before the flu

Back To Zero

  • You are here: 
  • Home
  • Masril

Masril

Posted on June 12th, 2008

Masril tak seperti layaknya laki-laki kebanyakan, ada sedikit kekurangan yang dimilikinya yaitu kepandaiaannya yang di bawah rata-rata. Bahkan untuk naik ke kelas 3 sd saja ia tak sanggup. Beberapa kali ia mencobanya tapi selalu saja ia tetap tak dapat meyakinkan gurunya untuk dapat meaikkan kelasnya. Sampai akhirnya ia cukup cerdas untuk menghentikan upayanya itu dan berhenti sekolah.

Sewaktu kecil ia memang sering kali dikerjai oleh teman-teman sebayanya dan selalu mengolok-oloknya dengan memanggilnya celeng. Celeng adalah sebutan yang selalu di berikan kepadanya karna memiliki mata yang hampir mirip dengan Herman ngantuk. Walaupun ia di juluki mirip dengan artis tapi ia tak bangga karna sebutan itu hampir lebih memiliki makna cemooh ketimbang memuji dan ia tak perlu punya iq yang tinggi untuk mengerti itu.

Memang sedikit menganggu pada awal-awalnya tapi teman-temannya itu tak pernah lupa memanggilnya untuk bermain setiap harinya sehingga ia tak perlu merasa sendiri. Dengan kepintaran yang dibawah rata-rata itu dengan sendirinya Masril tak dapat memiliki pekerjaan yang dapat dibanggakan. Ia berberapa kali mencoba mencari pekerjaan namun ternyata menyap jalanan tampaknya satu-satunya yang mau menerimanya. Lewat beberapa kenalan orang tua dan saudara akhirnya Muslim dapat menjadi cleaning servis di sebuah Bank di Pekanbaru. Cukup lama dia bekerja di sana sampai akhirnya boss nya Pindah ke Bank Indonesia. Bossnya yang cukup sering ia bantu untuk membeli rokok dan mencuci mobilnya itu menawarkan ia untuk pindah kerumahnya. Ia tak begitu mengerti kenapa bossnya itu lalu mengatakan bahwa ia sekarang adalah salah satu anak dari beliau. Bossnya itu sangat baik kepadanya beberapa kali ia sudah membelikan makan siang untuknya dan ia lalu menyetujui untuk tinggal di rumah bossnya itu di jalan Rongowarsito salah satu komplek elit di kota itu.

Tak banyak yang berubah di hidupnya setelah ia tinggal di rumah bossnya itu, ia menempati ruangan di belakang garasi mobil yang terletak di pinggir rumah. Disamping pekerjaannya menyapu dan membersihkan kantor bank tempatnya bekerja ia tak lupa untuk selalu membersihkan pekarangan rumah bossnya itu dan merawat tanaman-tanamannya. Walaupun beberapa kali bossnya telah mengusulkan kepadanya untuk berhenti kerja di bank itu tapi ia tetap menolaknya. Sampai akhirnya bossnya itupun membiarkan Masril. Di depan halaman rumah tersebut di hiasi taman yang memiliki banyak bunga dan tanaman salah satu yang mencolok adalah pohon besar yag ada didekat pagar. Pohon itu sangat rindang dan banyak rantingnya. Musril banyak menghabiskan waktunya disana menyapu daun-daun yang jatuh ke tanah. Setiap hari daun-daun selalu memenuhi pekarangan rumah sehingga kotor jika tidak di bersihkan.

Suatu hari tetangga sebelah mengajak Masril untuk bermain di dekat lapangan tenis di komplek perumahan itu, hanya duduk-duduk saja ternyata mengobrol ngalor ngidul tapi tak terasa waktu telah menunjukkan larut malam dan ia baru menyadari kalau sore tadi tak sempat menyapu halaman. Ia lalu bergegas untuk pulang karna ia sangat takut sekali bossnya marah. Sesampainya di rumah ternyata rumahnya telah sepi orang-orang sudah tertidur ia dapat melihat lampu di ruang tamu telah mati dari luar pagar. Dan pintu pagarpun telah di tutup rapi. Walaupun ia telah diberi kunci pagar tapi ia merasa enggan untuk membuka pagar karna takut bunyinya akan membangunkan orang rumah. Lalu dengan hati-hati iapun lalu memanjat pagar. Belum sampai kakinya ke tanah halaman rumahnya terdengar suara seorang perempuan menegur.

