Miss u my Lord
Posted on July 19th, 2008

The Boatman
Artist: Nitin Sawhney and Jayanta Bose
Poroshe kaar aador mekhe
Bheshe elam shaagor theke
Baalir tote notun disha
Aandhar theke aaloye mesha
Batash bhora bhalobasha
Ke kandaari…
Boichho tori…
Aaral theke…?
Pada sentuhan siapa aku punya, mencoreng dengan cinta
yang diapungkan oleh laut
Dengan arah baru, pada pantai berpasir ini
Ketika kegelapan bergabung dengan cahaya
Dan angin yang diisi dengan cinta
Siapakah engkau, Oh Nahkoda
mengendalikan perahu ku…
bersembunyi di Sayap-Sayap…?
Tags: Kolot, Lagu, Nitin Sawhney
Filed under Halitosis | 6 Comments »
Jalan Keras
Posted on June 10th, 2008
Muslim adalah seorang preman yang memegang teguh pendiriannya sebagai seorang preman sejati. Sering kali dia mengatakan pada anak buahnya bahwa peraturan dan hukum hanya ada di bibir saja, yang terpenting adalah prinsip dan mental. Muslim tak pernah menyelesaikan sekolahnya, terakhir ia menduduki bangku sekolah waktu itu namanya SR. Umurnya sekarang sudah mendekati angka 60 tak ada yang tau berapa umur aslinya, beberapa codet di pipi dan pundaknya hanya mengambarkan keangkeran dan lamanya ia hidup di dunia gelap.
Dengan umurnya yang tak sedikit itu sudah banyak yang ia lakukan, sejak kecil ia tak pernah meminta uang ke orang tuanya ia terlahir untuk dibesarkan di jalan. Bagi kawan seumuran muslim adalah seorang laki-laki sejati karna tak pernah membuat onar dikampungnya sendiri, orang-rang kampung selalu menganggapnya adalah seorang yang baik hati dan gemar menolong tetangga. Tak sedikit orang-orang tua yang diberinya uang dan tak sedikit pula anak-anak yang sudah disekolahkannya. Dia mengaku sudah menikahkan lebih dari 20 orang di kampungnya. Beberapa kali perang saudara di kampungnya telah berhasil di hindarkan karna campur tangannya, tak sedikit kebaikan yang sudah dibuatnya untuk kampung. Walaupun telah banya terdengar desas-desus bahwa tempat prostitusi di pinggiran kampung adalah miliknya dan beberapa kejadian perampokan truck yang melintasi jalan besar kerap dikait-kaitkan dengan dirinya orang-orang kampung selalu menutup-nutupi keberadaan muslim waktu polisi mencari informasi mengenai dirinya.
Entah bagaimana mulanya Muslim menjadi sangat rajin pergi ke mesjid, badannya yang tegap dan suaranya yang serak itu masih dapat menyembunyikan usianya sehingga penduduk kampung tetap saja terkejut melihat Muslim rajin sekali pergi kemesjid untuk sholat berjamaah. Anak-anak yang sering bermain di mesjid menjadi sangat ketakutan dan tak ada yang berani membuat gaduh sewaktu ia berada di mesjid. Hal ini dipicu satu kejadian ketika Muslim sedang mengikuti sholat Jum’at ada segerombolan pemuda tanggung asyik bercakap-cakap dan tertawa ketika khotib sedang berkotbah. Muslim tampak mendekati anak-anak muda itu dan membawa salah seorang pemuda yang paling besar suaranya ke toilet tempat mengambil wudhu. Tak tampak bekas pukulan ataupun sikssaan di muka dan tubuh anak itu, tapi semenjak itu tak nampak lagi gerombolan anak muda itu datang lagi ke mesjid duduk berkelompok.
Penduduk kampung mulai melihat muslim rajin mengikuti pengajian di mesjid, dan ia selalu pulang terakhir bersamaan dengan pengurus mesjid menutup pintu mesjid. Muslim telah menjadi sosok yang alim dan di segani oleh orang kampung dan bukan hanya sekedar takut. Para ustad serta orang-orang tua kampung selalu tampak menemani beliau bercakap-cakap sehabis sholat berjamaah, wajah mereka tak tampak sedang belajar mengaji tapi lebih tampak seperti sedang berdebat. Kening Muslim sudah mulai menghitam memberikan tanda kedalaman ilmu dan pendiriannya dalam beragama. Suatu hari terjadi perdebatan yang sengit diantara mereka dan diakhiri dengan keluarnya Muslim dari mesjid dengan muka yang keruh dan dada yang naik turun. Setelah itu penduduk desa mulai jarang melihat Muslim lagi, rumahnya juga tak lagi sering terlihat terbuka. Sejak istrinya meninggal, anak-anak muslim yang sudah besar-besar dan tinggal di kota. Muslim hanya tinggal sendiri ditemani pembantu.
