Another life story
Posted on July 21st, 2008
bedhiah: jadi pram apa yang bisa ita buat untuk negara kita yang tercinta ini sekarang?
pram: mati anjinglah negara
bedhiah: itulah yang saya maksud dengan semangat anak bangsa
bedhiah: saya suka semangat itu
pram: uhauhauhuha
pram: kenapa kau bedh? kebanyakan mandi kau kayanya
pram: mana aja kau?
pram: pindah ke bali yuk bedh
bedhiah: hanjiang
bedhiah: jauh kali
bedhiah: aku kurang begitu akrab ma bule2 pram
bedhiah: mereka nggak bisa ngikutin gaya aku
pram: ndak suntuk kau?
bedhiah: suntuk juga sih
bedhiah: tapi orang tu pasti ngerti akulah
bedhiah: hoi serius kali
bedhiah: knapa ada yang nawarin kerja di bali ma kau?
pram: ga juga..
pram: pengen aja pindah
pram: ntar cari kerja disana aja
bedhiah: duh kau yakin tampang kau cocok jadi anak pantai?
bedhiah: aku ndak bisa pindah ke bali sekarang
pram: napa gitu?
bedhiah: aku lagi nunggu dadang foto kopi ktp
bedhiah: buat beli honda beat
bedhiah: ![]()
pram: tajir kali kau bedh
pram: aku udah beli gl max
pram: cam mana clothing.. masih jalan
pram: ?
bedhiah: hehehe
bedhiah: masih lah
bedhiah: aku bukan orang yang suka jadi golongan kerah biru kaya kau
bedhiah: gimana lagi wak
bedhiah: ndeh tinggal di pinggiran metropolitan bikin kau jadi lembek yah pram?
pram: oh tidak dong
bedhiah: duh, kayaya aku mencium bau amis nih
bedhiah: aku takut ntar lagi kau ngomel2 soal betapa hancurnya metropolitan
pram: uhauhauhuha
bedhiah: tenang pram metropolitan masih menjanjikan kejamnya ibukota kok, kau santai2 aja duduk di sana nanti dia bakal datang juga kok dengan sendirinya
bedhiah: sabar yah!
bedhiah: kmaren dia dah bilang kok ma aku
pram: babi
pram: aku biasa aja nyoh
pram: aku cuma bosan aja..
pram: dan dibali kabarnya gajinya lebih tinggi
bedhiah: iya tapi titit orang2 disana gede2 pram
bedhiah: kau yakin bisa sabar?
pram: ntah apa2 kau ni bedh..
pram: kapan jakarta lagi?
bedhiah: jum’at depan kayanya
bedhiah: sabtu hangout yukkk
bedhiah: gaul2 gitu
bedhiah: duduk2 di citos
bedhiah: seprti biasalah…
pram: YUK YUK
bedhiah: sep
bedhiah: nti aku bilang ma bayu biar dia mau ngeluang kan waktu nya
bedhiah: dia lagi sibuk kali sekarang nangis2 darah
bedhiah: kasian kali dia banyak gaul ma komputer
bedhiah: nanti kita selamatkan dia
bedhiah: dari sengsaranya dunia maya
bedhiah: k?
pram: EMBER
Tags: chat, life, Manusia, Puritan
Filed under chiffonier | 5 Comments »
Bubur air mata II (tamat)
Posted on June 25th, 2008
Ada 5 meja di rumah makan tersebut dan semuanya dipenuhi dengan sisa pengunjung di sore menjelang rumah makan tutup. Tumbawada membuat 20 porsi bubur ayam biar semua pesanan dapat terpenuhi. Ketika bubur dihidangkan dan mulai mencicipi bubur tersebut terjadi kerisuhan. Semua pengunjung restoran mengeluarkan air mata bahkan ada yang sampai terisak-isak bercucuran airmata. Semua pengunjung menangis sambil memakan bubur buatan Tumbawada samapai tak bersisa. Bahkan saat membayar dan keluar dari rumah makan itupun para pengunjung masih tak dapat menghapus air mata yang jatuh. Kota Gulabena tempat Tumbawada menjadi gempar dengan kejadian tersebut. Orang-orang tak henti-hentinya membicarakan bubur tersebut pos-pos ronda dan rumah-rumah ketika makan malam terdengar sedang membicarakan makanan tersebut.
“Benar-benar lezattttt, tak masuk akal. Saya bahkan tak sedang sedih sedikitpun ketika menyantapnya. Tapi air mata saya tak mampu saya tahan. Meluncur begitu saja ketika sendok pertama bubur itu memasuki mulut saya”. Begitu kata salah seorang pengunjung rumah makan itu kepada rekannya sewaktu ronda malam.
“saya bahkan masih tetap menangis sewaktu saya menginjakkan kaki saya kesalam rumah saya sore tadi setelah memakan bubur ayam itu” kata salah seorang pengunjung lainnya kepada sanak saudaranya.
“Itu adalah bubur ayam yang teraneh yang pernah saya makan, rasanya sangat lezat dan sedih sekali. Coba kau bayangkan bagaimana rasanya. Saya bahkan yakin tak bisa tidur malam ini menunggu esok hari biar bisa makan bubur itu lagi”. Sahut seorang ibu kepada suaminya.
