before the flu

Back To Zero

  • You are here: 
  • Home

Masril

Posted on June 12th, 2008

Masril tak seperti layaknya laki-laki kebanyakan, ada sedikit kekurangan yang dimilikinya yaitu kepandaiaannya yang di bawah rata-rata. Bahkan untuk naik ke kelas 3 sd saja ia tak sanggup. Beberapa kali ia mencobanya tapi selalu saja ia tetap tak dapat meyakinkan gurunya untuk dapat meaikkan kelasnya. Sampai akhirnya ia cukup cerdas untuk menghentikan upayanya itu dan berhenti sekolah.

Sewaktu kecil ia memang sering kali dikerjai oleh teman-teman sebayanya dan selalu mengolok-oloknya dengan memanggilnya celeng. Celeng adalah sebutan yang selalu di berikan kepadanya karna memiliki mata yang hampir mirip dengan Herman ngantuk. Walaupun ia di juluki mirip dengan artis tapi ia tak bangga karna sebutan itu hampir lebih memiliki makna cemooh ketimbang memuji dan ia tak perlu punya iq yang tinggi untuk mengerti itu.

Memang sedikit menganggu pada awal-awalnya tapi teman-temannya itu tak pernah lupa memanggilnya untuk bermain setiap harinya sehingga ia tak perlu merasa sendiri. Dengan kepintaran yang dibawah rata-rata itu dengan sendirinya Masril tak dapat memiliki pekerjaan yang dapat dibanggakan. Ia berberapa kali mencoba mencari pekerjaan namun ternyata menyap jalanan tampaknya satu-satunya yang mau menerimanya. Lewat beberapa kenalan orang tua dan saudara akhirnya Muslim dapat menjadi cleaning servis di sebuah Bank di Pekanbaru. Cukup lama dia bekerja di sana sampai akhirnya boss nya Pindah ke Bank Indonesia. Bossnya yang cukup sering ia bantu untuk membeli rokok dan mencuci mobilnya itu menawarkan ia untuk pindah kerumahnya. Ia tak begitu mengerti kenapa bossnya itu lalu mengatakan bahwa ia sekarang adalah salah satu anak dari beliau. Bossnya itu sangat baik kepadanya beberapa kali ia sudah membelikan makan siang untuknya dan ia lalu menyetujui untuk tinggal di rumah bossnya itu di jalan Rongowarsito salah satu komplek elit di kota itu.

Tak banyak yang berubah di hidupnya setelah ia tinggal di rumah bossnya itu, ia menempati ruangan di belakang garasi mobil yang terletak di pinggir rumah. Disamping pekerjaannya menyapu dan membersihkan kantor bank tempatnya bekerja ia tak lupa untuk selalu membersihkan pekarangan rumah bossnya itu dan merawat tanaman-tanamannya. Walaupun beberapa kali bossnya telah mengusulkan kepadanya untuk berhenti kerja di bank itu tapi ia tetap menolaknya. Sampai akhirnya bossnya itupun membiarkan Masril. Di depan halaman rumah tersebut di hiasi taman yang memiliki banyak bunga dan tanaman salah satu yang mencolok adalah pohon besar yag ada didekat pagar. Pohon itu sangat rindang dan banyak rantingnya. Musril banyak menghabiskan waktunya disana menyapu daun-daun yang jatuh ke tanah. Setiap hari daun-daun selalu memenuhi pekarangan rumah sehingga kotor jika tidak di bersihkan.

Suatu hari tetangga sebelah mengajak Masril untuk bermain di dekat lapangan tenis di komplek perumahan itu, hanya duduk-duduk saja ternyata mengobrol ngalor ngidul tapi tak terasa waktu telah menunjukkan larut malam dan ia baru menyadari kalau sore tadi tak sempat menyapu halaman. Ia lalu bergegas untuk pulang karna ia sangat takut sekali bossnya marah. Sesampainya di rumah ternyata rumahnya telah sepi orang-orang sudah tertidur ia dapat melihat lampu di ruang tamu telah mati dari luar pagar. Dan pintu pagarpun telah di tutup rapi. Walaupun ia telah diberi kunci pagar tapi ia merasa enggan untuk membuka pagar karna takut bunyinya akan membangunkan orang rumah. Lalu dengan hati-hati iapun lalu memanjat pagar. Belum sampai kakinya ke tanah halaman rumahnya terdengar suara seorang perempuan menegur.