Entah kenapa penduduk kampung mulai mendesas-desuskan kembali nama muslim, semua bermula dari pembakaran gereja dan di kampung tersebut. Pembakaran gereja itu berlanjut ke warung-warung hingga perternakan orang-orang tionghua. Hanya membutuhkan tak lebih dari 6 bulan tak tampak lagi penduduk desa yang beraliran agama lain selain islam yang ada di desa tersebut. Bahkan ada rumah yang baru dibangun dan belum ditumpangi tapi keesokan harinya sudah terbakar menjadi debu. Tak ada satupun orang yang dapat menjawab siapa dalang dari semua kericuhan itu atau yang lebih tepatnya berani menjawab.
Beberapa bulan kemudian terlihat ramai kegiatan di sebelah rumah Muslim, banyak orang hillir mudik dan truck-truck pasir dan batu berkeliaran di sana. Rumah bekas kebakaran telah di tertutup oleh pagar seng. Tak butuh waktu lama sebuah mesjid telah berdiri disana dengan megah. Undangan di sebarkan ke seluruh pelosok kampung untuk sholat magrib berjamaah. Pukul 6 sore mesjid telah ramai didatangi oleh penduduk dari pelosok kampung. Acara akan dimulai dengan azan magrib dan sholat berjamaah yang langsung dipimpin oleh Muslim sebagai Imam. Acara kemudian akan dilanjutkan dengan makan-makan sedekahan dan juga sukuran mesjid. Adzan berkumandang ke seantero kampung, tampak pria berbaju gelap berjaga-jaga di sekitar mesjid dan menyuruh orang yang hendak mengikuti acara bergegas masuk kedalam mesjid. Banyak sekali orang yang sholat berjamaah ketika itu melebihi jamaah yang mengikuti sholat tarawih minggu pertama di bulan Ramadhan. Azan telah selesai berkumandang bersamaan dengan itu hujan turus dengan sangat derasnya sehingga tak ada satupun orang yang berada di luar mesjid dan tak mengikuti sholat magrib berjamaah. Muslim dengan kupiah putih dan sorban putihnya telah berada di tempat imam mengumandangkan takbir. Suara muslim yang serak dan keras itu dapat mengimbangi suara petir yang menggelegar di luar. Air hujan yang turun sangat dengat deras juga tak terlalu membawa pengaruh yang hebat pada kekhusukan jamaah, diawali sebuah petir yang sangat keras sehingga membuat kaca-kaca mesjid ikut bergetar. Tiba-tiba terdengar sebuah benda pecah diikuti bunyi tubuh yang roboh kelantai. Ternyata lampu kristal yang berharga puluhan juta itu telah jatuh dan menimpa Muslim yang sedang memimpin sholat berjamaah di mihrab. Lampu itu jatuh tepat mengenai kepalanya Muslim roboh dengan kepala dihimpit oleh batu kristal.
Tags: Cerita, keras, Kolot, Manusia, manusia purba, preman, Puritan, tobat
Filed under chiffonier | 6 Comments »
Anak Pak Ustat
Posted on March 7th, 2008
Tak seberapa banyak yang ku ingat tentang seorang ayah dari seseorang yang sangat berperan penting terhadap asal usulku ada di dunia ini. Sejak umur 1 tahun bapak sudah meninggalkanku dan ibu. Waktu itu bapak sedang duduk dipelaminan dengan seorang pegawai bank swasta ketika ibu datang mengunjungi dengna perut besarnya. Pesta itu hancur berantakan dan setahun setelah itu bapak tidak lagi tinggal di rumah. Kata ibu bapak marah-marah dan memaki maki ibu karna mukaku tak mirip dengannya. Kulitku putih sedangkan bapak hitam dan ibu hitam.
Sebenernya bapak tak benar-benar pergi meninggalkanku dan ibu. Biaya hidup kami selalu dicukupi olehnya. Tiap hari jum’at aku ingat ibu pergi ke mesjid kuning menemui bapak. Bapak akan memberikan beberapa rupiah kepada ibu setelah bubaran sholat jum’at. Mungkin bapak memberikan beberapa honor ceramah jum’atnya kepada ibu. Setelah besar dan sedikit berumur sekitar 10 tahunan. Aku menggantikan posisi ibu menerima uang dari bapak pada hari jum’at di mesjid itu. Suatu hari aku tak berhasil mendapatkan uang mingguan kami yang tak seberapa itu karna aku ketahuan tak mengikuti sembayang Jum’at.Ibu sedih sekali dan terpaksa mengutang ke warung untuk mendapatkan beras dan beberapa potong ikan asin. Sejak saat itu aku tak berani menggalkan sholat jum’at untuk beberapa waktu.