Akhirnya seperti yang dapat diperkirakan, keesokan harinya rumah makan itu sudah dipenuhi berpuluh-puluh orang yang sedang berdiri mengantri rumah makan itu dibuka. Rumah makan itu sendiripun bahkan belum buka. Para pengunjung juga tak henti-hentinya datang dan memenuhi perkarangan rumah makan tersebut, ada yang benar-benar datang ingin mencoba bubur itu ada juga yang datang Cuma karena terheran-heran karna banyak sekali orang berkumpul. Orang yang mengantri bahkan sudah hampir keluar jalan karna saking penuhnya ketika rumah makan dibuka oleh pegawai Tumbawada. Hari itu semua orang yang keluar dari rumah makan itu bercucuran air mata.
Bubur ayam itu membuat Tumbawada semakin terkenal dan rumah makannya makin dipenuhi pengunjung setiap harinya. Semakin menangis pengunjung tersebut maka semakin sering pengunjung itu datang kerumah makan Tumbawada. Tak sedikit juga yang marah-marah karna tak kebagian. Tumbawada ternyata takmampu membuat lebih banyak porsi setiap harinya. Bahkan Tumabawada kelihatan semakin kurus dan dan matanya semakin cekung, walaupun harga bubur telah diaikkan berkali-kali lipat tapi pengunjung tak juga beralih dan meminta menu lain. Hal tersebut membuat Tumbawada menjadi tersiksa karna harus membuat bubur itu berulang-ulang kali setiap harinya. Semakin hari pengunjung rumah makan itu bukan semakin sepi melainkan semakin ramai. Bahkan para pengunjung sudah mulai berdesak-desakan dipintu masuk dan sempat terjadi beberapa kali perkelahian karna ada beberapa pengunjung yang tak mau mengantri dan memaksa masuk lebih dahulu.
Hal ini sampai ketelinga Gubernur Landa, beberapa masukan dari pesaing Tumbawada juga menambah-nambah informasi yang sampai ketelinga Gubernur ini.
“Saya tak tahan mendengar ejekan dari orang-orang di kota sebelah pak gubernur. Kuping saya gatal sekali mendengar mereka menghina kota kita penduduknya cengeng semua”, kata salah seorang pembawa berita tersebut.
“Bagaimana kalau Raja menyangka Tuan tak becus mengurus kota kita karna hampir semua penduduknya gemar menangis”, lanjut yang lainnya.
“Rumah makan itu tak layak lagi di sebut rumah makan, karna sering terjadi perkelahian disana”
“Yah, Rumah makan itu lebih layak di sebut rumah jagal. Atau sasana tinju. Benar-benar biadab”. Sambut yang lain mengiyakan.
Informasi yang sampai tak cukup itu ternyata telah membuat kuping gubernur Landa menjadi panas. Amarah bergejolak didada sang gubernur. Tak disangkanya kejadian seperti itu terjadi di daerah tempat ia pimpin selama bertahun-tahun ini. Kepopuleran Tumbawada terasa sangat mengancam kedudukannya sebagai seorang gubernur. Orang-orang lebih mengenal Tumbawada sang tukang masak dari pada dirinya. Percakapan singkat dengan Surnawida tukang pukulnya adalah puncak dari segala keamarahannya. Malam itu juga tampak Surnawida keluar dari rumah makan Tumbawada sambil membopong seseorang dipangkuannya. Tumbawada berhasil dipukul dengan telak sampai pingsan dan dibawa kepenjara di gubernuran.
Keesokannya kehebohan terjadi dirumah makan itu ketika pegawai-pegawai menceritakan bahwa Tumabawada telah di culik oleh seseorang malam tadi. Sehingga terpaksa rumah makan kembali ditutup. Berita ini sangat mengejutkan para pengunjung. Tampak di seluruh pelosok kota orang-orang membiicarakan hal tersebut.
Gubernur Landa sedang bekerja seperti biasanya ketika datang sepucuk surat yang ternyata berasal dari kerajaan. Isinya sangat singkat sekali “benarkah di daerah mu orang-orang menangis hanya karna semangko bubur?”. Begitu isi surat tersebut. Tapi surat itu ditanda tangani langsung oleh sang raja. Gubernur Landa seperti kebakaran jenggot. Mukanya tampak pucat sekali. Tangannya tak henti-hentinya bergetar menggenggam surat singkat tersebut. Dengan sepucuk surat genggam balasan kepada sang raja, Gubernur Landa telah bertekat membereskan masalah tersebut secepatnya. “Mohon beribu ampun baginda, berita tersebut tak salah adanya. Akan tetapi dengan secepatnya akan segera saya bereskan”, begitulah bunyi surat tersebut. Setelah memberikan surat balasan tersebut Ia lalu berteriak memanggil Surnawida masuk kedalam kantornya.
Tak sampai dua hari setelah itu tampak rombongan kerajaan datang, sangat lengkap berikut punggawa-punggawa kerajaan beserta prajurit-prajuritnya. Kali ini sang Raja berkernan datang sendiri kedaerah tersebut, hal ini tentu saja membuat halaman yang tak seberapa luas itu langsung menjadi penuh sesak. Tampak Gubernur Landa sendiri berlari-lari tergopoh-gopoh menyambut sang Raja di jalan menuju pintu masuk. Mukanya sangat pucat sekali seakan-akan tak ada darah yang mengalir ke sana.
Bumi kemudian seakan-akan berputar sangat kencang ketika Landa mendengar suara Raja. “hey Landa, Aku sangat penasaran sekali ingin mencoba bubur air mata itu”, kata Raja tersebut dengan lembut.
“hah?” Landa benar-benar tak pernah menyangka bahwa kata-kata seperti itu yang akan keluar dari mulut sang raja.