Dasar Pemalas, pulang malam manjat pagar pula”. Musril sedikit terkejut mendengar teguran itu. Ternyata teguran itu berasal dari atas pohon rindang. Seorang wanita berambut sebahu seumuran ia sedang duduk di ranting sambil menatapnya tajam.

“eh, ngapa pulak kau? Rumah-rumah aku pun. Mau pulang malam pulang pagi kenapa pula kau ribut?” sahutnya ngotot, ia memang sedikit kesal karna wanita itu kurang ajar sekali memanggilnya pemalas.

“eh, jangan sok yah…. aku sudah tinggal di sini jauh sebelum kau tinggal disini. Liat daun-daun itu, kau tak menyapunya hari ini jadi kenapa pula kau tak mau di sebut pemalas”, sahutnya seperti bisa membaca pikiran Masril.

Masril lalu sedikit sadar bahwa siapa sesungguhnya wanita itu, sedikit banyak dia memang mendengar para tetangga menceritakan perempuan itu. Mungkin ini orang yang diceritakan itu pikirnya.

“Pohon itu memang tempat tinggal kau, tapi rumah ini tempat tinggal aku. Besok aku sapu daun-daun ini, aku mau masuk sekarang nanti bangun pula bapak gara-gara kau”, sahut Masril sambil berlalu ke kamarnya.

Entah karna kecapean atau karna malam yang sudha larut sesampainya di kamar Masril langsung tertidur. Pagi-pagi sekali ia bangun dan langsung keluar kamar dan membersihkan halaman ia takut bossnya bangun dan pergi kerja melihat halaman yang kotor karna tak sempat ia bersihkan hari sebelumnya. Sesampainya di dekat pohon besar itu Masril lalu melihat keatas ternyata wanita tadi malam sudah tak ada lagi disana. Iapun lalu kembali membersihkan halaman itu. Matahari telah mulai menerangi halaman rumah dan bossnya telah siap-siap hendak pergi kerja. Iapun lalu menghampiri bossnya itu.

“Pak maaf saya tadi malam pulang telat”, katanya sambil tertunduk.
“ya sudah tak apa-apa, lain kali kalau mau pulang malam kasih tau”. Sahut bossnya datar.
“baik pak”. Jawab Masril sambil tetap merasa bersalah.

Hari itu ia langsung pulang dan tak mampir-mampir lagi sehabis pulang kerja. Pikirannya masih kepada kejadian tadi malam, wanita yang tinggal di pohon rindang depan rumahnya itu masih berberkas di ingatannya. Sesampainya dirumah ia langsung menyapu halaman sambil sesekali melirik keatas pohon, tapi tak dapat ia melihat wanita itu ada disana. Sehabis makan malam tak seperti biasanya ia tak membantu mbok mencuci piring melainkan langsung masuk kamar dan menonton TV bossnya memang memberikannya TV 14″ untuknya sendiri di dalam kamarnya, jadi ia tak perlu malu hendak menonton TV bersama dengan boss dan istrinya itu. Malam itu tak seperti malam biasanya udara terasa sangat dingin sekali beberapa kali ia terkantuk-kantuk dan akhirnya Masril tak mampu melawan kantuknya dan tertidur sambil lupa mamtikan TV. Cukup lama ia tertidur sampai ia terbangun karna ketukan-ketukan di jendela kamarnya.

“hey, kalau tidur Tvnya jangan lupa dimatiin”, sahut suara orang dari luar.

Mendengar suara itu Masril langsung bangun dari tempat tidurnya dan mematikan TV yang tadi ia lupa matikan. Lalu ia bergegas melihat keluar jendela siapa yang telah membangunkan dan memarahinya tadi. Tapi tak tampak seorang pun berdiri diluar kamarnya. Iapun lalu kembali menutup jendela kamarnya karna udara diluar sangat dingin sekali. Belum sampai 5 menit ia mematikan lampu untuk meneruskan tidurnya lagi. Terdengar bunyi jendela seperti di ketuk-ketuk dari luar.

“hey kalau mau masuk, masuk aja.. nggak usah nganggu orang tidur”, entah dari mana ide itu timbul dari kepalanya tapi yang jelas kata-kata itu begitu saja meluncur dari mulutnya.
“kenapa kau tak takut sama aku?” terdengar suara wanita dari sebelah tempat tidurnya. Masril lalu menoleh kearah suara itu ternyata wanita yang tinggal di pohon rindang itu.