Dasar Pemalas, pulang malam manjat pagar pula”. Musril sedikit terkejut mendengar teguran itu. Ternyata teguran itu berasal dari atas pohon rindang. Seorang wanita berambut sebahu seumuran ia sedang duduk di ranting sambil menatapnya tajam.

“eh, ngapa pulak kau? Rumah-rumah aku pun. Mau pulang malam pulang pagi kenapa pula kau ribut?” sahutnya ngotot, ia memang sedikit kesal karna wanita itu kurang ajar sekali memanggilnya pemalas.

“eh, jangan sok yah…. aku sudah tinggal di sini jauh sebelum kau tinggal disini. Liat daun-daun itu, kau tak menyapunya hari ini jadi kenapa pula kau tak mau di sebut pemalas”, sahutnya seperti bisa membaca pikiran Masril.

Masril lalu sedikit sadar bahwa siapa sesungguhnya wanita itu, sedikit banyak dia memang mendengar para tetangga menceritakan perempuan itu. Mungkin ini orang yang diceritakan itu pikirnya.

“Pohon itu memang tempat tinggal kau, tapi rumah ini tempat tinggal aku. Besok aku sapu daun-daun ini, aku mau masuk sekarang nanti bangun pula bapak gara-gara kau”, sahut Masril sambil berlalu ke kamarnya.

Entah karna kecapean atau karna malam yang sudha larut sesampainya di kamar Masril langsung tertidur. Pagi-pagi sekali ia bangun dan langsung keluar kamar dan membersihkan halaman ia takut bossnya bangun dan pergi kerja melihat halaman yang kotor karna tak sempat ia bersihkan hari sebelumnya. Sesampainya di dekat pohon besar itu Masril lalu melihat keatas ternyata wanita tadi malam sudah tak ada lagi disana. Iapun lalu kembali membersihkan halaman itu. Matahari telah mulai menerangi halaman rumah dan bossnya telah siap-siap hendak pergi kerja. Iapun lalu menghampiri bossnya itu.

“Pak maaf saya tadi malam pulang telat”, katanya sambil tertunduk.
“ya sudah tak apa-apa, lain kali kalau mau pulang malam kasih tau”. Sahut bossnya datar.
“baik pak”. Jawab Masril sambil tetap merasa bersalah.

Hari itu ia langsung pulang dan tak mampir-mampir lagi sehabis pulang kerja. Pikirannya masih kepada kejadian tadi malam, wanita yang tinggal di pohon rindang depan rumahnya itu masih berberkas di ingatannya. Sesampainya dirumah ia langsung menyapu halaman sambil sesekali melirik keatas pohon, tapi tak dapat ia melihat wanita itu ada disana. Sehabis makan malam tak seperti biasanya ia tak membantu mbok mencuci piring melainkan langsung masuk kamar dan menonton TV bossnya memang memberikannya TV 14″ untuknya sendiri di dalam kamarnya, jadi ia tak perlu malu hendak menonton TV bersama dengan boss dan istrinya itu. Malam itu tak seperti malam biasanya udara terasa sangat dingin sekali beberapa kali ia terkantuk-kantuk dan akhirnya Masril tak mampu melawan kantuknya dan tertidur sambil lupa mamtikan TV. Cukup lama ia tertidur sampai ia terbangun karna ketukan-ketukan di jendela kamarnya.

“hey, kalau tidur Tvnya jangan lupa dimatiin”, sahut suara orang dari luar.

Mendengar suara itu Masril langsung bangun dari tempat tidurnya dan mematikan TV yang tadi ia lupa matikan. Lalu ia bergegas melihat keluar jendela siapa yang telah membangunkan dan memarahinya tadi. Tapi tak tampak seorang pun berdiri diluar kamarnya. Iapun lalu kembali menutup jendela kamarnya karna udara diluar sangat dingin sekali. Belum sampai 5 menit ia mematikan lampu untuk meneruskan tidurnya lagi. Terdengar bunyi jendela seperti di ketuk-ketuk dari luar.