“yah Tuhan apa yang harus kulakukan, aku tak mampu menggali kuburan menghidupkan kembali orang yang telah kubunuh tapi malah tersenyum gembira itu” pikirnya dalam hati tak henti.
*tamat
huhuhu themes baru, thx yah idola ku yang sudah mau mengoprek themes ini jadi lebih nyaman dan keren.
Tags: Cerita, fun, keras, Manusia, preman
Filed under chiffonier | 16 Comments »
Asam urat
Posted on June 16th, 2008

Asam urat atau nama lainnya yaitu arthritis gout adalah penyakit yang sudah ada sejak jaman dahulu kala, untuk waktu yang telah lama berlalu itu penyakit ini sering disebut sebagai penyakit raja-raja karna kegemeran mereka mengkonsumsi makanan enak-enak. Saya bukanlah seorang raja tapi kegemaran akan mengkonsumsi makan-makanan enak telah membuat saya harus menerima penyakit para raja ini. Sebenarnya penyakit ini di timbulkan oleh zat buangan purin dari dalam tubuh telah melebihi dari kadar normal sehingga menyebar ke dalam rongga sendi-sendi sehingga menyebabkan peradangan akut/terjadi gout. Penyakit ini selalu menyerang persendian tumit kaki saya, kalau sudah mulai sakit maka daerah di sekitar mata kaki itu akan tampak merah, mengilat, bengkak, disertai dengan rasa nyeri yang sangat hebat. Saking hebatnya membuat setiap langkah menjadi berat dan sakit. Persendian sangat sulit sekali untuk digerakkan.
Serangan ini biasanya hanya timbul sebentar, setelah meminum obat biasanya besoknya sudah hilang dan saya kembali beraktifitas seperti biasanya. Tapi kali ini doi sedikit membandel sehingga saya harus tetap merasakannya untuk beberapa hari, walaupun sudah tidak terlalu sakit tapi masih berasa kalau di bawa jalan sehingga menimbulkan rasa ngilu di dekat persendian. Hal ini lalu membuat saya memutuskan untuk memeriksakan darah ke lab. Paramitha Lab kemudian menjadi pilihan saya untuk memeriksakan darah.
Kadar normal untuk laki-laki menurut Lab ini berkisar diantara 3.5 hingga 7.2 dan diharapkan untuk tetap stabil di sekitaran angka 5. Pemeriksaan ini sedikit memakan waktu karna memang banyak yang datang ke sana, akhirnya saya terpaksa untuk datang kembali besoknya untuk mendapatkan hasil lab tersebut. Esoknya setelah menerima hasil dari lab saya dapat mengetahui kalau kadar URIC ACID (purin) yang ada di tubuh saya mencapai angka 10.6 sebuah prestasi yang tidak terlalu membanggakan.
Dokter yang ada di sana bersedia sedikit meluangkan waktunya untuk saya berkonsultasi, doi lalu menganjurkan kepada saya untuk tidak dulu buru-buru ke dokter untuk mengkonsumsi obat-obatan untuk mengurangi kadar asam urat itu. Dia lebih menganjurkan ke saya untuk lebih dahulu menjalani diet. Mengurangi kadar purin di dalam darah saya dengan menjaga pola makan. Dan lebih dianjurkan lagi untuk dapat mengurangi bobot tubuh saya yang sudah makin bengkak ini.
Lebih lanjut dokter ini lalu menyarankan kepada saya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa jenis makanan yang mengandung purin tinggi (>(150-800 mg/100 gram) seperti:
Segala macam jenis jeroan dan makanan-makanan laut seperti udang, cumi-cumi, kerang dan makanan-makanan kaleng termasuk sarden dan kornet, yang merupakan semua makanan-makanan favorite saya huhuhu. Doi juga menganjurkan saya untuk tidak mengkonsumsi alkohol suatu hal yang tidak berat karna memang sudah lebih dari 7 tahun saya tidak lagi pernah mengkonsumsinya.
Dokter itu lalu menganjurkan untuk membatasi mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar purin sedang (50-150 mg/100 gram) jika serangan nyeri pada persendian datang. Makanan-makanan itu dapat di temui dalam:
Kerang-kerangan, segala macam ikan yang termasuk kedalam golongan atas, daging sapi, kacang-kacangan , bayam, kangkung, buncis, tauge, ada beberapa jenis sayuran lain yang dia sebutkan tapi tak mampu saya ingat lagi.
Untuk melanjutkan hidup sehat itu ada beberapa makanan yang aman untuk saya konsumsi yaitu makanan yang memiliki kandungan purin rendah (<50-150 mg/100 gram)
Jenis makan yang dimaksudkan oleh dokter ini seperti keju, susu, telur, untuk memudahkan purin terbuang melalui urin saya juga dianjurkan untuk meminum banyak air dan buah-buahan yang banyak mengandung air seperti semangka, dan jus buah-buahan lainnya. Untuk buah-buahan seperti durian dan alpukat juga sebaiknya dihindari karna dapat diekstrak menjadi alkohol di dalam tubuh dan juga membuat kadar lemak menjadi tinggi dan akan menambah berat badan.
Untuk keterangan lebih menjelas mengenai asam urat ini saya juga telah membaca beberapa artikel di dunia maya ini, beberapa diantaranya adalah tulisan yang kemudian saya contekuntuk membuat tulisan
ini. Huhuhuhu sekali lagi hidup mencontek.
