Manusia Purba
Posted on January 4th, 2008
Tak ada awalnya cerita ini,
Keluar begitu saja dari otak bercecer-cecer di tuts keyboard tak berusaha untuk mengendali atau sedikit saja dikendalikan. Cerita seorang manusia yang mencoba menjadi manusia ditengah peradaban sosial yang modren dengan keadaannya yang serba purba.
Cerita tentang pria berkulit hitam tak berbaju dengan rambut lusuh dan perut buncit. Dia memiliki kata-kata tak jelas, yang tak dapat di mengerti keluar dari mulutnya yang lebar dan berbibir tebal itu. Gigi-gigi kecil putih itu tak dapat menyembunyikan keburukan si purba. Beberapa orang yang telah ia coba ajak berbicara memandangnya dengan mata menyipit dan menutup hidung untuk kemudian beranjak cepat-cepat seperti di kejar hantu.
Sebenarnya bibirnya seperti kelihatan lebih hitam dari pada rambutnya, mungkin karna nikotin yang dihisap dari tembakau yang terbungkus daun nipa itu.
Sisa bau rokok itu tak bisa dibilang harum, teramat menusuk hidung membuat nafas sesak. Sisa bau asap rokok itu memiliki bau busuk yang tak kalah hebatnya dengan bau mulutnya. Tak banyak yang dapat dia kerjakan ditengah kota ini dengan celana hitam dan kaki tak bersendal itu.
Seseorang telah menipunya dengan menjanjikan sebuah pembangunan jalan yang natinya bisa membawa keluarganya ke angkasa, terbang ke atas langit menombak matahari yang telah beberapa kali melukai kulit ibunya yang gendut dan memiliki payudara besar yang dibiarkan tebuka di hinggapi lalat.
Manusia tak beradap ini sebenernya tidak terlalu seram dengan segudang keburukan dan keangkeran wajahnya yang tertulis. Malahan orang tak akan sanggup untuk sedikit memperhatikannya karna sebenarnya dirinya pun tak begitu punya kesibukan untuk sedikit saja memperhatikan diri sendiri.
Berjalan dengan kaki telanjang di tengah-tengah peradaban dengan bau busuk, ketololan dan juga amarah. Ia berjalan diantara kebusukan-kebusukan peradaban dan kepintaran masyarakat yang di tutupi oleh bau parfum mahal yang tak didapatnya dari tumbuh-tumbuhan yang dia temui setiap harinya di kampungnya dulu. Benar-benar tak sesuai dengan gambar yang ada di botol pemanis alat kamuflase kepintaran dan peradaban yang dia lihat di selembaran iklan yang terpampang di dinding pagar rumah bening di pinggir jalan besar itu.
seorang tua berjenggot putih melewati leher berpakaian rapi beberapa hari yang lalu datang menemuinya meminta ukiran yang sudah berbulan-bulan diukirnya dengan sepenuh hati. Ukiran yang nantinya akan dijadikannya tempat memohon dan meminta perlindungan dan kesuburan itu harus dapat direlakan demi satu ramalan yang datang dari langit bahwa ia harus ke kota menemui seorang perempuan yang cantik jelita berambut panjang yang memiliki mata bening dan senyuman yang dapat membuat awan berhenti menutupi bulan.
Orang tua itu bilang wanita itu memiliki tubuh yang kurus dan perut ramping tak seperti perempuan-perempuan di tempatnya tinggal. Perempuan itu bagai bidadari yang mempunyai tangan yang kecil dan lembut, jadi dia harus berhati-hati ketika menyalaminya nati. Begitu takutnya sang purba sampai-sampai membayangkanya pun ia meringis melihat bidadarinya itu kesakitan.
Pak tua itu tak memberikan ciri-ciri yang lebih jelas karna banyak sekali wanita seperti itu di tengah kota ini, untunglah ada satu ciri yang belum dia temui dari sekian banyak bidadari itu. Bidadari jatahnya itu harus sama dengan dia … tak pakai baju.
Seharian keliling kota membuat dirinya lapar dan mengeluarkan air di sekujur kulit, bukan persoalan besar sebenarnya tapi dia sudah merasa telah dibohongi dewa yang ia lihat di kotak bersinar di rumah kepala suku itu. Seharusnya ia menuruti kata bapaknya menerima lamaran dukun kampung untung dikawinkan dengan anaknya yang memiliki pantat besar itu. Kata pak dukun itu anaknya sehat dan bisa melahirkan anak lebih dari 7 orang dengan pantatnya yang melebar itu. Ia menyesal membuang ukiran sepenuh hatinya itu ke jurang tadi pagi karna rasanya tak mungkin menemukan bidadarinya itu.
Tulisan Terkait:
Tags: Bidadari, Bodoh, Kolot, Manusia, Pungguk, Purba
Filed under chiffonier |
9 Responses to “Manusia Purba”
-
gempur Says:
January 4th, 2008 at 10:48 amEhm, saya suka gaya bahasanya yang mengalir, paling suka di bagian ini:
Ia berjalan diantara kebusukan-kebusukan peradaban dan kepintaran masyarakat yang di tutupi oleh bau parfum mahal yang tak didapatnya dari tumbuh-tumbuhan yang dia temui setiap harinya di kampungnya dulu. Benar-benar tak sesuai dengan gambar yang ada di botol pemanis alat kamuflase kepintaran dan peradaban yang dia lihat di selembaran iklan yang terpampang di dinding pagar rumah bening di pinggir jalan besar itu.
Yup, pastinya sebuah peradaban yang mampu meng-kamuflase kedalaman menjadi kedangkalan, ketinggian menjadi kerendahan..
Mudah2an saya menjadi pembaca setia blog ini. Blog baru dengan hosting baru di tahun baru dengan semangat baru.. hehehehe
-
toni Says:
January 4th, 2008 at 1:34 pmgood story meskipun saya ga terlalu ngerti
,,,salam kenal buat mas atau mbak bedh nih?
… -
erander Says:
January 4th, 2008 at 9:47 pmSeharusnya ia menuruti kata bapaknya menerima lamaran dukun kampung untung dikawinkan dengan anaknya yang memiliki pantat besar itu. Kata pak dukun itu anaknya sehat dan bisa melahirkan anak lebih dari 7 orang dengan pantatnya yang melebar itu.
Keren banget kalimatnya. Sampe saya tertawa membacanya. Seru. Oya .. jadi peaceofme sudah close ya? atau masih aktif?
Thanks ya sudah meletakkan kata di blog saya.
-
nane Says:
January 5th, 2008 at 7:39 pmcuit cuiiit… blog baruuu…

iiih… pak tuanya pornooo… masa maunya bidadari yg nggak pake bajuu.. >_<
-
bayu Says:
January 7th, 2008 at 3:43 amhaluuu haluuu
manusia baja disini,..
calling manusia purba,..haluuu haluuuu
bayu’s last blog post..Happy Nu Yeaaarrrr!!!!!!!!
-
Raja Huta Says:
January 8th, 2008 at 2:40 amkeren
Raja Huta’s last blog post..Kalian Harus Bangga Menjadi Orang Batak
makasih yah bang
-
bayu Says:
January 10th, 2008 at 2:28 amweleh,.
mo ke agung yah?
si agung paling2 di kost-an.
kabrin kalo udah di jkt!bayu’s last blog post..Pencarian
ntarlah bay….tiba2 jadi malas pulak wakkkk