“hey kalau mau masuk, masuk aja.. nggak usah nganggu orang tidur”, entah dari mana ide itu timbul dari kepalanya tapi yang jelas kata-kata itu begitu saja meluncur dari mulutnya.
“kenapa kau tak takut sama aku?” terdengar suara wanita dari sebelah tempat tidurnya. Masril lalu menoleh kearah suara itu ternyata wanita yang tinggal di pohon rindang itu.

“kenapa aku harus takut? Kau tak seram pun”. Jawabnya polos.
“malam ini aku ngantuk sekali, besok aku harus ngantar anak bapak yang paling kecil sekolah naik sepeda. Beberapa hari ini dia tak mau sekolah kalau bukan aku yang ngantar. Jadi kalau mau ngobrol besok aja kau datang lagi, ya?” lanjut Masril dengan serius.

Tak terdengar perempuan itu menjawab sepatah katapun namun ia langsung membalikkan badan dan menghilang di balik dinding kamarnya. Ada sedikit perasaan seram di diri Masril tapi rasa takutnya kepada bossnya lebih menakutkannya ketimbang mengurusi wanita itu. Lalu Masril kembali memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.

Malam esoknya perempuan itu ternyata menagih janji Masril untuk mengobrol bersamanya. Kali ini perempuan itu tak menunggu Masril dulu untuk mempersilahkan masuk kesalam kamarnya terlebih dahulu. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di samping kursi ketika Masril sedang asyik menonton TV. Masril sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba itu. Ia lalu bergegas menutup pintu kamar takut bossnya memergokinya memasukkan wanita ke dalam kamarnya. Entah bagai mana mulanya tiba-tiba mereka sudha terlibat percakapan yang panjang. Cukup lama mereka berbincang-bincang ternyata wanita itu dulu meninggal di tempat itu di bunuh oleh perampok dan kemudian di buang di tempat itu, dulu rumah tempatnya tinggal ini adalah tempat yang sepi dan banyak di tumbuhi pohon-pohon. Entah kenapa ada sedikit nyaman berbicara dengan wanita itu, bentuknya tak seperti hantu-hantu yang dilihatnya di televisi bentuknya tak ubahnya seperti manusia biasa dan jauh dari kesan menyeramkan.

Hubungan Masril dengan wanita itu berlanjut hingga berbulan-bulan, tak banyak yang mereka lakukan hanya mengobrol dan berbincang-bincang hingga berjam-jam. Mereka mengobrol apa saja dan kadang-kadang wanitu itu menemani Masril ketika di suruh oleh bossnya untuk membeli sesuatu ke warung di ujung jalan. Pernah satu ketika ketika Masril sedang mengayuh sepedanya hendak pulang kerumahnya setelah membeli obat nyamuk dari ujung jalan ternyata ada orang yang terbang mengikutinya, orang itu ia katakan terbang karna kakinya tak napak ke tanah ia tampak seperti mencoba mengatakan sesuat kepada Masril tapi bentuk mukanya sangat menyeramkan matanya ilang satu dan dari mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Masril lalu mamacu sepedanya sekencang-kencangnya dan tak lagi menoleh kiri kanan. Sesampainya di rumah ia lalu meletakkan obat nyamuk dan langsung tidur sambil memegang Al-qur’an. Esok harinya barulah ia tau ternyata laki-laki itu adalah teman wanita yang tinggal di pohon dan hendak berteman dengannya kata wanita itu kepada Masril.

“aku tak mau, mukanya seram aku tak mau. Cukup kau ajalah, tak usah kau kenalkan aku ma kawan-kawan kau. Takut aku” kata Masril kepada wanita itu.

Tak terasa sudah lebih dari 2 tahun ia tinggal di rumah itu. Pagi tadi bossnya mengajaknya untuk sarapan bersama di meja makan. Ternyat bossnya tu mendapat tugas untuk pindah ke Malang. Dan seluruh keluarga akan ikut serta. Masril di minta untuk ikut bersama mereka ke Malang.

