cerita yang aneh
Posted on January 9th, 2008
aku tersadar di sebelah sungai yang keruh sekali, aku yakin banyak sekali buaya yang berkeliaran di sungai ini. rumput-rumput liar di sekitar sungai ini memberikan kesan angker. bunyi gemercik air yang samar-samar terdengar membuatku sadar, cepat-cepat berdiri dan menjauh. walaupun masih sedikit terasa sekali nyeri di dada.
tak butuh waktu lama untuk membuka mata yang perih ini, namun perut masih sedikit terasa kembung. mungkin karna minum terlalu banyak air. seingatku tadi, baru saja… aku main di pinggir kolam renang milik seorang teman. tapi mendadak semuanya jadi gelap gulita setelah sebelumnya aku rasa ada seorang yang jahil hendak menyeburkanku ke kolam. kenapa mereka tega sekali yah…. padahalkan mereka tau kalau aku nggak bisa berenang.
mendadak aku menyadari ada sedikit keanehan dengan pakaian yang kugunakan.
kenapa aku nggak pake baju?
lalu kenapa juga celananya jadi hitam kucel gini?
tapi ….
loh perut saya kenapa jadi six pack gini yah? huhuhu
saya yakin sekali saya sedang tersenyum gimana tidak perut saya datar sixpack pula. reflek saya lalu memegang rambut….. saya gondrong
aneh sekali. tidak terlalu lama saya dibiarkan kebingungan ada seorang tua yang berlari-lari ke arah saya.
“kamu nggak apa-apa le?”, katanya.
“saya? bapak bicara dengan saya?”, jawab ku
“bocah gendeng siapa lagi? tentu saja kamu”, kata pak tua itu lanjut
“lah….bapak siapa?”, tanya saya kebingungan
“saya siapa? anak kurang ajar. saya Lembong. orang yang sudah membesarkanmu dari kecil, siapa lagi?” jawabnya galak
“lembong?” tanyaku pelan, seperti bertanya pada diri sendiri.
“sudahlah, pasti kepala mu sakit, kena pukul para begundal yang kau curangi saat bermain judi tadi”, katanya lanjut.
tak sempat aku menjawab lebih lanjut orang tua itu sudah menarikku untuk berlari memasuki hutan menyusuri tanah setapak. aku hanya mengikutinya saja tanpa banyak bertanya. terlalu banyak pertanyaan yang harus kutanyakan. bukan waktu yang tepat karna pak tua itu berjalan seperti di kejar setan. langkahnya cepat sekali, dia hapal benar jalan setapak ini padahal jalan ini seperti tak pernah di lewati orang. di ujung jalan terlihat sebuah rumah mungil dari kayu. reot dan saya yakin tak ada listrik di sana. pak tua itu nyaman sekali memasuki rumah itu seperti sudah bertahun-tahun tinggal di sana. mana mungkin ada orang yang tinggal di sini pikirku. jauh dari kota dan perdaban. tak ada listrik pula. aku hanya berdiri menunggu orang tua itu di halaman luar. tak berapa lama dia keluar lagi dan memandang ku heran.
“bocah gendeng, ngapain kamu di sana?”
“hayo masuk!”
aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah itu. rumah yang jorok sekali. cuma ada dipan dan lantai yang terbuat dari tanah tak ditutupi karpet dan juga banyak sekali lalat yang bertebangan di atas makanan yang tergeletak begitu saja diatas meja kayu.
“makan lah dulu siapkan tenagamu nanti malam kita punya kerjaan”, kata pak tua itu.
“tadi di pasar aku sempat dengar di sebelah kanan hutan ini ada rumah saudagar kaya, dia tinggal sendiri di rumah itu bersama keluarganya, dia sasaran kita malam ini.” ujarnya lanjut.
“mangnya kita mau ngapa?” tanyaku.
“lah, mau ngapain lagi? yah maling lah…. seperti biasa, aku kan pencuri masa mau belajar ngaji?”
“kamu ini bodoh sekali, sudah kubilang hati-hati kalau berkelahi. jangan sampai kepalamu di pukul orang. beginilah jadinya. salah kamu sendiri kenapa terlalu suka berjudi.”
“oh ya rok, selesai makan tolong kau buatkan kopi untuk ku”
“rok?, bapak bicara ma saya?” tanya ku bego.
“siapa lagi?, ya kamulah KEN AROK. sapa lagi?” jawabnya ngotot.
hampir saja nasi dimulutku berhamburan keluar saking kagetnya.