“kenapa aku harus takut? Kau tak seram pun”. Jawabnya polos.
“malam ini aku ngantuk sekali, besok aku harus ngantar anak bapak yang paling kecil sekolah naik sepeda. Beberapa hari ini dia tak mau sekolah kalau bukan aku yang ngantar. Jadi kalau mau ngobrol besok aja kau datang lagi, ya?” lanjut Masril dengan serius.

Tak terdengar perempuan itu menjawab sepatah katapun namun ia langsung membalikkan badan dan menghilang di balik dinding kamarnya. Ada sedikit perasaan seram di diri Masril tapi rasa takutnya kepada bossnya lebih menakutkannya ketimbang mengurusi wanita itu. Lalu Masril kembali memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.

Malam esoknya perempuan itu ternyata menagih janji Masril untuk mengobrol bersamanya. Kali ini perempuan itu tak menunggu Masril dulu untuk mempersilahkan masuk kesalam kamarnya terlebih dahulu. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di samping kursi ketika Masril sedang asyik menonton TV. Masril sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba itu. Ia lalu bergegas menutup pintu kamar takut bossnya memergokinya memasukkan wanita ke dalam kamarnya. Entah bagai mana mulanya tiba-tiba mereka sudha terlibat percakapan yang panjang. Cukup lama mereka berbincang-bincang ternyata wanita itu dulu meninggal di tempat itu di bunuh oleh perampok dan kemudian di buang di tempat itu, dulu rumah tempatnya tinggal ini adalah tempat yang sepi dan banyak di tumbuhi pohon-pohon. Entah kenapa ada sedikit nyaman berbicara dengan wanita itu, bentuknya tak seperti hantu-hantu yang dilihatnya di televisi bentuknya tak ubahnya seperti manusia biasa dan jauh dari kesan menyeramkan.

Hubungan Masril dengan wanita itu berlanjut hingga berbulan-bulan, tak banyak yang mereka lakukan hanya mengobrol dan berbincang-bincang hingga berjam-jam. Mereka mengobrol apa saja dan kadang-kadang wanitu itu menemani Masril ketika di suruh oleh bossnya untuk membeli sesuatu ke warung di ujung jalan. Pernah satu ketika ketika Masril sedang mengayuh sepedanya hendak pulang kerumahnya setelah membeli obat nyamuk dari ujung jalan ternyata ada orang yang terbang mengikutinya, orang itu ia katakan terbang karna kakinya tak napak ke tanah ia tampak seperti mencoba mengatakan sesuat kepada Masril tapi bentuk mukanya sangat menyeramkan matanya ilang satu dan dari mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Masril lalu mamacu sepedanya sekencang-kencangnya dan tak lagi menoleh kiri kanan. Sesampainya di rumah ia lalu meletakkan obat nyamuk dan langsung tidur sambil memegang Al-qur’an. Esok harinya barulah ia tau ternyata laki-laki itu adalah teman wanita yang tinggal di pohon dan hendak berteman dengannya kata wanita itu kepada Masril.

“aku tak mau, mukanya seram aku tak mau. Cukup kau ajalah, tak usah kau kenalkan aku ma kawan-kawan kau. Takut aku” kata Masril kepada wanita itu.

Tak terasa sudah lebih dari 2 tahun ia tinggal di rumah itu. Pagi tadi bossnya mengajaknya untuk sarapan bersama di meja makan. Ternyat bossnya tu mendapat tugas untuk pindah ke Malang. Dan seluruh keluarga akan ikut serta. Masril di minta untuk ikut bersama mereka ke Malang.

“maaf pak walaupun saya sudah besar tapi saya masih punya orang tua, jadi saya harus meminta ijin terleih dahulu kepada mereka”, jawab Masril mengenai ajakan tersebut.
“baiklah, tapi tolong kau kasih jawabannya secepatnya yah!” jawab boss masril. “minggu depan kita sudah pindah, jadi saya harus memesan tiket untuk kau jauh hari”. Lanjutnya tak lama berselang.

Siangnya Masril lalu menyambangi orangtuanya untuk meminta izin. Entah sudha beberapa kali Masril membujuk dan mengemukakan alasan tapi ternyata orang tuanya tetap dengan pendiriannya kalau ia tak boleh ikut pergi ke Malang.

“Ril, malang tu jauh. Kami mungkin tak lagi bisa nengok kau. Kalau kau tak sayang ma orang tuamu ini kau pergilah, tinggalkan kami”. Kata-kata pamungkas itu akhirnya keluar juga dari mulut bapak kandungnya itu.

