekarang?
pram: mati anjinglah negara
bedhiah: itulah yang saya maksud dengan semangat anak bangsa
bedhiah: saya suka semangat itu
pram: uhauhauhuha
pram: kenapa kau bedh? kebanyakan mandi kau kayanya
pram: mana aja kau?
pram: pindah ke bali yuk bedh
bedhiah: hanjiang
bedhiah: jauh kali
bedhiah: aku kurang begitu akrab ma bule2 pram
bedhiah: mereka nggak bisa ngikutin gaya aku
pram: ndak suntuk kau?
bedhiah: suntuk juga sih
bedhiah: tapi orang tu pasti ngerti akulah
bedhiah: hoi serius kali
bedhiah: knapa ada yang nawarin kerja di bali ma kau?
pram: ga juga..
pram: pengen aja pindah
pram: ntar cari kerja disana aja
bedhiah: duh kau yakin tampang kau cocok jadi anak pantai?
bedhiah: aku ndak bisa pindah ke bali sekarang
pram: napa gitu?
bedhiah: aku lagi nunggu dadang foto kopi ktp
bedhiah: buat beli honda beat
bedhiah: ![]()
pram: tajir kali kau bedh
pram: aku udah beli gl max
pram: cam mana clothing.. masih jalan
pram: ?
bedhiah: hehehe
bedhiah: masih lah
bedhiah: aku bukan orang yang suka jadi golongan kerah biru kaya kau
bedhiah: gimana lagi wak
bedhiah: ndeh tinggal di pinggiran metropolitan bikin kau jadi lembek yah pram?
pram: oh tidak dong
bedhiah: duh, kayaya aku mencium bau amis nih
bedhiah: aku takut ntar lagi kau ngomel2 soal betapa hancurnya metropolitan
pram: uhauhauhuha
bedhiah: tenang pram metropolitan masih menjanjikan kejamnya ibukota kok, kau santai2 aja duduk di sana nanti dia bakal datang juga kok dengan sendirinya
bedhiah: sabar yah!
bedhiah: kmaren dia dah bilang kok ma aku
pram: babi
pram: aku biasa aja nyoh
pram: aku cuma bosan aja..
pram: dan dibali kabarnya gajinya lebih tinggi
bedhiah: iya tapi titit orang2 disana gede2 pram
bedhiah: kau yakin bisa sabar?
pram: ntah apa2 kau ni bedh..
pram: kapan jakarta lagi?
bedhiah: jum’at depan kayanya
bedhiah: sabtu hangout yukkk
bedhiah: gaul2 gitu
bedhiah: duduk2 di citos
bedhiah: seprti biasalah…
pram: YUK YUK
bedhiah: sep
bedhiah: nti aku bilang ma bayu biar dia mau ngeluang kan waktu nya
bedhiah: dia lagi sibuk kali sekarang nangis2 darah
bedhiah: kasian kali dia banyak gaul ma komputer
bedhiah: nanti kita selamatkan dia
bedhiah: dari sengsaranya dunia maya
bedhiah: k?
pram: EMBER
Tags: chat, life, Manusia, Puritan
Filed under chiffonier | 5 Comments »
Jalan Keras
Posted on June 10th, 2008
Muslim adalah seorang preman yang memegang teguh pendiriannya sebagai seorang preman sejati. Sering kali dia mengatakan pada anak buahnya bahwa peraturan dan hukum hanya ada di bibir saja, yang terpenting adalah prinsip dan mental. Muslim tak pernah menyelesaikan sekolahnya, terakhir ia menduduki bangku sekolah waktu itu namanya SR. Umurnya sekarang sudah mendekati angka 60 tak ada yang tau berapa umur aslinya, beberapa codet di pipi dan pundaknya hanya mengambarkan keangkeran dan lamanya ia hidup di dunia gelap.
Dengan umurnya yang tak sedikit itu sudah banyak yang ia lakukan, sejak kecil ia tak pernah meminta uang ke orang tuanya ia terlahir untuk dibesarkan di jalan. Bagi kawan seumuran muslim adalah seorang laki-laki sejati karna tak pernah membuat onar dikampungnya sendiri, orang-rang kampung selalu menganggapnya adalah seorang yang baik hati dan gemar menolong tetangga. Tak sedikit orang-orang tua yang diberinya uang dan tak sedikit pula anak-anak yang sudah disekolahkannya. Dia mengaku sudah menikahkan lebih dari 20 orang di kampungnya. Beberapa kali perang saudara di kampungnya telah berhasil di hindarkan karna campur tangannya, tak sedikit kebaikan yang sudah dibuatnya untuk kampung. Walaupun telah banya terdengar desas-desus bahwa tempat prostitusi di pinggiran kampung adalah miliknya dan beberapa kejadian perampokan truck yang melintasi jalan besar kerap dikait-kaitkan dengan dirinya orang-orang kampung selalu menutup-nutupi keberadaan muslim waktu polisi mencari informasi mengenai dirinya.