Tags: Bodoh, Cerita, Kolot, Manusia, Purba, Puritan
Filed under chiffonier | 31 Comments »
happy Valentine
Posted on February 13th, 2008
cihuyyyy
bisa valentinan ma mak.
kangen ih,
love u mom.
love u too Pekanbaru.
huhuhuhuhuhuhu
wat semua happy valentine juga yahhhhh
love You too
pict diambil dari designoftheday
Tags: galau, Kolot
Filed under chiffonier | 25 Comments »
Pancasila Sakti
Posted on February 13th, 2008
“Dengan berkat rahmat Allah”, demikian kita tuliskan pada Mukaddimah UUD 1945, kita bangsa indonesia telah mencapai kemerdekaan. Tanah air yang indah ini diakui sebagai anugrah dari Tuhan kepada kita. Lalu kita memutuskan untuk menerima pula Pancasila sebagai Dasar Negara. Pada kesempatan ini saya ingin mengatakan “saya menerima Pancasila sebab saya ini seorang Muslim”.
Sila pertama ialah Ketuhanan Yang Maha Esa dan memang percaya kepada ADAnya Tuhan Yang Maha Esa, Tunggal, Satu, Widhi. Sebab itu untuk memelihara pancasila itu menurut keyakinan saya tidak ada lain jalannya yaitu menjadi muslim yang baik, seorang Muslim yang taat kepada Allah. Saya bersukur kepada Allah yang telah menganugrahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga tanah air saya ini merdeka.
Dan saya tidak dapat keluar dari garis itu atau memberi lebih dari itu. Sebagai seorang Muslim saya tidak dapat meletakkan Pancasila jadi nomor satu, lalu islam saya letakkan dibawah naungan Pancasila, melainkan sebaliknya seperti yang saya katakan tadi. Saya akan berusaha sebagai muslim sejati, niscaya tidak dapat lain saya akan jadi Pancasilais sejati.
Kalimat-kalimat diatas saya kutip dari penutup buku Prof. DR. Hamka - Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Kebenaran. Yang di keluarkan oleh yayasan idayu di Jakarta 1983 buku ini di terbitkan bersumber dari ceramah Hamka pada tanggal 30 September 1975 di gedung Kebangkitan Nasional Jakarta.
Dalam buku sejarah kita ketahui Pancasila dikemukakan oleh Ir. Soekarno saat mengemukakan Dasar-Dasar Negara Indonesia Merdeka pada saat pidatonya di sidang BPUK 1 Juni 1945. Sat itu calon presiden Indonesia 1 ini mengemukakan 5 hal yang kemudian dianggap sebagai falsafah negara setelah mengalami beberapa proses penyesuaian dan perbaikan.
- Kebangsaan Indonesia
- Internasionalisme atau peri kemanusiaan
- Mufakat atau demokrasi
- Kesejahteraan sosial
- Ketuhanan
Muh. Yamin kemudian mengusulkan nama Pancasila buat rumusan itu, penjelasan terhadap itu dikemukakan tanggal 1 juni 1945 diterima baik oleh BPUPK dan 1 Juni 1945 dianggap sebagai hari lahir Pancasila. Kemudian Pancasila itu dirubah urutannya menurut kepentingan rakyat dan negara indonesia yang sekarang ini:
- Ketuhanan Yang Mahaesa
- Kemanusiaan Yang adil dan Beradab
- Persatuan Indonesia
- Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaraktan/Perwakilan
- Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia
Waktu dulu pertama kali Pancasila itu dikenalkan ke saya pada saat saya kecil dimulai dari tk terus SD dan seterusnya saya tidak dapat memahami “Pancasila Sakti” ungkapan yang sering dipakai untuk menggambarkan betapa pentingnya Rumusan tersebut dijadikan sebagai falsah negara. Akan tetapi setelah mendengar pemahaman pancasila ini dari seorang khotib di daerah kelahiran saya Pekanbaru ketika kothbah Juma’at membuat saya begitu terperangah karna Pancasila itu ternyata tidak disusun asal dan memiliki arti yang sangat mendalam.