Setelah memberitahukan hasil pembicaraannya dengan orang tua kandungnya itu kepada bossnya, dengan berat hati bossnya ternyata merelakan Masril untuk tidak ikut ke Malang. Malam itu adalah malam perpisahan mereka merayakannya dengan makan-makan di restoran mahal. Tak terasa waktu yang tak dinantikan itu tiba, kedua anak boss yang biasa bermain dengannya itu tak henti-hentinya menangis mengetahui Masril tak ikut pindah ke Malang. Keduanya cuma mau tidur sewaktu Masril janji untuk ikut tidur di kamar mereka malam itu. Namun setelah kedua anak itu tidur Masrilpun kembali kekamarnya. Setelah selesai memeriksa barang-barangnya Masril pun keluar kamar dan pergi ke pohon rindang di depan rumah. Wanita temannya itu telah duduk di salah satu ranting dengan muka yang lesu. Masril hanya duduk diam di bawah pohon tampa banyak bicara sambil mengisap rokok surya rokok kegemarannya. Wanita itupun tampak tak seperti hendak memulai pembicaraan juga. Setelah dua batang rokok dihabiskannya Masril lalu berdiri dan membersihkan celananya bekas ia duduk tadi.

“aku pindah besok, kau mau ikut aku apa tinggal di sini?” terdengar kalimat itu keluar dari mulut Masril. “aku ikut”. Tak banyak ternyata jawaban yang diberikan oleh perempuan itu.
“ya sudah”, lanjut Masril tak kalah pelitnya sambil berjalan ke kamarnya.

Pagi-pagi sekali Masril sudah bangun dan membantu bossnya untuk pindahan, akhirnya ia hanya dapat mengeluarkan airmata melihat bossnya pergi meninggalkan rumah dengan keluarganya. Ia tak diperbolehkan untuk mengantar ke bandara karna dua anak bossnya tak henti-hentinya menangis bila melihatnya. Akhirnya Masril disuruh untuk pergi kerumah sebelah dan melihat mereka pergi dari jauh. Tak terasa air mata mengalir di pipinya ketika ia mengambil tasnya dan menitipkan kunci ke satpam rumah. Masril sudah hendak mengayuh sepedanya ketika ada suara di dekatnya.

“mau kemana kita?” ternyata suara wanita penunggu pohonrindang.
“eh, kenapa aku bisa liat kau siang-siang?” Masril malah balik bertanya.
“entahlah, manaku tahu?” lanjut wanita itu.
“ya sudah, ikut ajalah”, jawab Masril. Semenjak itu kemanapun Masril pergi wantia itu selalu mengikutinya.

Masril ternyata di minta untuk tinggal di rumah adik bapaknya yang sedang sakit kena stroke. Sudah 5 tahun pamannya itu menderita sakit dan tak dapat turun dari tempat tidurnya. Keluarga itu memang sudah akrab dengan dirinya dari dulu bahkan ada salah satudari anak pamannya itu sepanteran dengan dia dan menjadi teman mainnya dari dulu. Suatu sore pamannya itu tak disangka menegurnya sewaktu ia memijit kaki beliau.

“hey ril, siapa cewe kau?” kata beliau.
“tak ada Paklung”, jawabnya sopan.
“alah tak usahlah kau bohong ma Paklung”, jawab pamannya itu mendesak.
“tak ada paklung, kami Cuma bekawan”, lanjut Masril sedikit takut.
“ya sudah kalau gitu, tapi tak baik bekawan cam tu”, lanjutnya.

Masril hanya tertunduk, ia tak menyangka pamannyaitu tau ia telah berkawan dengan makhluk halus. Malamnya ia termenung sendiri di kamarnya, kata-kata pamannya masih terngiang di telinganya. Tak lama kemudian wanita temannya itupun muncul di samping kamarnya dengan muka yang lebih pucat dari biasanya.

“mau kah kau kawin sama aku?” tanya wanita itu.
“ah cam mana kauni, kau dah mati aku masih hidup, cam mana pulak kita mau kawin?” jawab Masril dengan serius.
“kalau kau mau kau bisa hidup dengan ku di duniaku”, kata wanita itu tak kalah seriusnya.
“ah, aku memang bodoh, tapi sebodoh itu. Aku masih mau hidup”, jawab masril sedikit takut.
“aku rasa paman aku tu betul, tak baik hubungan macamni. Kalau kau betul sayang ma aku mau tak kau melepas aku?” tanya masril kemudian. Wanita itu hanya membalikkan bandan lalu pergi menembus dinding. Untuk beberapa hari lamanya Masril kemudian tak lagi melihat wanita itu.