“maaf pak walaupun saya sudah besar tapi saya masih punya orang tua, jadi saya harus meminta ijin terleih dahulu kepada mereka”, jawab Masril mengenai ajakan tersebut.
“baiklah, tapi tolong kau kasih jawabannya secepatnya yah!” jawab boss masril. “minggu depan kita sudah pindah, jadi saya harus memesan tiket untuk kau jauh hari”. Lanjutnya tak lama berselang.

Siangnya Masril lalu menyambangi orangtuanya untuk meminta izin. Entah sudha beberapa kali Masril membujuk dan mengemukakan alasan tapi ternyata orang tuanya tetap dengan pendiriannya kalau ia tak boleh ikut pergi ke Malang.

“Ril, malang tu jauh. Kami mungkin tak lagi bisa nengok kau. Kalau kau tak sayang ma orang tuamu ini kau pergilah, tinggalkan kami”. Kata-kata pamungkas itu akhirnya keluar juga dari mulut bapak kandungnya itu.

Setelah memberitahukan hasil pembicaraannya dengan orang tua kandungnya itu kepada bossnya, dengan berat hati bossnya ternyata merelakan Masril untuk tidak ikut ke Malang. Malam itu adalah malam perpisahan mereka merayakannya dengan makan-makan di restoran mahal. Tak terasa waktu yang tak dinantikan itu tiba, kedua anak boss yang biasa bermain dengannya itu tak henti-hentinya menangis mengetahui Masril tak ikut pindah ke Malang. Keduanya cuma mau tidur sewaktu Masril janji untuk ikut tidur di kamar mereka malam itu. Namun setelah kedua anak itu tidur Masrilpun kembali kekamarnya. Setelah selesai memeriksa barang-barangnya Masril pun keluar kamar dan pergi ke pohon rindang di depan rumah. Wanita temannya itu telah duduk di salah satu ranting dengan muka yang lesu. Masril hanya duduk diam di bawah pohon tampa banyak bicara sambil mengisap rokok surya rokok kegemarannya. Wanita itupun tampak tak seperti hendak memulai pembicaraan juga. Setelah dua batang rokok dihabiskannya Masril lalu berdiri dan membersihkan celananya bekas ia duduk tadi.

“aku pindah besok, kau mau ikut aku apa tinggal di sini?” terdengar kalimat itu keluar dari mulut Masril. “aku ikut”. Tak banyak ternyata jawaban yang diberikan oleh perempuan itu.
“ya sudah”, lanjut Masril tak kalah pelitnya sambil berjalan ke kamarnya.

Pagi-pagi sekali Masril sudah bangun dan membantu bossnya untuk pindahan, akhirnya ia hanya dapat mengeluarkan airmata melihat bossnya pergi meninggalkan rumah dengan keluarganya. Ia tak diperbolehkan untuk mengantar ke bandara karna dua anak bossnya tak henti-hentinya menangis bila melihatnya. Akhirnya Masril disuruh untuk pergi kerumah sebelah dan melihat mereka pergi dari jauh. Tak terasa air mata mengalir di pipinya ketika ia mengambil tasnya dan menitipkan kunci ke satpam rumah. Masril sudah hendak mengayuh sepedanya ketika ada suara di dekatnya.

“mau kemana kita?” ternyata suara wanita penunggu pohonrindang.
“eh, kenapa aku bisa liat kau siang-siang?” Masril malah balik bertanya.
“entahlah, manaku tahu?” lanjut wanita itu.
“ya sudah, ikut ajalah”, jawab Masril. Semenjak itu kemanapun Masril pergi wantia itu selalu mengikutinya.

Masril ternyata di minta untuk tinggal di rumah adik bapaknya yang sedang sakit kena stroke. Sudah 5 tahun pamannya itu menderita sakit dan tak dapat turun dari tempat tidurnya. Keluarga itu memang sudah akrab dengan dirinya dari dulu bahkan ada salah satudari anak pamannya itu sepanteran dengan dia dan menjadi teman mainnya dari dulu. Suatu sore pamannya itu tak disangka menegurnya sewaktu ia memijit kaki beliau.

“hey ril, siapa cewe kau?” kata beliau.
“tak ada Paklung”, jawabnya sopan.
“alah tak usahlah kau bohong ma Paklung”, jawab pamannya itu mendesak.
“tak ada paklung, kami Cuma bekawan”, lanjut Masril sedikit takut.
“ya sudah kalau gitu, tapi tak baik bekawan cam tu”, lanjutnya.