Entah bagaimana mulanya Muslim menjadi sangat rajin pergi ke mesjid, badannya yang tegap dan suaranya yang serak itu masih dapat menyembunyikan usianya sehingga penduduk kampung tetap saja terkejut melihat Muslim rajin sekali pergi kemesjid untuk sholat berjamaah. Anak-anak yang sering bermain di mesjid menjadi sangat ketakutan dan tak ada yang berani membuat gaduh sewaktu ia berada di mesjid. Hal ini dipicu satu kejadian ketika Muslim sedang mengikuti sholat Jum’at ada segerombolan pemuda tanggung asyik bercakap-cakap dan tertawa ketika khotib sedang berkotbah. Muslim tampak mendekati anak-anak muda itu dan membawa salah seorang pemuda yang paling besar suaranya ke toilet tempat mengambil wudhu. Tak tampak bekas pukulan ataupun sikssaan di muka dan tubuh anak itu, tapi semenjak itu tak nampak lagi gerombolan anak muda itu datang lagi ke mesjid duduk berkelompok.
Penduduk kampung mulai melihat muslim rajin mengikuti pengajian di mesjid, dan ia selalu pulang terakhir bersamaan dengan pengurus mesjid menutup pintu mesjid. Muslim telah menjadi sosok yang alim dan di segani oleh orang kampung dan bukan hanya sekedar takut. Para ustad serta orang-orang tua kampung selalu tampak menemani beliau bercakap-cakap sehabis sholat berjamaah, wajah mereka tak tampak sedang belajar mengaji tapi lebih tampak seperti sedang berdebat. Kening Muslim sudah mulai menghitam memberikan tanda kedalaman ilmu dan pendiriannya dalam beragama. Suatu hari terjadi perdebatan yang sengit diantara mereka dan diakhiri dengan keluarnya Muslim dari mesjid dengan muka yang keruh dan dada yang naik turun. Setelah itu penduduk desa mulai jarang melihat Muslim lagi, rumahnya juga tak lagi sering terlihat terbuka. Sejak istrinya meninggal, anak-anak muslim yang sudah besar-besar dan tinggal di kota. Muslim hanya tinggal sendiri ditemani pembantu.
Entah kenapa penduduk kampung mulai mendesas-desuskan kembali nama muslim, semua bermula dari pembakaran gereja dan di kampung tersebut. Pembakaran gereja itu berlanjut ke warung-warung hingga perternakan orang-orang tionghua. Hanya membutuhkan tak lebih dari 6 bulan tak tampak lagi penduduk desa yang beraliran agama lain selain islam yang ada di desa tersebut. Bahkan ada rumah yang baru dibangun dan belum ditumpangi tapi keesokan harinya sudah terbakar menjadi debu. Tak ada satupun orang yang dapat menjawab siapa dalang dari semua kericuhan itu atau yang lebih tepatnya berani menjawab.
Beberapa bulan kemudian terlihat ramai kegiatan di sebelah rumah Muslim, banyak orang hillir mudik dan truck-truck pasir dan batu berkeliaran di sana. Rumah bekas kebakaran telah di tertutup oleh pagar seng. Tak butuh waktu lama sebuah mesjid telah berdiri disana dengan megah. Undangan di sebarkan ke seluruh pelosok kampung untuk sholat magrib berjamaah. Pukul 6 sore mesjid telah ramai didatangi oleh penduduk dari pelosok kampung. Acara akan dimulai dengan azan magrib dan sholat berjamaah yang langsung dipimpin oleh Muslim sebagai Imam. Acara kemudian akan dilanjutkan dengan makan-makan sedekahan dan juga sukuran mesjid. Adzan berkumandang ke seantero kampung, tampak pria berbaju gelap berjaga-jaga di sekitar mesjid dan menyuruh orang yang hendak mengikuti acara bergegas masuk kedalam mesjid. Banyak sekali orang yang sholat berjamaah ketika itu melebihi jamaah yang mengikuti sholat tarawih minggu pertama di bulan Ramadhan. Azan telah selesai berkumandang bersamaan dengan itu hujan turus dengan sangat derasnya sehingga tak ada satupun orang yang berada di luar mesjid dan tak mengikuti sholat magrib berjamaah. Muslim dengan kupiah putih dan sorban putihnya telah berada di tempat imam mengumandangkan takbir. Suara muslim yang serak dan keras itu dapat mengimbangi suara petir yang menggelegar di luar. Air hujan yang turun sangat dengat deras juga tak terlalu membawa pengaruh yang hebat pada kekhusukan jamaah, diawali sebuah petir yang sangat keras sehingga membuat kaca-kaca mesjid ikut bergetar. Tiba-tiba terdengar sebuah benda pecah diikuti bunyi tubuh yang roboh kelantai. Ternyata lampu kristal yang berharga puluhan juta itu telah jatuh dan menimpa Muslim yang sedang memimpin sholat berjamaah di mihrab. Lampu itu jatuh tepat mengenai kepalanya Muslim roboh dengan kepala dihimpit oleh batu kristal.