“paklung, saya dah putuskan kawan saya tuh semalam”, kata masril kepada pamannya ketika ia sedang berduaan sore itu.
“hmmm, baguslah”, jawab pamannya dengan pelan.

Dapat terlihat sedikit wajah lega di muka pamannya itu. Hanya segitu saja percakapan mereka berdua waktu itu. Tapi entah bagaimana ceritanya keesokan harinya orang tua Masril telah ada di rumah itu dengan seorang perempuan. Tak cantik memang malah kakinya sedikit pincang namun ce itu memakai kerudung. Masril diminta berkenalan dengan wanita itu. Dan ternyata orang tuanya bermaksud menjodohkan dirinya dengan wanita itu.

“Pak, apa dia tau dengan keadaan diriku?” tanya Masril kepada orang tuanya.
“iya, dia dah aku kasih tau”, jawab orang tuanya.

“apa kau tak malu kawin dengan orang yang tak lulus SD, dan kerjanya Cuma nyapu dna bersih-bersih?”, tanya masril kepada wanita itu.
“aku tak keberatan, kalau kau tak keberatan dengan kakiku”, jawab ce itu.
“ya sudah kalau gitu terserah, tapi besok-besok jangan nyesal ndak?” lanjut masril.
“tak kan” jawab ce itu tegas.

Orang tua Masril tampak tersenyum lega, dan pamannya yang juga ada di situ juga tampak tersenyum puas.

Ternyata malam harinya wanita penunggu pohon rindang itu datang lagi dengan muka yang sedikit marah.

“kenapa kau menikah dengan orang lain?” katanya ketus. ”
aku tak punya pilihan lain, dunia kita berbeda. Tentu kau lebih tau itu”, jawab Masril.
“sudahlah, relakan saja aku. Aku hubungan ini kita sudahi saja”, lanjut Masril.

Wanita itu ternyata hanya terdiam dan membalikkan badan lalu hilang di balik tembok. Semenjak itu Masril tak pernah lagi melihat wanita itu. Sekarang Masril dikaruniai seorang anak laki-laki yang mungil dan tampak aktif. Masril melalui beberapa koneksi ternyata bisa menjadi PNS setelah mengikuti ujian persamaan. Untuk mencukui kebutuhan hidupnya Masril berternak ikan patin dan dipercaya menjalankan mesin photocopy di kantor tempatnya bekerja.

*Masril adalah sepupuku,  Cerita dia atas di tuturkan kembali semirip mungkin dengan cerita yang pernah ia ceritakan kepada saya.

Tags: , , ,
Filed under chiffonier | 9 Comments »

Jalan Keras

Posted on June 10th, 2008

Muslim adalah seorang preman yang memegang teguh pendiriannya sebagai seorang preman sejati. Sering kali dia mengatakan pada anak buahnya bahwa peraturan dan hukum hanya ada di bibir saja, yang terpenting adalah prinsip dan mental. Muslim tak pernah menyelesaikan sekolahnya, terakhir ia menduduki bangku sekolah waktu itu namanya SR. Umurnya sekarang sudah mendekati angka 60 tak ada yang tau berapa umur aslinya, beberapa codet di pipi dan pundaknya hanya mengambarkan keangkeran dan lamanya ia hidup di dunia gelap.

Dengan umurnya yang tak sedikit itu sudah banyak yang ia lakukan, sejak kecil ia tak pernah meminta uang ke orang tuanya ia terlahir untuk dibesarkan di jalan. Bagi kawan seumuran muslim adalah seorang laki-laki sejati karna tak pernah membuat onar dikampungnya sendiri, orang-rang kampung selalu menganggapnya adalah seorang yang baik hati dan gemar menolong tetangga. Tak sedikit orang-orang tua yang diberinya uang dan tak sedikit pula anak-anak yang sudah disekolahkannya. Dia mengaku sudah menikahkan lebih dari 20 orang di kampungnya. Beberapa kali perang saudara di kampungnya telah berhasil di hindarkan karna campur tangannya, tak sedikit kebaikan yang sudah dibuatnya untuk kampung. Walaupun telah banya terdengar desas-desus bahwa tempat prostitusi di pinggiran kampung adalah miliknya dan beberapa kejadian perampokan truck yang melintasi jalan besar kerap dikait-kaitkan dengan dirinya orang-orang kampung selalu menutup-nutupi keberadaan muslim waktu polisi mencari informasi mengenai dirinya.