Tags: Bodoh, Cerita, Manusia, manusia purba, Purba
Filed under chiffonier | 23 Comments »
Masril
Posted on June 12th, 2008
Masril tak seperti layaknya laki-laki kebanyakan, ada sedikit kekurangan yang dimilikinya yaitu kepandaiaannya yang di bawah rata-rata. Bahkan untuk naik ke kelas 3 sd saja ia tak sanggup. Beberapa kali ia mencobanya tapi selalu saja ia tetap tak dapat meyakinkan gurunya untuk dapat meaikkan kelasnya. Sampai akhirnya ia cukup cerdas untuk menghentikan upayanya itu dan berhenti sekolah.
Sewaktu kecil ia memang sering kali dikerjai oleh teman-teman sebayanya dan selalu mengolok-oloknya dengan memanggilnya celeng. Celeng adalah sebutan yang selalu di berikan kepadanya karna memiliki mata yang hampir mirip dengan Herman ngantuk. Walaupun ia di juluki mirip dengan artis tapi ia tak bangga karna sebutan itu hampir lebih memiliki makna cemooh ketimbang memuji dan ia tak perlu punya iq yang tinggi untuk mengerti itu.
Memang sedikit menganggu pada awal-awalnya tapi teman-temannya itu tak pernah lupa memanggilnya untuk bermain setiap harinya sehingga ia tak perlu merasa sendiri. Dengan kepintaran yang dibawah rata-rata itu dengan sendirinya Masril tak dapat memiliki pekerjaan yang dapat dibanggakan. Ia berberapa kali mencoba mencari pekerjaan namun ternyata menyap jalanan tampaknya satu-satunya yang mau menerimanya. Lewat beberapa kenalan orang tua dan saudara akhirnya Muslim dapat menjadi cleaning servis di sebuah Bank di Pekanbaru. Cukup lama dia bekerja di sana sampai akhirnya boss nya Pindah ke Bank Indonesia. Bossnya yang cukup sering ia bantu untuk membeli rokok dan mencuci mobilnya itu menawarkan ia untuk pindah kerumahnya. Ia tak begitu mengerti kenapa bossnya itu lalu mengatakan bahwa ia sekarang adalah salah satu anak dari beliau. Bossnya itu sangat baik kepadanya beberapa kali ia sudah membelikan makan siang untuknya dan ia lalu menyetujui untuk tinggal di rumah bossnya itu di jalan Rongowarsito salah satu komplek elit di kota itu.
Tak banyak yang berubah di hidupnya setelah ia tinggal di rumah bossnya itu, ia menempati ruangan di belakang garasi mobil yang terletak di pinggir rumah. Disamping pekerjaannya menyapu dan membersihkan kantor bank tempatnya bekerja ia tak lupa untuk selalu membersihkan pekarangan rumah bossnya itu dan merawat tanaman-tanamannya. Walaupun beberapa kali bossnya telah mengusulkan kepadanya untuk berhenti kerja di bank itu tapi ia tetap menolaknya. Sampai akhirnya bossnya itupun membiarkan Masril. Di depan halaman rumah tersebut di hiasi taman yang memiliki banyak bunga dan tanaman salah satu yang mencolok adalah pohon besar yag ada didekat pagar. Pohon itu sangat rindang dan banyak rantingnya. Musril banyak menghabiskan waktunya disana menyapu daun-daun yang jatuh ke tanah. Setiap hari daun-daun selalu memenuhi pekarangan rumah sehingga kotor jika tidak di bersihkan.
Suatu hari tetangga sebelah mengajak Masril untuk bermain di dekat lapangan tenis di komplek perumahan itu, hanya duduk-duduk saja ternyata mengobrol ngalor ngidul tapi tak terasa waktu telah menunjukkan larut malam dan ia baru menyadari kalau sore tadi tak sempat menyapu halaman. Ia lalu bergegas untuk pulang karna ia sangat takut sekali bossnya marah. Sesampainya di rumah ternyata rumahnya telah sepi orang-orang sudah tertidur ia dapat melihat lampu di ruang tamu telah mati dari luar pagar. Dan pintu pagarpun telah di tutup rapi. Walaupun ia telah diberi kunci pagar tapi ia merasa enggan untuk membuka pagar karna takut bunyinya akan membangunkan orang rumah. Lalu dengan hati-hati iapun lalu memanjat pagar. Belum sampai kakinya ke tanah halaman rumahnya terdengar suara seorang perempuan menegur.
“Dasar Pemalas, pulang malam manjat pagar pula”. Musril sedikit terkejut mendengar teguran itu. Ternyata teguran itu berasal dari atas pohon rindang. Seorang wanita berambut sebahu seumuran ia sedang duduk di ranting sambil menatapnya tajam.
“eh, ngapa pulak kau? Rumah-rumah aku pun. Mau pulang malam pulang pagi kenapa pula kau ribut?” sahutnya ngotot, ia memang sedikit kesal karna wanita itu kurang ajar sekali memanggilnya pemalas.
“eh, jangan sok yah…. aku sudah tinggal di sini jauh sebelum kau tinggal disini. Liat daun-daun itu, kau tak menyapunya hari ini jadi kenapa pula kau tak mau di sebut pemalas”, sahutnya seperti bisa membaca pikiran Masril.
Masril lalu sedikit sadar bahwa siapa sesungguhnya wanita itu, sedikit banyak dia memang mendengar para tetangga menceritakan perempuan itu. Mungkin ini orang yang diceritakan itu pikirnya.