Masril hanya tertunduk, ia tak menyangka pamannyaitu tau ia telah berkawan dengan makhluk halus. Malamnya ia termenung sendiri di kamarnya, kata-kata pamannya masih terngiang di telinganya. Tak lama kemudian wanita temannya itupun muncul di samping kamarnya dengan muka yang lebih pucat dari biasanya.

“mau kah kau kawin sama aku?” tanya wanita itu.
“ah cam mana kauni, kau dah mati aku masih hidup, cam mana pulak kita mau kawin?” jawab Masril dengan serius.
“kalau kau mau kau bisa hidup dengan ku di duniaku”, kata wanita itu tak kalah seriusnya.
“ah, aku memang bodoh, tapi sebodoh itu. Aku masih mau hidup”, jawab masril sedikit takut.
“aku rasa paman aku tu betul, tak baik hubungan macamni. Kalau kau betul sayang ma aku mau tak kau melepas aku?” tanya masril kemudian. Wanita itu hanya membalikkan bandan lalu pergi menembus dinding. Untuk beberapa hari lamanya Masril kemudian tak lagi melihat wanita itu.

“paklung, saya dah putuskan kawan saya tuh semalam”, kata masril kepada pamannya ketika ia sedang berduaan sore itu.
“hmmm, baguslah”, jawab pamannya dengan pelan.

Dapat terlihat sedikit wajah lega di muka pamannya itu. Hanya segitu saja percakapan mereka berdua waktu itu. Tapi entah bagaimana ceritanya keesokan harinya orang tua Masril telah ada di rumah itu dengan seorang perempuan. Tak cantik memang malah kakinya sedikit pincang namun ce itu memakai kerudung. Masril diminta berkenalan dengan wanita itu. Dan ternyata orang tuanya bermaksud menjodohkan dirinya dengan wanita itu.

“Pak, apa dia tau dengan keadaan diriku?” tanya Masril kepada orang tuanya.
“iya, dia dah aku kasih tau”, jawab orang tuanya.

“apa kau tak malu kawin dengan orang yang tak lulus SD, dan kerjanya Cuma nyapu dna bersih-bersih?”, tanya masril kepada wanita itu.
“aku tak keberatan, kalau kau tak keberatan dengan kakiku”, jawab ce itu.
“ya sudah kalau gitu terserah, tapi besok-besok jangan nyesal ndak?” lanjut masril.
“tak kan” jawab ce itu tegas.

Orang tua Masril tampak tersenyum lega, dan pamannya yang juga ada di situ juga tampak tersenyum puas.

Ternyata malam harinya wanita penunggu pohon rindang itu datang lagi dengan muka yang sedikit marah.

“kenapa kau menikah dengan orang lain?” katanya ketus. ”
aku tak punya pilihan lain, dunia kita berbeda. Tentu kau lebih tau itu”, jawab Masril.
“sudahlah, relakan saja aku. Aku hubungan ini kita sudahi saja”, lanjut Masril.

Wanita itu ternyata hanya terdiam dan membalikkan badan lalu hilang di balik tembok. Semenjak itu Masril tak pernah lagi melihat wanita itu. Sekarang Masril dikaruniai seorang anak laki-laki yang mungil dan tampak aktif. Masril melalui beberapa koneksi ternyata bisa menjadi PNS setelah mengikuti ujian persamaan. Untuk mencukui kebutuhan hidupnya Masril berternak ikan patin dan dipercaya menjalankan mesin photocopy di kantor tempatnya bekerja.

*Masril adalah sepupuku,  Cerita dia atas di tuturkan kembali semirip mungkin dengan cerita yang pernah ia ceritakan kepada saya.


Tulisan Terkait:

Tags: , , ,
Filed under chiffonier |

9 Responses to “Masril”

  1. fans berat bedhiah.com Says:
    June 12th, 2008 at 6:15 pm

    anjrit!!!
    serius bedh!?!?!?!
    anjrit!!

    *merinding*

    ondeh mandehhhhhhhhhhh

    *masih merinding*

    kalo gitu kaya’nya aku tau siapa paman yang di pijitnya tu,.. hehehe,..