Entah bagaimana mulanya Muslim menjadi sangat rajin pergi ke mesjid, badannya yang tegap dan suaranya yang serak itu masih dapat menyembunyikan usianya sehingga penduduk kampung tetap saja terkejut melihat Muslim rajin sekali pergi kemesjid untuk sholat berjamaah. Anak-anak yang sering bermain di mesjid menjadi sangat ketakutan dan tak ada yang berani membuat gaduh sewaktu ia berada di mesjid. Hal ini dipicu satu kejadian ketika Muslim sedang mengikuti sholat Jum’at ada segerombolan pemuda tanggung asyik bercakap-cakap dan tertawa ketika khotib sedang berkotbah. Muslim tampak mendekati anak-anak muda itu dan membawa salah seorang pemuda yang paling besar suaranya ke toilet tempat mengambil wudhu. Tak tampak bekas pukulan ataupun sikssaan di muka dan tubuh anak itu, tapi semenjak itu tak nampak lagi gerombolan anak muda itu datang lagi ke mesjid duduk berkelompok.

Penduduk kampung mulai melihat muslim rajin mengikuti pengajian di mesjid, dan ia selalu pulang terakhir bersamaan dengan pengurus mesjid menutup pintu mesjid. Muslim telah menjadi sosok yang alim dan di segani oleh orang kampung dan bukan hanya sekedar takut. Para ustad serta orang-orang tua kampung selalu tampak menemani beliau bercakap-cakap sehabis sholat berjamaah, wajah mereka tak tampak sedang belajar mengaji tapi lebih tampak seperti sedang berdebat. Kening Muslim sudah mulai menghitam memberikan tanda kedalaman ilmu dan pendiriannya dalam beragama. Suatu hari terjadi perdebatan yang sengit diantara mereka dan diakhiri dengan keluarnya Muslim dari mesjid dengan muka yang keruh dan dada yang naik turun. Setelah itu penduduk desa mulai jarang melihat Muslim lagi, rumahnya juga tak lagi sering terlihat terbuka. Sejak istrinya meninggal, anak-anak muslim yang sudah besar-besar dan tinggal di kota. Muslim hanya tinggal sendiri ditemani pembantu.

Entah kenapa penduduk kampung mulai mendesas-desuskan kembali nama muslim, semua bermula dari pembakaran gereja dan di kampung tersebut. Pembakaran gereja itu berlanjut ke warung-warung hingga perternakan orang-orang tionghua. Hanya membutuhkan tak lebih dari 6 bulan tak tampak lagi penduduk desa yang beraliran agama lain selain islam yang ada di desa tersebut. Bahkan ada rumah yang baru dibangun dan belum ditumpangi tapi keesokan harinya sudah terbakar menjadi debu. Tak ada satupun orang yang dapat menjawab siapa dalang dari semua kericuhan itu atau yang lebih tepatnya berani menjawab.

Beberapa bulan kemudian terlihat ramai kegiatan di sebelah rumah Muslim, banyak orang hillir mudik dan truck-truck pasir dan batu berkeliaran di sana. Rumah bekas kebakaran telah di tertutup oleh pagar seng. Tak butuh waktu lama sebuah mesjid telah berdiri disana dengan megah. Undangan di sebarkan ke seluruh pelosok kampung untuk sholat magrib berjamaah. Pukul 6 sore mesjid telah ramai didatangi oleh penduduk dari pelosok kampung. Acara akan dimulai dengan azan magrib dan sholat berjamaah yang langsung dipimpin oleh Muslim sebagai Imam. Acara kemudian akan dilanjutkan dengan makan-makan sedekahan dan juga sukuran mesjid. Adzan berkumandang ke seantero kampung, tampak pria berbaju gelap berjaga-jaga di sekitar mesjid dan menyuruh orang yang hendak mengikuti acara bergegas masuk kedalam mesjid. Banyak sekali orang yang sholat berjamaah ketika itu melebihi jamaah yang mengikuti sholat tarawih minggu pertama di bulan Ramadhan. Azan telah selesai berkumandang bersamaan dengan itu hujan turus dengan sangat derasnya sehingga tak ada satupun orang yang berada di luar mesjid dan tak mengikuti sholat magrib berjamaah. Muslim dengan kupiah putih dan sorban putihnya telah berada di tempat imam mengumandangkan takbir. Suara muslim yang serak dan keras itu dapat mengimbangi suara petir yang menggelegar di luar. Air hujan yang turun sangat dengat deras juga tak terlalu membawa pengaruh yang hebat pada kekhusukan jamaah, diawali sebuah petir yang sangat keras sehingga membuat kaca-kaca mesjid ikut bergetar. Tiba-tiba terdengar sebuah benda pecah diikuti bunyi tubuh yang roboh kelantai. Ternyata lampu kristal yang berharga puluhan juta itu telah jatuh dan menimpa Muslim yang sedang memimpin sholat berjamaah di mihrab. Lampu itu jatuh tepat mengenai kepalanya Muslim roboh dengan kepala dihimpit oleh batu kristal.