“Pohon itu memang tempat tinggal kau, tapi rumah ini tempat tinggal aku. Besok aku sapu daun-daun ini, aku mau masuk sekarang nanti bangun pula bapak gara-gara kau”, sahut Masril sambil berlalu ke kamarnya.
Entah karna kecapean atau karna malam yang sudha larut sesampainya di kamar Masril langsung tertidur. Pagi-pagi sekali ia bangun dan langsung keluar kamar dan membersihkan halaman ia takut bossnya bangun dan pergi kerja melihat halaman yang kotor karna tak sempat ia bersihkan hari sebelumnya. Sesampainya di dekat pohon besar itu Masril lalu melihat keatas ternyata wanita tadi malam sudah tak ada lagi disana. Iapun lalu kembali membersihkan halaman itu. Matahari telah mulai menerangi halaman rumah dan bossnya telah siap-siap hendak pergi kerja. Iapun lalu menghampiri bossnya itu.
“Pak maaf saya tadi malam pulang telat”, katanya sambil tertunduk.
“ya sudah tak apa-apa, lain kali kalau mau pulang malam kasih tau”. Sahut bossnya datar.
“baik pak”. Jawab Masril sambil tetap merasa bersalah.
Hari itu ia langsung pulang dan tak mampir-mampir lagi sehabis pulang kerja. Pikirannya masih kepada kejadian tadi malam, wanita yang tinggal di pohon rindang depan rumahnya itu masih berberkas di ingatannya. Sesampainya dirumah ia langsung menyapu halaman sambil sesekali melirik keatas pohon, tapi tak dapat ia melihat wanita itu ada disana. Sehabis makan malam tak seperti biasanya ia tak membantu mbok mencuci piring melainkan langsung masuk kamar dan menonton TV bossnya memang memberikannya TV 14″ untuknya sendiri di dalam kamarnya, jadi ia tak perlu malu hendak menonton TV bersama dengan boss dan istrinya itu. Malam itu tak seperti malam biasanya udara terasa sangat dingin sekali beberapa kali ia terkantuk-kantuk dan akhirnya Masril tak mampu melawan kantuknya dan tertidur sambil lupa mamtikan TV. Cukup lama ia tertidur sampai ia terbangun karna ketukan-ketukan di jendela kamarnya.
“hey, kalau tidur Tvnya jangan lupa dimatiin”, sahut suara orang dari luar.
Mendengar suara itu Masril langsung bangun dari tempat tidurnya dan mematikan TV yang tadi ia lupa matikan. Lalu ia bergegas melihat keluar jendela siapa yang telah membangunkan dan memarahinya tadi. Tapi tak tampak seorang pun berdiri diluar kamarnya. Iapun lalu kembali menutup jendela kamarnya karna udara diluar sangat dingin sekali. Belum sampai 5 menit ia mematikan lampu untuk meneruskan tidurnya lagi. Terdengar bunyi jendela seperti di ketuk-ketuk dari luar.
“hey kalau mau masuk, masuk aja.. nggak usah nganggu orang tidur”, entah dari mana ide itu timbul dari kepalanya tapi yang jelas kata-kata itu begitu saja meluncur dari mulutnya.
“kenapa kau tak takut sama aku?” terdengar suara wanita dari sebelah tempat tidurnya. Masril lalu menoleh kearah suara itu ternyata wanita yang tinggal di pohon rindang itu.
“kenapa aku harus takut? Kau tak seram pun”. Jawabnya polos.
“malam ini aku ngantuk sekali, besok aku harus ngantar anak bapak yang paling kecil sekolah naik sepeda. Beberapa hari ini dia tak mau sekolah kalau bukan aku yang ngantar. Jadi kalau mau ngobrol besok aja kau datang lagi, ya?” lanjut Masril dengan serius.
Tak terdengar perempuan itu menjawab sepatah katapun namun ia langsung membalikkan badan dan menghilang di balik dinding kamarnya. Ada sedikit perasaan seram di diri Masril tapi rasa takutnya kepada bossnya lebih menakutkannya ketimbang mengurusi wanita itu. Lalu Masril kembali memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.
Malam esoknya perempuan itu ternyata menagih janji Masril untuk mengobrol bersamanya. Kali ini perempuan itu tak menunggu Masril dulu untuk mempersilahkan masuk kesalam kamarnya terlebih dahulu. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di samping kursi ketika Masril sedang asyik menonton TV. Masril sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba itu. Ia lalu bergegas menutup pintu kamar takut bossnya memergokinya memasukkan wanita ke dalam kamarnya. Entah bagai mana mulanya tiba-tiba mereka sudha terlibat percakapan yang panjang. Cukup lama mereka berbincang-bincang ternyata wanita itu dulu meninggal di tempat itu di bunuh oleh perampok dan kemudian di buang di tempat itu, dulu rumah tempatnya tinggal ini adalah tempat yang sepi dan banyak di tumbuhi pohon-pohon. Entah kenapa ada sedikit nyaman berbicara dengan wanita itu, bentuknya tak seperti hantu-hantu yang dilihatnya di televisi bentuknya tak ubahnya seperti manusia biasa dan jauh dari kesan menyeramkan.