    *cium abed ah!*

  2. bedh Says:
    June 13th, 2008 at 4:25 am

    @albelly rajanya gadjet
    huhuhu
    tapi denger cerita aslinya sih nggak serem2 banget bay, doi nyertitainnya nyante aja soalnya sambil ketawa-ketiwi. hehehe
    masih ada beberapa bagian yang aku lupa masukin sih,misyalnya waktu doi pulang kampung naik kapal ketakutan kalau harus bayar 2 karna dia cuma yar satu sedangkan ce itu nggak dia beliin tiket,
    atau cerita dia ketemu ma orang tua yang ngajarin dia ngaji dan sholat. huhuhu
    dah kepanjangan soalnya.
    :)

  3. Setiaji Says:
    June 13th, 2008 at 9:23 am

    keren banget ceritanya, ini beneran kisah nyata khan ? hmm bisa dijadiin novel nih. btw salam kenal :)

  4. kakanda Says:
    June 14th, 2008 at 8:59 am

    salam silaturahim
    setiap manusia, disamping kekurangan, akan banyak kelebihannya,

    bicara dengan dunia lain ? bener ngga ya…

  5. azaxs Says:
    June 14th, 2008 at 5:15 pm

    Wey.. crita nyata nih mas?

    Serem sih tapi memang ada sbagian orang yang bisa berhubungan dengan “mereka”, bagaimanapun “mereka” memang ada…

    Kalo saya sih…. Takut :)

  6. uwiuw Says:
    June 14th, 2008 at 8:12 pm

    wah menarik sy…mengalir membacanya…namuan apa si masril tidak memberi nama sama si cewek itu ? sekalipun gaib, kayaknya pasti punya nama deh…atau sy yg (terlalu) curigaan ?

  7. bedh Says:
    June 16th, 2008 at 5:43 am

    @setiaji
    saya cuma mendengar cerita ini dari saudara saya, soal benarnya sih saya nggak begitu ngerti tapi cerita ini ditulis semirip mungkin dari cerita pelakunya. :)

    @kakanda
    waalikum sallam kakanda
    saya setuju setiap manusia memang memiliki kelebihan dan kekurangannya. untuk Masril saya banyak belajar untuk tidak terlalu membesar-besarkan dan hidup nyantai dan apa adanya. ada beberapa kelebihan dan kekurangannya juga, tapi terasa lebih nyaman. :)

    @azaxs
    sebenernya dia menceritakannya dengan nyante kok nggak ada horrornya sama sekali malah waktu itu sibuk ketawa ketiwi. yang saya salut dia melewati semua itu dengan santai saja dan itu membuat saya sedikit iri beda dengan saya .

    @umiuw
    waktu itu memang dia menyebutkan nama wanita itu kepada saya tapi saya nggak begitu ditail menanggapi apa dan bagaimana wanita itu karna memang pada dasarnya saya juga tidak begitu tertarik kemasalah gaib seperti ini. cara ia menanggapi dan menceritakan kejadian itu lebih menarik bagi saya. sayang saya tak begitu ahli menuturkannya kembali dalam tulisan ini sehingga membuat yang membacanya menjadi takut dan tak dapat menagkap suasana waktu ia menceritakan hal tersebut.

  8. zee Says:
    June 16th, 2008 at 7:00 am

    Baru x ini sy baca postingan ala cerpen begini dgn serius. Sampe dibalik2 lagi bacanya, biar bs mengkhayati betul tempat lokasi & waktu. Ck ck ck… Ceritanya bagus, even serem ……!! Mustinya dikirim ke majalah nie…

  9. ew Says:
    June 17th, 2008 at 6:48 pm

    asyik juga mbaca cerita di atas, sikap Masril yang apa adanya, termasuk jujur itu pantas buat pelajaran hidup.

    ada lanjutannya ndak ? penasaran nih … pasti masih ada banyak cerita ttg hantu2 yg lain, soalnya nggak setiap orang khan percaya soal yg satu ini, jadi kalau masih ada yg bener2 bisa berteman dengan mereka, asyik juga bisa dapat pengalaman lain lebih banyak

Leave a Reply