Tags: , , , , , , ,
Filed under chiffonier | 6 Comments »

8-9 april 2008

Posted on April 9th, 2008

pada tanggal 8 april 1994 sebenernya saya ada disamping kurt cobain, dia berulangkali curhat sebelum akhirnya dengan tegas mengatakan keputusannya kepada saya. saya berungkali mengatakan kepadanya untuk tidak menarik pelatuk pistol yang di genggamnya dan untuk tetap fokus dengan heroin yang sudah tiga kali disuntikkan ke tubuhnya itu. saya berulangkali mengingatkan kepadanya untuk “mengucap” dan mengingat Tuhan dan mengatakan kepadanya bahwa suicide adalah perbuatan rendah penakut dan tak bertanggung jawab, kasihan fansnya yang ribuan bahkan jutaan itu nanti bakal menangis dan meratapi nantinya.

tapi entah apa yang membuatnya begitu yakin akan keputusannya itu dan menjawab: “bagaimana kalau saya tidak menyesal?” saya sempat terkejut mendengar jawabannya saat itu, setidaknya 10 detik saya terdiam tak tau harus berkata apa mendengar jawabannya itu. kemudian saya kembali terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulutnya kemudian, “saya mau liat reaksi Tuhan nanti sewaktu menerima saya di alam sana, saya mau nunjukin ke Dia kalau ternyata sudah gagal menciptakan saya, hahahahahahahah” …..DUAR.

sementara itu pada tanggal di chicago tanggal 9 april 1926 lahir seorang yang nantinya akan memuaskan para pria dengan tubuh2 wanita. bayi itu kemudian diberi nama Hugh Marston Hefner. seseorang yang sangat berjasa dengan mengabadikan keindahan tubuh wanita dikemudian hari ke dalam lembaran2 kertas majalah yang kemudian menjadi sangat populer dan fenomenal yaitu “playboy”. saya sangat mengaguminya dengan konsistensinya untuk tetap cabul hingga umurnya yang mendekati habis kontrak itu.

dinegara saya tercinta ini pada tanggal 9 april diperingati sebagai hari peringatan hari penerbangan nasional, waktu yang tepat untuk memperingati kematian adam air. selamat ulang tahun TNI AU.

beberapa tahun yang lalu tepatnya tanggal 9 april 1945 BPUPKI dibentuk, badan yang kemudian dalam rapatnya menampilkan 3 orang ksatria yang berhasil mengemukakan dasar bagi negara kita sekarang. dalam rapat pertamanya inilah kemudian muncul dasar-dasar atau pondasi bagi dasar negara kita yaitu Pancasila. berturut-turut dari moh. Yamin tanggal 29 Mei, Prof. Dr. Mr. Soepomo pada tanggal 31 Mei 1945, dan 1 Juni 1945 oleh Ir. Soekarno. Dari dasar pemikiran ketiga orang itulah kemudian Pancasila kemudian di susun seperti sekarang.

pada tanggal 9 april 2008 elex media mengeluarkan 13 komik, Ruler of the land dan piano hutan tak termasuk diantaranya, menyebalkan.

ternyata banyak juga hal-hal yang penting terjadi antara tanggal 8 sampai 9 april dimana saya sedang duduk di depan komputer dan berselancar ke dunia maya. pada tanggal segitu di tahun 2008 ini. benar-benar mencengangkan….huhuhu saya tau ini terlalu mendramatisir. saya tidak akan menyianyiakan hari ini. saya sudah bertekat, tekat saya bulat. saya akan keluar rumah …… membeli lontong padang uni.