Hubungan Masril dengan wanita itu berlanjut hingga berbulan-bulan, tak banyak yang mereka lakukan hanya mengobrol dan berbincang-bincang hingga berjam-jam. Mereka mengobrol apa saja dan kadang-kadang wanitu itu menemani Masril ketika di suruh oleh bossnya untuk membeli sesuatu ke warung di ujung jalan. Pernah satu ketika ketika Masril sedang mengayuh sepedanya hendak pulang kerumahnya setelah membeli obat nyamuk dari ujung jalan ternyata ada orang yang terbang mengikutinya, orang itu ia katakan terbang karna kakinya tak napak ke tanah ia tampak seperti mencoba mengatakan sesuat kepada Masril tapi bentuk mukanya sangat menyeramkan matanya ilang satu dan dari mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Masril lalu mamacu sepedanya sekencang-kencangnya dan tak lagi menoleh kiri kanan. Sesampainya di rumah ia lalu meletakkan obat nyamuk dan langsung tidur sambil memegang Al-qur’an. Esok harinya barulah ia tau ternyata laki-laki itu adalah teman wanita yang tinggal di pohon dan hendak berteman dengannya kata wanita itu kepada Masril.
“aku tak mau, mukanya seram aku tak mau. Cukup kau ajalah, tak usah kau kenalkan aku ma kawan-kawan kau. Takut aku” kata Masril kepada wanita itu.
Tak terasa sudah lebih dari 2 tahun ia tinggal di rumah itu. Pagi tadi bossnya mengajaknya untuk sarapan bersama di meja makan. Ternyat bossnya tu mendapat tugas untuk pindah ke Malang. Dan seluruh keluarga akan ikut serta. Masril di minta untuk ikut bersama mereka ke Malang.
“maaf pak walaupun saya sudah besar tapi saya masih punya orang tua, jadi saya harus meminta ijin terleih dahulu kepada mereka”, jawab Masril mengenai ajakan tersebut.
“baiklah, tapi tolong kau kasih jawabannya secepatnya yah!” jawab boss masril. “minggu depan kita sudah pindah, jadi saya harus memesan tiket untuk kau jauh hari”. Lanjutnya tak lama berselang.
Siangnya Masril lalu menyambangi orangtuanya untuk meminta izin. Entah sudha beberapa kali Masril membujuk dan mengemukakan alasan tapi ternyata orang tuanya tetap dengan pendiriannya kalau ia tak boleh ikut pergi ke Malang.
“Ril, malang tu jauh. Kami mungkin tak lagi bisa nengok kau. Kalau kau tak sayang ma orang tuamu ini kau pergilah, tinggalkan kami”. Kata-kata pamungkas itu akhirnya keluar juga dari mulut bapak kandungnya itu.
Setelah memberitahukan hasil pembicaraannya dengan orang tua kandungnya itu kepada bossnya, dengan berat hati bossnya ternyata merelakan Masril untuk tidak ikut ke Malang. Malam itu adalah malam perpisahan mereka merayakannya dengan makan-makan di restoran mahal. Tak terasa waktu yang tak dinantikan itu tiba, kedua anak boss yang biasa bermain dengannya itu tak henti-hentinya menangis mengetahui Masril tak ikut pindah ke Malang. Keduanya cuma mau tidur sewaktu Masril janji untuk ikut tidur di kamar mereka malam itu. Namun setelah kedua anak itu tidur Masrilpun kembali kekamarnya. Setelah selesai memeriksa barang-barangnya Masril pun keluar kamar dan pergi ke pohon rindang di depan rumah. Wanita temannya itu telah duduk di salah satu ranting dengan muka yang lesu. Masril hanya duduk diam di bawah pohon tampa banyak bicara sambil mengisap rokok surya rokok kegemarannya. Wanita itupun tampak tak seperti hendak memulai pembicaraan juga. Setelah dua batang rokok dihabiskannya Masril lalu berdiri dan membersihkan celananya bekas ia duduk tadi.
“aku pindah besok, kau mau ikut aku apa tinggal di sini?” terdengar kalimat itu keluar dari mulut Masril. “aku ikut”. Tak banyak ternyata jawaban yang diberikan oleh perempuan itu.
“ya sudah”, lanjut Masril tak kalah pelitnya sambil berjalan ke kamarnya.
Pagi-pagi sekali Masril sudah bangun dan membantu bossnya untuk pindahan, akhirnya ia hanya dapat mengeluarkan airmata melihat bossnya pergi meninggalkan rumah dengan keluarganya. Ia tak diperbolehkan untuk mengantar ke bandara karna dua anak bossnya tak henti-hentinya menangis bila melihatnya. Akhirnya Masril disuruh untuk pergi kerumah sebelah dan melihat mereka pergi dari jauh. Tak terasa air mata mengalir di pipinya ketika ia mengambil tasnya dan menitipkan kunci ke satpam rumah. Masril sudah hendak mengayuh sepedanya ketika ada suara di dekatnya.
“mau kemana kita?” ternyata suara wanita penunggu pohonrindang.
“eh, kenapa aku bisa liat kau siang-siang?” Masril malah balik bertanya.
“entahlah, manaku tahu?” lanjut wanita itu.
“ya sudah, ikut ajalah”, jawab Masril. Semenjak itu kemanapun Masril pergi wantia itu selalu mengikutinya.
Masril ternyata di minta untuk tinggal di rumah adik bapaknya yang sedang sakit kena stroke. Sudah 5 tahun pamannya itu menderita sakit dan tak dapat turun dari tempat tidurnya. Keluarga itu memang sudah akrab dengan dirinya dari dulu bahkan ada salah satudari anak pamannya itu sepanteran dengan dia dan menjadi teman mainnya dari dulu. Suatu sore pamannya itu tak disangka menegurnya sewaktu ia memijit kaki beliau.
“hey ril, siapa cewe kau?” kata beliau.
“tak ada Paklung”, jawabnya sopan.
