before the flu

Back To Zero

  • You are here: 
  • Home
  • keras

Bubur air mata II (tamat)

Posted on June 25th, 2008

Ada 5 meja di rumah makan tersebut dan semuanya dipenuhi dengan sisa pengunjung di sore menjelang rumah makan tutup. Tumbawada membuat 20 porsi bubur ayam biar semua pesanan dapat terpenuhi. Ketika bubur dihidangkan dan mulai mencicipi bubur tersebut terjadi kerisuhan. Semua pengunjung restoran mengeluarkan air mata bahkan ada yang sampai terisak-isak bercucuran airmata. Semua pengunjung menangis sambil memakan bubur buatan Tumbawada samapai tak bersisa. Bahkan saat membayar dan keluar dari rumah makan itupun para pengunjung masih tak dapat menghapus air mata yang jatuh. Kota Gulabena tempat Tumbawada menjadi gempar dengan kejadian tersebut. Orang-orang tak henti-hentinya membicarakan bubur tersebut pos-pos ronda dan rumah-rumah ketika makan malam terdengar sedang membicarakan makanan tersebut.

“Benar-benar lezattttt, tak masuk akal. Saya bahkan tak sedang sedih sedikitpun ketika menyantapnya. Tapi air mata saya tak mampu saya tahan. Meluncur begitu saja ketika sendok pertama bubur itu memasuki mulut saya”. Begitu kata salah seorang pengunjung rumah makan itu kepada rekannya sewaktu ronda malam.

“saya bahkan masih tetap menangis sewaktu saya menginjakkan kaki saya kesalam rumah saya sore tadi setelah memakan bubur ayam itu” kata salah seorang pengunjung lainnya kepada sanak saudaranya.

“Itu adalah bubur ayam yang teraneh yang pernah saya makan, rasanya sangat lezat dan sedih sekali. Coba kau bayangkan bagaimana rasanya. Saya bahkan yakin tak bisa tidur malam ini menunggu esok hari biar bisa makan bubur itu lagi”. Sahut seorang ibu kepada suaminya.

Akhirnya seperti yang dapat diperkirakan, keesokan harinya rumah makan itu sudah dipenuhi berpuluh-puluh orang yang sedang berdiri mengantri rumah makan itu dibuka. Rumah makan itu sendiripun bahkan belum buka. Para pengunjung juga tak henti-hentinya datang dan memenuhi perkarangan rumah makan tersebut, ada yang benar-benar datang ingin mencoba bubur itu ada juga yang datang Cuma karena terheran-heran karna banyak sekali orang berkumpul. Orang yang mengantri bahkan sudah hampir keluar jalan karna saking penuhnya ketika rumah makan dibuka oleh pegawai Tumbawada. Hari itu semua orang yang keluar dari rumah makan itu bercucuran air mata.

Bubur ayam itu membuat Tumbawada semakin terkenal dan rumah makannya makin dipenuhi pengunjung setiap harinya. Semakin menangis pengunjung tersebut maka semakin sering pengunjung itu datang kerumah makan Tumbawada. Tak sedikit juga yang marah-marah karna tak kebagian. Tumbawada ternyata takmampu membuat lebih banyak porsi setiap harinya. Bahkan Tumabawada kelihatan semakin kurus dan dan matanya semakin cekung, walaupun harga bubur telah diaikkan berkali-kali lipat tapi pengunjung tak juga beralih dan meminta menu lain. Hal tersebut membuat Tumbawada menjadi tersiksa karna harus membuat bubur itu berulang-ulang kali setiap harinya. Semakin hari pengunjung rumah makan itu bukan semakin sepi melainkan semakin ramai. Bahkan para pengunjung sudah mulai berdesak-desakan dipintu masuk dan sempat terjadi beberapa kali perkelahian karna ada beberapa pengunjung yang tak mau mengantri dan memaksa masuk lebih dahulu.

Hal ini sampai ketelinga Gubernur Landa, beberapa masukan dari pesaing Tumbawada juga menambah-nambah informasi yang sampai ketelinga Gubernur ini.

“Saya tak tahan mendengar ejekan dari orang-orang di kota sebelah pak gubernur. Kuping saya gatal sekali mendengar mereka menghina kota kita penduduknya cengeng semua”, kata salah seorang pembawa berita tersebut.

“Bagaimana kalau Raja menyangka Tuan tak becus mengurus kota kita karna hampir semua penduduknya gemar menangis”, lanjut yang lainnya.

“Rumah makan itu tak layak lagi di sebut rumah makan, karna sering terjadi perkelahian disana”

“Yah, Rumah makan itu lebih layak di sebut rumah jagal. Atau sasana tinju. Benar-benar biadab”. Sambut yang lain mengiyakan.