“aku ken arok?” tanya ku kepadanya
“ya iyalah, memangnya kamu tunggul ametung? seorang raja, sudahlah pusing aku biacara ma orang bego sepertimu”.
“habis makan buatkan aku kopi!” katanya tegas.
tak selera aku melanjutkan makan, ken arok?
aku ternyata ken arok.
lah kok bisa?
gila ….. bener2 gila. aku sudah gila. gilaaaaaaaaa.
berangsut-angsut aku pergi keluar ruangan itu, berpura-pura hendak mencuci piring bekas makanku tadi. sekilas tadi sempat kulihat di belakang rumah ada bejana air. mungkin di sana ada sumur, pikirku.
ken arok?
kenapa aku jadi ken arok?
apa mungkin ini kejadian seperti di film2 itu?
aku kembali kemasa lalu.
tapi kalau benar begitu aku ini ken arok sebelum jadi seorang raja. menurut sejarah yang dulu pernah ku baca ken arok memang di asuh oleh seorang pencuri. Dia memang gemar berjudi dan punya banyak hutang. pantas saja bapak itu tadi bilang kalau nanti malam dia mau mencuri.
aku mencuri?
benar-benar gila….
mana mungkin.
lebih baik aku mati.
bisa nangis darah bapak ku di kuburan kalau aku jadi pencuri.
aku harus pergi dari sini…
aku harus pergi.
yah …pergi.
secepatnya.
aku lalu berjalan mengendap-endap menuju jalan setapak di belakang rumah itu… setelah yakin sudah agak jauh. mulai ku kerahkan semua tenaga yang ada untuk lari sekencang-kencangnya. ku udahakan untuk tak menoleh kebelakang. sekian lama berlari di campur dengan jalan cepat badan ini terasa capek sekali. aku yakin hari sudah hampir pagi. tadi sempat terdengar suara ayam jantan berkokok. badan ku pegal sekali nafaspun sudah sangat terasa sesak.
samar-samar terlihat sebuah gubuk yang mengepulkan asap diujung sana. rumah itu memang tidak bagus tapi bersih sekali. mungkin tempat tinggal seorang pendeta pikirku. orangnya pasti ramah. entah dari mana kudapat pikiran itu. dengan sedikit berharap kuketuk rumah itu sesopan mungkin. terdengar suara orang tua memanggil nama baruku.
“ken arok, masuklah…sudah lama aku menunggumu”, katanya dari dalam. walaupun merasa heran tetap kubuka pintu itu dan mencoba duduk di depan seorang pendeta tua duduk bersila memejamkan mata itu.
“Ken arok, namaku Mpu Purwa. aku seorang pendeta Hindu Wisnu”
“aku punya seorang anak yang di culik oleh penguasa Tumapel, kumohon kepadamu untuk menyelamatkannya, maka kau dan keturunanmu akan mendapatkan kejayaan”.
“maaf mpu purwa, saya bukan siapa-siapa. mana mungkin saya bisa melawan penguasa. gile aje. huhuhuhu” kata-kata orang tua itu nggak mampu kuartikan sebagai suatu hal yang serius lagi.
“asalkan kau mau menuruti semua kata2 ku, kau pasti bisa”. katanya nyolot.
…………
“tapi saya tak tau yang mana anak mpu”, kataku lanjut.
tiba-tiba dari tangan pak tua itu keluar asap berwarna putih lama kelamaan asap itu semakin bergumpal-gumpal dan anehnya asap itu tak beranjak pergi hanya bergerak-gerak diatas tangan orang tua itu.
“coba kau lihat ke dalam asap itu, itulah rupa anakku”, katanya
kucondongkan badanku kearahnya berusaha melihat kedalam asap, pertama-tama tak kulihat apapun di dalam sana selain asap. tapi lama kelamaan seperti ada bayangan. lama kelamaan bayangan itu semakin jelas. lalu terlihatlah seorang wanita. wanita berpakaian berwarna gelap. tapi entah kenapa tiba2 saja bajunya tersingkap. sehingga perutnya kelihatan. kulit yang putih sekali. perut yang ramping sekali pikirku huhuhuuh aku jadi teringat perutku yang sekarang tiba2 ikut2an ramping hihihihi.
“sudah, jangan lama-lama” kata pak tua itu menepiskan asap yang berkumpul itu.