“alah tak usahlah kau bohong ma Paklung”, jawab pamannya itu mendesak.
“tak ada paklung, kami Cuma bekawan”, lanjut Masril sedikit takut.
“ya sudah kalau gitu, tapi tak baik bekawan cam tu”, lanjutnya.
Masril hanya tertunduk, ia tak menyangka pamannyaitu tau ia telah berkawan dengan makhluk halus. Malamnya ia termenung sendiri di kamarnya, kata-kata pamannya masih terngiang di telinganya. Tak lama kemudian wanita temannya itupun muncul di samping kamarnya dengan muka yang lebih pucat dari biasanya.
“mau kah kau kawin sama aku?” tanya wanita itu.
“ah cam mana kauni, kau dah mati aku masih hidup, cam mana pulak kita mau kawin?” jawab Masril dengan serius.
“kalau kau mau kau bisa hidup dengan ku di duniaku”, kata wanita itu tak kalah seriusnya.
“ah, aku memang bodoh, tapi sebodoh itu. Aku masih mau hidup”, jawab masril sedikit takut.
“aku rasa paman aku tu betul, tak baik hubungan macamni. Kalau kau betul sayang ma aku mau tak kau melepas aku?” tanya masril kemudian. Wanita itu hanya membalikkan bandan lalu pergi menembus dinding. Untuk beberapa hari lamanya Masril kemudian tak lagi melihat wanita itu.
“paklung, saya dah putuskan kawan saya tuh semalam”, kata masril kepada pamannya ketika ia sedang berduaan sore itu.
“hmmm, baguslah”, jawab pamannya dengan pelan.
Dapat terlihat sedikit wajah lega di muka pamannya itu. Hanya segitu saja percakapan mereka berdua waktu itu. Tapi entah bagaimana ceritanya keesokan harinya orang tua Masril telah ada di rumah itu dengan seorang perempuan. Tak cantik memang malah kakinya sedikit pincang namun ce itu memakai kerudung. Masril diminta berkenalan dengan wanita itu. Dan ternyata orang tuanya bermaksud menjodohkan dirinya dengan wanita itu.
“Pak, apa dia tau dengan keadaan diriku?” tanya Masril kepada orang tuanya.
“iya, dia dah aku kasih tau”, jawab orang tuanya.
“apa kau tak malu kawin dengan orang yang tak lulus SD, dan kerjanya Cuma nyapu dna bersih-bersih?”, tanya masril kepada wanita itu.
“aku tak keberatan, kalau kau tak keberatan dengan kakiku”, jawab ce itu.
“ya sudah kalau gitu terserah, tapi besok-besok jangan nyesal ndak?” lanjut masril.
“tak kan” jawab ce itu tegas.
Orang tua Masril tampak tersenyum lega, dan pamannya yang juga ada di situ juga tampak tersenyum puas.
Ternyata malam harinya wanita penunggu pohon rindang itu datang lagi dengan muka yang sedikit marah.
“kenapa kau menikah dengan orang lain?” katanya ketus. ”
aku tak punya pilihan lain, dunia kita berbeda. Tentu kau lebih tau itu”, jawab Masril.
“sudahlah, relakan saja aku. Aku hubungan ini kita sudahi saja”, lanjut Masril.
Wanita itu ternyata hanya terdiam dan membalikkan badan lalu hilang di balik tembok. Semenjak itu Masril tak pernah lagi melihat wanita itu. Sekarang Masril dikaruniai seorang anak laki-laki yang mungil dan tampak aktif. Masril melalui beberapa koneksi ternyata bisa menjadi PNS setelah mengikuti ujian persamaan. Untuk mencukui kebutuhan hidupnya Masril berternak ikan patin dan dipercaya menjalankan mesin photocopy di kantor tempatnya bekerja.
*Masril adalah sepupuku, Cerita dia atas di tuturkan kembali semirip mungkin dengan cerita yang pernah ia ceritakan kepada saya.
Tags: Bodoh, Cerita, fun, Manusia
Filed under chiffonier | 9 Comments »
Jalan Keras
Posted on June 10th, 2008
Muslim adalah seorang preman yang memegang teguh pendiriannya sebagai seorang preman sejati. Sering kali dia mengatakan pada anak buahnya bahwa peraturan dan hukum hanya ada di bibir saja, yang terpenting adalah prinsip dan mental. Muslim tak pernah menyelesaikan sekolahnya, terakhir ia menduduki bangku sekolah waktu itu namanya SR. Umurnya sekarang sudah mendekati angka 60 tak ada yang tau berapa umur aslinya, beberapa codet di pipi dan pundaknya hanya mengambarkan keangkeran dan lamanya ia hidup di dunia gelap.
Dengan umurnya yang tak sedikit itu sudah banyak yang ia lakukan, sejak kecil ia tak pernah meminta uang ke orang tuanya ia terlahir untuk dibesarkan di jalan. Bagi kawan seumuran muslim adalah seorang laki-laki sejati karna tak pernah membuat onar dikampungnya sendiri, orang-rang kampung selalu menganggapnya adalah seorang yang baik hati dan gemar menolong tetangga. Tak sedikit orang-orang tua yang diberinya uang dan tak sedikit pula anak-anak yang sudah disekolahkannya. Dia mengaku sudah menikahkan lebih dari 20 orang di kampungnya. Beberapa kali perang saudara di kampungnya telah berhasil di hindarkan karna campur tangannya, tak sedikit kebaikan yang sudah dibuatnya untuk kampung. Walaupun telah banya terdengar desas-desus bahwa tempat prostitusi di pinggiran kampung adalah miliknya dan beberapa kejadian perampokan truck yang melintasi jalan besar kerap dikait-kaitkan dengan dirinya orang-orang kampung selalu menutup-nutupi keberadaan muslim waktu polisi mencari informasi mengenai dirinya.