Tags: , , , , , , ,
Filed under chiffonier | 40 Comments »

ngerti nggak sih?

Posted on April 7th, 2008

pemasaran yang baik adalah memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan memenuhi permintaan akan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh pelanggan dengan baik, tapi terkadang user sendiri nggak ngerti dengan apa yang mereka butuhkan. untuk memberikan barang dan pelayanan yang baik demi kepuasan user diperlukan sebuah rangkaian proses produksi yang baik juga. untuk itu dibutuhkan manajemen dan tekhnologi yang baik.

bagi saya yang tak begitu mengerti ini, membangun manajemen yang baik di butuhkan kedisiplinan, hal yang menjadi musuh bagi saya dari saya kecil huhuhuhu.

lain halnya dengan negara2 maju yang terbiasa menyusun prosedur kerja mereka. Dalam perusahaan saya kami terbiasa dengan bermain sambil bekerja (bukan bekerja sambil bermain loh yah…..) karna ada perbedaan diantara hal itu menurut saya.
bermain sambil bekerja adalah kegiatan yang dilakukan dengan senang hati dan tak terbebankan tidak menjadikannya sebagai suatu kewajiban dan tugas. akan tetapi masih mendapatkan penghasilan dari kegiatan itu sehingga layak di sebut pekerjaan.
sementara bekerja sambil bermain lebih kepada ke tidak disiplinan dan menggampangkan pekerjaan sehingga akan menurunkan hasil yang didapat dari pekerjaan.

tapi ada kelemahan pada kegiatan bermain sambil bekerja ini, biasanya pekerjaan itu juga sering kali tergantung kepada suasana hati sang pelaku sehingga seringkali nggak menghasilkan hasil yang konstant. untuk itu saya rasa disiplin juga diperlukan dalam bermain.

kembali ke kegiatan manajemen tadi, menurut saya untuk memulai suatu bisnis walaupun itu bisnis kecil2an seperti yang sedang saya lakukan sekarang dibutuhkan suatu pendekatan seperti SWAT analisis, agar dapat mengetahui dengan jelas apa yang menjadi kelebihan, kekurangan, peluang dan juga ancaman yang kita hadapi. salah satu kelemahan yang saya sadari yaitu saya tak mengerti ttg manajemen. huhuhu

sama halnya dengan ngeblog, awalnya ngeblog hanya sekedar iseng dan dan hobby tapi nggak tau kenapa lama kelamaan ngeblog juga membutuhkan kedisiplinan, seperti kebiasaan untuk tetap menulis dan juga membaca tulisan orang. untuk terus dapat melakukan kegiatanmenulis dan blogwalking ini dan tidak menjadikannya sebagai suatu tugas dan kewajiban perlu untuk melihat kebelakang dasar awal kenapa memulai kegiatan tersebut dan mengapa hal tersebut dapat menjadi sebuah kesenangan atau hobby. yah tujuan adalah hal penting untuk ditetapkan sebelum berjalan karna kalau sedang cape dan bosan maka istirahat yang lama membuat lemas kaki untuk melanjutkan kegiatan yang udah dimulai. menetapkan tujuan membuat apa yang dikerjakan mempunyai arah yang jelas, jadi kalau tiba2 nyasar dan ketiduran bisa kembali ke track semula dengan cepat.
yang saya rasakan kalau udah lama banget nggak ngeblog dan sempat berhenti posting dan juga blogwalking maka akan timbul rasa malas atau bahkan pikiran tiba-tiba buntu nggak ngerti mo nulis apa. sama seperti sekarang saya nulis nggak jelas juntrungannya
huhuhuhuhu.

postingan ini terinspirasi dari tulisan manajemen dari seorang penulis fiksi horor. sayangnya saya nggak ngerti apa yang ditulisnya di sana.
huhuhuhuhuhu. yang saya tau tulisan itu sangat membantu bagi orang yang pengen belajar manajemen seperti saya. sayangnya saya gi libur belajar dan sedang bermain sambil bekerja. ntar kalo libur belajarnya abis dan harus belajar lagi saya pasti baca2 lagi postingan itu. ato ada niat wat ngajarin privat? huhuhuhuhu
:D

Tags: , , , , , , ,
Filed under Halitosis, Review | 23 Comments »

missing-u

Posted on April 6th, 2008

just wanna have some text with you

Tags: , , , ,
Filed under chiffonier | 14 Comments »