Saya tak dapat mengulangi kata-kata itu dengan tepat lagi. Maka dengan demikian biarlah saya mengaku-ngaku bahwa di bawah ini adalah pengertian Pancasila menurut yang saya pahami sekarang karna pengaruh dari agama yang saya peluk. Sebagai umat muslim saya hanya mengakui satu Tuhan yaitu Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa mufrat Tunggal. Tempat berlindung dan meminta dimana kasih sayang-Nya dapat menunjukkan jalan yang lurus bagi umatnya guna meniti jembatan yang tipis dalam kehidupan yang selalu memberikan batasan-batasan yang tipis terhadap benar dan salah. Jadi kemerdekaan dan kebebasan yang didapat bangsa Indonesia ketika memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 itu telah memberikan saya kewarganegaraan Indonesia karna terlahir dari bapak dan ibu warga negara Indonesia. Kehidupan dan napas yang dititpkan kepada saya ketika saya dilahirkan di negara republik Indonesia yang memperoleh kemerdekaan sebagai anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa cukup membuat saya mempercayai sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai suatu falsafah hidup.
Sebagai umat beragama yang mengakui Tuhan itu Esa maka saya dapat menyadari benar bahwa saya adalah mahkluk-Nya sama seperti Warga Negara Indonesia lainnya yang dilahirkan dan memperoleh anugrah yang sama dari Tuhan yang Esa berupa kehidupan. Oleh karna kehidupan itu adalah anugrah dan pemberian maka saya menghargai kehidupan lainnya sama seperti kehidupan saya sendiri sebagai suatu pemberian dari Tuhan. Untuk itu saya harus dapat bersifat manusiawi dan dapat adil kepada manusia lain untuk dapat dianggap sebagai makhluk yang beradap karna telah diberi kehidupan yang sebenarnya bukan milik saya.
Menyadari benar bahwa sisi kemanusiaan itu maka saya merasa begitu dekat dengan saudara2 saya sebangsa dan setanah air ini karna pada dasarnya kehidupan mereka juga adalah anugrah dari Yang Maha Esa sama halnya seperti saya. Persaudaraan dan kesamaan dasar inilah yang saya rasa dapat menyatukan seluruh WNI didalam satu organisasi yang telah dianugrahkan kepada seluruh penduduk yang bernaung didalam Negara Republik Indonesia ini. Persatuan yang dilakukan oleh orang-orang yang manusiawi dan adil terhadap manusia lain sehingga menghasilkan masyarakat yang beradab.
Dikarenakan begitu banyaknya orang yang terlibat dalam persatuan itu maka akan terdapat banyak kepentingan dari masing-masing orang yang menyatukan diri dalam wadah tersebut dalam hal ini adalah Negara Indonesia. Orang-orang itu kemudian dapat kita bilang sebagai rakyat atau masyarakat. Orang yang banyak itu berkumpul bermula dari kesadaran bahwa masing-masing memiliki kehidupan sebagai anugrah dari Yang Maha Esa. Untuk itu seharusnya ketika mereka mengeluarkan pendapat dan keinginan mereka didalam persatuan tadi hendaknya dipimpin oleh Hikmah (Hikmah menurut kamus besar bahasa indonesia edisi ketiga yang dikeluarkan oleh departemen pendidikan nasional adalah kebijaksanaan dari Allah) jadi segala kebijaksanaan adalah juga anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu tiap-tiap orang yang berbicara dalam sebuah musyawarah hendaknya dapat mewakili manusia lain untuk itu diperlukan kebijaksanaan yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain bahwa wakil-wakil tadi harus percaya dan mengerti sila pertama agar memperoleh kebijaksanaan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Jika wakil-wakil rakyat yang bersatu dalam permusyawarakatan tadi kemudian dipilih menjadi orang yang menjadi pemimpin maka ia telah memiliki kebijaksanaan yang disadari benar diperoleh dari anugrah Tuhan Yang Maha Esa dengan segala Kebesaran dan Keagungan-Nya maka segala keputusan dan “kebijaksanaan” yang dikeluarkan pemimpin tadi akan dapat memberikan keadilan bagi seluruh rakyat yang bernaung dalam persatuan kemasyarakatan Negara Republik Indonesia.
Begitulah pemahaman tentang Pancasila yang saya dapat dari salah satu ceramah keagamaan yang saya peroleh karena saya adalah seorang muslim. Saya sekarang sama halnya dengan tulisan Hamka diatas “saya menerima Pancasila sebab saya ini seorang Muslim”
Tags: Kolot, Manusia, negara, pancasila, sejarah, Transcendent
Filed under Transcendental idealism | 13 Comments »