Informasi yang sampai tak cukup itu ternyata telah membuat kuping gubernur Landa menjadi panas. Amarah bergejolak didada sang gubernur. Tak disangkanya kejadian seperti itu terjadi di daerah tempat ia pimpin selama bertahun-tahun ini. Kepopuleran Tumbawada terasa sangat mengancam kedudukannya sebagai seorang gubernur. Orang-orang lebih mengenal Tumbawada sang tukang masak dari pada dirinya. Percakapan singkat dengan Surnawida tukang pukulnya adalah puncak dari segala keamarahannya. Malam itu juga tampak Surnawida keluar dari rumah makan Tumbawada sambil membopong seseorang dipangkuannya. Tumbawada berhasil dipukul dengan telak sampai pingsan dan dibawa kepenjara di gubernuran.

Keesokannya kehebohan terjadi dirumah makan itu ketika pegawai-pegawai menceritakan bahwa Tumabawada telah di culik oleh seseorang malam tadi. Sehingga terpaksa rumah makan kembali ditutup. Berita ini sangat mengejutkan para pengunjung. Tampak di seluruh pelosok kota orang-orang membiicarakan hal tersebut.

Gubernur Landa sedang bekerja seperti biasanya ketika datang sepucuk surat yang ternyata berasal dari kerajaan. Isinya sangat singkat sekali “benarkah di daerah mu orang-orang menangis hanya karna semangko bubur?”. Begitu isi surat tersebut. Tapi surat itu ditanda tangani langsung oleh sang raja. Gubernur Landa seperti kebakaran jenggot. Mukanya tampak pucat sekali. Tangannya tak henti-hentinya bergetar menggenggam surat singkat tersebut. Dengan sepucuk surat genggam balasan kepada sang raja, Gubernur Landa telah bertekat membereskan masalah tersebut secepatnya. “Mohon beribu ampun baginda, berita tersebut tak salah adanya. Akan tetapi dengan secepatnya akan segera saya bereskan”, begitulah bunyi surat tersebut. Setelah memberikan surat balasan tersebut Ia lalu berteriak memanggil Surnawida masuk kedalam kantornya.

Tak sampai dua hari setelah itu tampak rombongan kerajaan datang, sangat lengkap berikut punggawa-punggawa kerajaan beserta prajurit-prajuritnya. Kali ini sang Raja berkernan datang sendiri kedaerah tersebut, hal ini tentu saja membuat halaman yang tak seberapa luas itu langsung menjadi penuh sesak. Tampak Gubernur Landa sendiri berlari-lari tergopoh-gopoh menyambut sang Raja di jalan menuju pintu masuk. Mukanya sangat pucat sekali seakan-akan tak ada darah yang mengalir ke sana.

Bumi kemudian seakan-akan berputar sangat kencang ketika Landa mendengar suara Raja. “hey Landa, Aku sangat penasaran sekali ingin mencoba bubur air mata itu”, kata Raja tersebut dengan lembut.

“hah?” Landa benar-benar tak pernah menyangka bahwa kata-kata seperti itu yang akan keluar dari mulut sang raja.

“yah Tuhan apa yang harus kulakukan, aku tak mampu menggali kuburan menghidupkan kembali orang yang telah kubunuh tapi malah tersenyum gembira itu” pikirnya dalam hati tak henti.

*tamat

huhuhu themes baru, thx yah idola ku yang sudah mau mengoprek themes ini jadi lebih nyaman dan keren.

Tags: , , , ,
Filed under chiffonier | 17 Comments »

Jalan Keras

Posted on June 10th, 2008

Muslim adalah seorang preman yang memegang teguh pendiriannya sebagai seorang preman sejati. Sering kali dia mengatakan pada anak buahnya bahwa peraturan dan hukum hanya ada di bibir saja, yang terpenting adalah prinsip dan mental. Muslim tak pernah menyelesaikan sekolahnya, terakhir ia menduduki bangku sekolah waktu itu namanya SR. Umurnya sekarang sudah mendekati angka 60 tak ada yang tau berapa umur aslinya, beberapa codet di pipi dan pundaknya hanya mengambarkan keangkeran dan lamanya ia hidup di dunia gelap.

Dengan umurnya yang tak sedikit itu sudah banyak yang ia lakukan, sejak kecil ia tak pernah meminta uang ke orang tuanya ia terlahir untuk dibesarkan di jalan. Bagi kawan seumuran muslim adalah seorang laki-laki sejati karna tak pernah membuat onar dikampungnya sendiri, orang-rang kampung selalu menganggapnya adalah seorang yang baik hati dan gemar menolong tetangga. Tak sedikit orang-orang tua yang diberinya uang dan tak sedikit pula anak-anak yang sudah disekolahkannya. Dia mengaku sudah menikahkan lebih dari 20 orang di kampungnya. Beberapa kali perang saudara di kampungnya telah berhasil di hindarkan karna campur tangannya, tak sedikit kebaikan yang sudah dibuatnya untuk kampung. Walaupun telah banya terdengar desas-desus bahwa tempat prostitusi di pinggiran kampung adalah miliknya dan beberapa kejadian perampokan truck yang melintasi jalan besar kerap dikait-kaitkan dengan dirinya orang-orang kampung selalu menutup-nutupi keberadaan muslim waktu polisi mencari informasi mengenai dirinya.