Entah bagaimana mulanya Muslim menjadi sangat rajin pergi ke mesjid, badannya yang tegap dan suaranya yang serak itu masih dapat menyembunyikan usianya sehingga penduduk kampung tetap saja terkejut melihat Muslim rajin sekali pergi kemesjid untuk sholat berjamaah. Anak-anak yang sering bermain di mesjid menjadi sangat ketakutan dan tak ada yang berani membuat gaduh sewaktu ia berada di mesjid. Hal ini dipicu satu kejadian ketika Muslim sedang mengikuti sholat Jum’at ada segerombolan pemuda tanggung asyik bercakap-cakap dan tertawa ketika khotib sedang berkotbah. Muslim tampak mendekati anak-anak muda itu dan membawa salah seorang pemuda yang paling besar suaranya ke toilet tempat mengambil wudhu. Tak tampak bekas pukulan ataupun sikssaan di muka dan tubuh anak itu, tapi semenjak itu tak nampak lagi gerombolan anak muda itu datang lagi ke mesjid duduk berkelompok.
Penduduk kampung mulai melihat muslim rajin mengikuti pengajian di mesjid, dan ia selalu pulang terakhir bersamaan dengan pengurus mesjid menutup pintu mesjid. Muslim telah menjadi sosok yang alim dan di segani oleh orang kampung dan bukan hanya sekedar takut. Para ustad serta orang-orang tua kampung selalu tampak menemani beliau bercakap-cakap sehabis sholat berjamaah, wajah mereka tak tampak sedang belajar mengaji tapi lebih tampak seperti sedang berdebat. Kening Muslim sudah mulai menghitam memberikan tanda kedalaman ilmu dan pendiriannya dalam beragama. Suatu hari terjadi perdebatan yang sengit diantara mereka dan diakhiri dengan keluarnya Muslim dari mesjid dengan muka yang keruh dan dada yang naik turun. Setelah itu penduduk desa mulai jarang melihat Muslim lagi, rumahnya juga tak lagi sering terlihat terbuka. Sejak istrinya meninggal, anak-anak muslim yang sudah besar-besar dan tinggal di kota. Muslim hanya tinggal sendiri ditemani pembantu.
Entah kenapa penduduk kampung mulai mendesas-desuskan kembali nama muslim, semua bermula dari pembakaran gereja dan di kampung tersebut. Pembakaran gereja itu berlanjut ke warung-warung hingga perternakan orang-orang tionghua. Hanya membutuhkan tak lebih dari 6 bulan tak tampak lagi penduduk desa yang beraliran agama lain selain islam yang ada di desa tersebut. Bahkan ada rumah yang baru dibangun dan belum ditumpangi tapi keesokan harinya sudah terbakar menjadi debu. Tak ada satupun orang yang dapat menjawab siapa dalang dari semua kericuhan itu atau yang lebih tepatnya berani menjawab.
Beberapa bulan kemudian terlihat ramai kegiatan di sebelah rumah Muslim, banyak orang hillir mudik dan truck-truck pasir dan batu berkeliaran di sana. Rumah bekas kebakaran telah di tertutup oleh pagar seng. Tak butuh waktu lama sebuah mesjid telah berdiri disana dengan megah. Undangan di sebarkan ke seluruh pelosok kampung untuk sholat magrib berjamaah. Pukul 6 sore mesjid telah ramai didatangi oleh penduduk dari pelosok kampung. Acara akan dimulai dengan azan magrib dan sholat berjamaah yang langsung dipimpin oleh Muslim sebagai Imam. Acara kemudian akan dilanjutkan dengan makan-makan sedekahan dan juga sukuran mesjid. Adzan berkumandang ke seantero kampung, tampak pria berbaju gelap berjaga-jaga di sekitar mesjid dan menyuruh orang yang hendak mengikuti acara bergegas masuk kedalam mesjid. Banyak sekali orang yang sholat berjamaah ketika itu melebihi jamaah yang mengikuti sholat tarawih minggu pertama di bulan Ramadhan. Azan telah selesai berkumandang bersamaan dengan itu hujan turus dengan sangat derasnya sehingga tak ada satupun orang yang berada di luar mesjid dan tak mengikuti sholat magrib berjamaah. Muslim dengan kupiah putih dan sorban putihnya telah berada di tempat imam mengumandangkan takbir. Suara muslim yang serak dan keras itu dapat mengimbangi suara petir yang menggelegar di luar. Air hujan yang turun sangat dengat deras juga tak terlalu membawa pengaruh yang hebat pada kekhusukan jamaah, diawali sebuah petir yang sangat keras sehingga membuat kaca-kaca mesjid ikut bergetar. Tiba-tiba terdengar sebuah benda pecah diikuti bunyi tubuh yang roboh kelantai. Ternyata lampu kristal yang berharga puluhan juta itu telah jatuh dan menimpa Muslim yang sedang memimpin sholat berjamaah di mihrab. Lampu itu jatuh tepat mengenai kepalanya Muslim roboh dengan kepala dihimpit oleh batu kristal.
Tags: Cerita, keras, Kolot, Manusia, manusia purba, preman, Puritan, tobat
Filed under chiffonier | 6 Comments »