“tapi pak, saya belum lihat wajahnya”, kataku lanjut
“sudah segitu saja cukup, nanti pas tiba saatnya nanti kamu pasti tau. setelah ini pergilah ke kota, dan mendaftarlah jadi prajurit di Tumapel. setelah kau rasa cukup masa carilah seorang pandai keris yang bernama Mpu Gandring dan mintalah sebuah keris padanya. dengan keris itu kau akan dapat mengubah hidupmu, menyelamatkan anakku dan membalaskan sakit hatiku”.
“pergilah”, katanya tanpa basa basi.
aku pun lalu beranjak dari tempat itu dengan terbengong-bengong. orang tua yang aneh. belum sempat kubuka pintu rumah itu terdengar suara dari dalam ruangan tadi.
“kau harus mengingat nama anakku baik-baik, namanya KEN DEDES”
gubrak…
Ken dedes? aneh sekali…. ada-ada aja. aku betul2 tak kuat. hampir saja tawaku tersembur saat itu juga. tapi nggak enak, bapak itu tua sekali. lagian tangannya bisa ngeluarin asap. serem……. knapa juga nggak ngeliatin photonya aja. sok dramatis.
tak jauh aku berjalan dari rumah itu aku memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon besar yang kujumpai. perut anak pak tua itu selalu terbayang-bayang di kepalaku.
kok bisa?
apa benar dia ken dedes yang ada di cerita-cerita itu?
apa benar aku ken arok?
tapi kenapa perut?
kan ken arok jatuh cinta sama betis ken dedes bukan perut.
aneh-aneh aja….
tapi perutnya lucu sekali…..
bayangan perut itu nggak bisa ilang, selalu terbayang-bayang di kepala ini.
buset dagh, masa aku jatuh cinta ma perut sih?
aku kan belum pernah liat mukanya?
yang bener aja.
tapi kok nggak bisa ilang?
AKU CUMA LIAT PERUTNYA…….
yang benar aja.
gila benar2 gila….. apa2an ni. benar-benar sudah keterlaluan. bukan begini cerita ini seharusnya. ngawur…benar-benar ngawur….
somebody ….please.
someone…….
change the channel please……..
Tulisan Terkait:
Tags: Bidadari, Bodoh, Pungguk, Purba
Filed under chiffonier |
38 Responses to “cerita yang aneh”
-
Praditya Says:
January 9th, 2008 at 4:02 amDasar gilaakk!!! :lol:
Btw, beneran nih sikspek???!!!
Praditya’s last blog post..Lha, Ini Kok Kopdar Lagi?
-
komunal Says:
January 9th, 2008 at 4:46 amwoi pelacur gendut….
sok sastra kau.hell yeah…..
biar aja
-
hadi arr Says:
January 9th, 2008 at 11:57 amakhirnya ketahuan juga yang lagi lapar, ingetannya selalu perut.
btw, kalau perut lapar nggak bisa mikir……..
aku makan dulu yaaaahadi arr’s last blog post..Kakiku 10,5 juta
iya ni pak, bawaanya laper mulu kalo dingin2. huhuhu emang bener tuh kalo orang laper mang suka rada susah kalo disuruh mikir, kalo keseringan kelaparan malah bisa bikin orang jadi iblis malah huhuhuhuhu
-
aprikot Says:
January 9th, 2008 at 2:06 pmimajinasi bawah sadar ato secara sadar ini

aprikot’s last blog post..andhini
wah nggak pernah kepikiran tuh, soalnya saya sering susah bedain yang mana gi sadar ato gi gak sadar huhuhu
-
niez Says:
January 9th, 2008 at 4:38 pmapa sih yang ada di kepalamu hah ?!!
gemblung…niez’s last blog post..Sms Itu Datang
huhuhuhu comment terbaik

-
caplang[dot]net Says:
January 9th, 2008 at 5:15 pmtes komen untuk plugin baru
bro, tolong cek inboxnya yak
caplang[dot]net’s last blog post..Pake Google Reader Supaya Ga Keder
gimana bro dah ada cara lain? ato mycommandna dah bisa jalan?
-
Siti Jenang Says:
January 9th, 2008 at 5:34 pmweteng kanggo meteng… he he he

Siti Jenang’s last blog post..Bahasa Jawa: Do’a Warisan Orang Tua
asal jangan kanggo metengi weteng aja huhuhuh
-
qzink arok Says:
January 9th, 2008 at 11:36 pmBerani-beraninya kamu memparodikan jagoan saya..
Awas kamu yak..