Entah bagaimana mulanya Muslim menjadi sangat rajin pergi ke mesjid, badannya yang tegap dan suaranya yang serak itu masih dapat menyembunyikan usianya sehingga penduduk kampung tetap saja terkejut melihat Muslim rajin sekali pergi kemesjid untuk sholat berjamaah. Anak-anak yang sering bermain di mesjid menjadi sangat ketakutan dan tak ada yang berani membuat gaduh sewaktu ia berada di mesjid. Hal ini dipicu satu kejadian ketika Muslim sedang mengikuti sholat Jum’at ada segerombolan pemuda tanggung asyik bercakap-cakap dan tertawa ketika khotib sedang berkotbah. Muslim tampak mendekati anak-anak muda itu dan membawa salah seorang pemuda yang paling besar suaranya ke toilet tempat mengambil wudhu. Tak tampak bekas pukulan ataupun sikssaan di muka dan tubuh anak itu, tapi semenjak itu tak nampak lagi gerombolan anak muda itu datang lagi ke mesjid duduk berkelompok.

Penduduk kampung mulai melihat muslim rajin mengikuti pengajian di mesjid, dan ia selalu pulang terakhir bersamaan dengan pengurus mesjid menutup pintu mesjid. Muslim telah menjadi sosok yang alim dan di segani oleh orang kampung dan bukan hanya sekedar takut. Para ustad serta orang-orang tua kampung selalu tampak menemani beliau bercakap-cakap sehabis sholat berjamaah, wajah mereka tak tampak sedang belajar mengaji tapi lebih tampak seperti sedang berdebat. Kening Muslim sudah mulai menghitam memberikan tanda kedalaman ilmu dan pendiriannya dalam beragama. Suatu hari terjadi perdebatan yang sengit diantara mereka dan diakhiri dengan keluarnya Muslim dari mesjid dengan muka yang keruh dan dada yang naik turun. Setelah itu penduduk desa mulai jarang melihat Muslim lagi, rumahnya juga tak lagi sering terlihat terbuka. Sejak istrinya meninggal, anak-anak muslim yang sudah besar-besar dan tinggal di kota. Muslim hanya tinggal sendiri ditemani pembantu.

Entah kenapa penduduk kampung mulai mendesas-desuskan kembali nama muslim, semua bermula dari pembakaran gereja dan di kampung tersebut. Pembakaran gereja itu berlanjut ke warung-warung hingga perternakan orang-orang tionghua. Hanya membutuhkan tak lebih dari 6 bulan tak tampak lagi penduduk desa yang beraliran agama lain selain islam yang ada di desa tersebut. Bahkan ada rumah yang baru dibangun dan belum ditumpangi tapi keesokan harinya sudah terbakar menjadi debu. Tak ada satupun orang yang dapat menjawab siapa dalang dari semua kericuhan itu atau yang lebih tepatnya berani menjawab.

Beberapa bulan kemudian terlihat ramai kegiatan di sebelah rumah Muslim, banyak orang hillir mudik dan truck-truck pasir dan batu berkeliaran di sana. Rumah bekas kebakaran telah di tertutup oleh pagar seng. Tak butuh waktu lama sebuah mesjid telah berdiri disana dengan megah. Undangan di sebarkan ke seluruh pelosok kampung untuk sholat magrib berjamaah. Pukul 6 sore mesjid telah ramai didatangi oleh penduduk dari pelosok kampung. Acara akan dimulai dengan azan magrib dan sholat berjamaah yang langsung dipimpin oleh Muslim sebagai Imam. Acara kemudian akan dilanjutkan dengan makan-makan sedekahan dan juga sukuran mesjid. Adzan berkumandang ke seantero kampung, tampak pria berbaju gelap berjaga-jaga di sekitar mesjid dan menyuruh orang yang hendak mengikuti acara bergegas masuk kedalam mesjid. Banyak sekali orang yang sholat berjamaah ketika itu melebihi jamaah yang mengikuti sholat tarawih minggu pertama di bulan Ramadhan. Azan telah selesai berkumandang bersamaan dengan itu hujan turus dengan sangat derasnya sehingga tak ada satupun orang yang berada di luar mesjid dan tak mengikuti sholat magrib berjamaah. Muslim dengan kupiah putih dan sorban putihnya telah berada di tempat imam mengumandangkan takbir. Suara muslim yang serak dan keras itu dapat mengimbangi suara petir yang menggelegar di luar. Air hujan yang turun sangat dengat deras juga tak terlalu membawa pengaruh yang hebat pada kekhusukan jamaah, diawali sebuah petir yang sangat keras sehingga membuat kaca-kaca mesjid ikut bergetar. Tiba-tiba terdengar sebuah benda pecah diikuti bunyi tubuh yang roboh kelantai. Ternyata lampu kristal yang berharga puluhan juta itu telah jatuh dan menimpa Muslim yang sedang memimpin sholat berjamaah di mihrab. Lampu itu jatuh tepat mengenai kepalanya Muslim roboh dengan kepala dihimpit oleh batu kristal.

Tags: , , , , , , ,
Filed under chiffonier | 6 Comments »