Tags: Cerita, keras, Kolot, Manusia, manusia purba, preman, Puritan, tobat
Filed under chiffonier | 6 Comments »
Anak Pak Ustat
Posted on March 7th, 2008
Tak seberapa banyak yang ku ingat tentang seorang ayah dari seseorang yang sangat berperan penting terhadap asal usulku ada di dunia ini. Sejak umur 1 tahun bapak sudah meninggalkanku dan ibu. Waktu itu bapak sedang duduk dipelaminan dengan seorang pegawai bank swasta ketika ibu datang mengunjungi dengna perut besarnya. Pesta itu hancur berantakan dan setahun setelah itu bapak tidak lagi tinggal di rumah. Kata ibu bapak marah-marah dan memaki maki ibu karna mukaku tak mirip dengannya. Kulitku putih sedangkan bapak hitam dan ibu hitam.
Sebenernya bapak tak benar-benar pergi meninggalkanku dan ibu. Biaya hidup kami selalu dicukupi olehnya. Tiap hari jum’at aku ingat ibu pergi ke mesjid kuning menemui bapak. Bapak akan memberikan beberapa rupiah kepada ibu setelah bubaran sholat jum’at. Mungkin bapak memberikan beberapa honor ceramah jum’atnya kepada ibu. Setelah besar dan sedikit berumur sekitar 10 tahunan. Aku menggantikan posisi ibu menerima uang dari bapak pada hari jum’at di mesjid itu. Suatu hari aku tak berhasil mendapatkan uang mingguan kami yang tak seberapa itu karna aku ketahuan tak mengikuti sembayang Jum’at.Ibu sedih sekali dan terpaksa mengutang ke warung untuk mendapatkan beras dan beberapa potong ikan asin. Sejak saat itu aku tak berani menggalkan sholat jum’at untuk beberapa waktu.
Tags: Bodoh, Cerita, Kolot, Manusia, Purba, Puritan
Filed under chiffonier | 31 Comments »
drive me, please……..
Posted on February 8th, 2008
masih bernafas
memberangus kehidupan dengan kebohongan dan kezaliman
cermin yang hancur berantakan
tak peduli lagi seorang sahabat yang selalu mengingatkan
sepertinya akan selalu begini temanku yang setia
atau karna kau memang terkurung di sana?
bukakan pintu itu untukku teman
jangan biarkan aku terus di sini
udara malam ini begitu sesak dan panas
tak kusadar kaki ini telah membawaku dan dirinya ke ambang pinggir jurang
tempat yang selalu kita hindari selama beberapa tahun ini
tak ada orang lain
semua ulahku dan
nafasku yang terendah yang terus dan terus memompa
perjalanan beberapa langkah belakang
membawa kan ku cermin melihatmu kembali
bawa aku pulang temanku
kaki ini tak mampu lagi memapah tubuh yang berat
hina purba dan bodoh
kali ini maukah kau membawaku lagi?
kerumah asalku dulu
asal muasal mu dulu
menangis
bersujud
Here I lay……………………
Just like always…………………….
Don’t let me……………………
Go…………………………….
Take me to the edge………….
* Passenger by. deftones
Tags: galau, Kolot, Manusia, Purba, Puritan
Filed under Halitosis | 29 Comments »
belajar agama
Posted on January 8th, 2008
ni gambar jadul banget yah?
Tags: Kolot, Manusia, Purba, Puritan
Filed under Predestination | 26 Comments »