*mengasah golok*qzink arok’s last blog post..Kitab Sasangka Djati [habis]
huhuhuhu maap mas setan arok, abis saya juga mengidolakan dirimu sih huhuhu nomer 2 tapi di bawah bayu. huhuhuhu
-
nane Says:
January 9th, 2008 at 11:37 pmkeren…keren… imajinasimu liar juga yaa.. hahaha… tapi konsentrasi gw terpecah pas nyampe ken arok dan dewa dewi… huhu.. maklumlah.. nggak pernah suka sejarah.. ;[
nane’s last blog post..my machine
huhuhu iya ni liar tak terkendali huhuhu, gw malah nggak mudeng bagian mana yang ken arok ketemu dewa dewinya huhuhu. gak papa nane biarpun lo nggak suka sejarah gw masih tetep suka kok ma lo huhuhhu
-
perempuan Says:
January 10th, 2008 at 12:37 amsengaja dibuat aneh?
gak sengaja mbak, dari sononya sih huhuhuhu
-
Hoek Soegirang Says:
January 10th, 2008 at 1:48 am*ngakak guling-guling*
gila…lebih ancur darifada cerfen bikinan saia…
kalo gidu, saia berguru wahai ken arok!!!
*menjura*Hoek Soegirang’s last blog post..Findahan? Arrrgghhh…….
mana bisa, lah wong saya nyontek situ kok huhuhuhu, *menjura dengan hormat*
-
bayu Says:
January 10th, 2008 at 2:47 amheuehuehauh,..
sial,..
he did it again,..bayu’s last blog post..Pencarian
napa nggak pake oups aja sekalian biar makin mirip ma britney sempirs huhuhu
-
Hair Says:
January 10th, 2008 at 2:59 amOrang-orang yang seperti ini yang dicari-cari
huhuhuuh nggak jelas, gi nyari siapa mas? kalo dah ktemu ditunggu masukan ma kritikannya yah ….
-
deKing Says:
January 10th, 2008 at 5:45 am“…salah kamu sendiri kenapa terlalu suka berjudi.”
Ah pasti belum baca tulisan saya. Kan sudah pernah saya tulis kalau judi itu haram … dan “(bahkan) matematika pun mengharamkan judi” :mrgreen:
deKing’s last blog post..Road to “Sangkan Paraning Dumadi”
saya baca kok, kamu dah baca belum? huhuhuhuhu
-
andi bagus Says:
January 10th, 2008 at 6:41 amsemoga six pack nya terwujud..

andi bagus’s last blog post..Selamat tahun baru 01 Muharam 1429
lagi diusahakan sekuat mungkin ni om, saya mau ikut fitness rajin jogging ma diet makan. tapi mulainya ntar aja kalo dah mood. huhuhuhu
-
sawali tuhusetya Says:
January 10th, 2008 at 8:40 amhehehehehe :lol: cerita anakronis, halah. BTW, emang mas bedh sedang terobsesi untuk jadi ken arok, yak! lantas, siapa ken dedes yang memancarkan aura dari balik betis indahnya itu, halah.
sawali tuhusetya’s last blog post..“Demam” Ngeblog di Kalangan Guru Makin “Parah”
masalahnya saya belum nemu nih arti anakronis huhuhu maap pak kendedesnya saya umpetin biar yang lain nggak ngeliat perutnya yang lucu huhuhuhuhu
-
Hanna di Singkawang Says:
January 10th, 2008 at 12:01 pmBedh…
sudah ketemu ken dedesnya yach?
wah, selamat ya…
ikutan senang.Bedh…
imajinasinya bagus juga.Hanna di Singkawang’s last blog post..Duniaku Bukan Di sini
wah nggak tau nih han, dah ktemu pa belum. huhuhu sapa dulu dong yang ngajarin? huhuhu bulan februari ntar lagi loh….
-
qzink666 Says:
January 10th, 2008 at 7:49 pmLha, abis posting ini Bedh ke mana yak?
Sedang menyusun strategi untuk melawan Tunggul Ametung kah?
Atau sudah mati tertikam kerisnya mPu Gandring?qzink666’s last blog post..Kitab Sasangka Djati [habis]
lagi betapa ni mencari ketenangan jiwa sejati biar bisa Manunggaling kawula gusti, wakakakak gombal
-
qzink666 Says:
January 10th, 2008 at 7:50 pmEh, datang deng..
*muka bersemu merah*qzink666’s last blog post..Kitab Sasangka Djati [habis]
wah maap mas itu bukan bersemu merah, tapi jerawatan yang udah akut. huhuhuhu
-
qzink666 Says:
January 10th, 2008 at 7:51 pmHetrik bisa gak yak?
qzink666’s last blog post..Kitab Sasangka Djati [habis]
monggo mas….monggo. hetrik itu seperti memayu ayuning bawana..
-
erander Says:
January 10th, 2008 at 8:09 pmBedh .. bedh .. bangun .. bangun .. sudah siang nih .. molor mulu sih
*tendang2 bedh yang tidur dibawah meja*
ough…oh, hmmm dah selesai toh. kirain masih lama. maap pak ketiduran.
ngeloyor keluar kelas sambil ngucek-ucek mata ngapus belekan -
antar pulau Says:
January 10th, 2008 at 10:33 pmEhmm… pemuda yg sangat berbakat…..
*gila……*
wakakaka…..
*salut… postingan mantabsss…*
antar pulau’s last blog post..Cerita iseng di sore hari, di pinggir laut…
kena penyakit menular mas, dari pulau antah berantah di negri yang punya ikan yang edan2 huhuhuhuhuhu
-
qzink666 Says:
January 11th, 2008 at 11:23 amarrghhhhh
membusuklah di nerakaaduh, akhi.. Di neraka itu nggak bisa membusuk, disana kita akan kembali utuh, kembali utuh, dan kembali utuh..

*ah, betapa nikmatnya OOT*qzink666’s last blog post..Kitab Sasangka Djati [habis]
me:emang kalo setan jodohnya ma neraka. jadi wajar aja kalo merasa nikmat ma neraka huhuhuhu
-
Sayap Ade Says:
January 11th, 2008 at 12:22 pmWOW …. cantik banget blognya sekarang, ajarin Ade dong mas buat yang sebagus ini.
-Ade-
penegnnya sh secantik ade huhuhuhu
-
ann!sha Says:
January 14th, 2008 at 2:06 pmCERITA YANG LEBIH ANEH
Tiga bulan sejak pertemuannya dengan Mpu Purwa, Ken Arok berhasil direkrut oleh kerajaan sebagai prajurit kelas bawah. Tampang dan bodinya memang menjanjikan sifat ksatria hingga tak diperlukannya mengikuti ujian tes masuk prajurit seperti kebanyakan calon lain. Langkah yang tiba-tiba tegap tak lagi diganggu beban perut yang biasa dirasanya memberi keyakinan besar kepada tim seleksi prajurit kerajaan. Langkah pertama telah dilaksanakannya tanpa cacat hingga keberhasilan itu membuat Ken Arok makin percaya diri. Dia sudah terbiasa dengan bodi yahudnya dan selalu tertawa geli jika berpapasan dengan laki-laki gendut berperut buncit. Amit-amit, baru sadar betapa dia dulu pada posisi itu. Dibalik segala kebingungan yang melanda karena menjalani kehidupan dan diri yang berbeda, toh dia menikmatinya sangat.
Dan semangat itu semakin terpompa jika dia mengingat Ken Dedes, sosok perempuan yang dibenaknya berbentuk perut lucu nan indah. Sempat memang keraguan tentang kebenaran keberadaan perempuan itu dalam wujud nyatanya, tapi Ken Arok yang kini seolah tak lagi memedulikan anomali apapun yang terhidang dihadapannya. Ken Arok sungguh menyukai tiap kejutan yang dirasainya sejak dia tertahbiskan menjalani hidup sebagai Ken Arok. Dalam hatinya dia sadar sesadar-sadarnya, bahwa dia bukan Ken Arok. Tapi mencoba mengingat dirinya yang sebenarnya ternyata bukan hal yang mudah. Seolah dikutuk, dia selalu gagal mengingat hal-hal yang dimilikinya sebelum ini. Memori, kenangan dan ingatan tentang masalalunya seolah terkubur entah dimana, tak hendak ingin ditemuinya. Kini dia pasrah dan tak lagi mencoba mencari, walaupun dalam hati dia percaya kuburan itu ada disuatu tempat, selalu menunggu untuk digali dan direngkuhnya kembali.
‘Keris ini untuk merebut kembali Ken Dedes kah?’ Ken Arok bertanya pada dirinya sendiri. Selintas wujud perempuan dengan perut lucu itu terpampang jelas seolah berada dalam rengkuhannya. Tengah malam itu dia terbangun dengan peluh disekujur tubuhnya, dan sebentuk keris tergeletak telanjang disamping kirinya. Kini dia telah diangkat menjadi panglima kerajaan. Masa yang dijanjikannya kepada Mpu Gandring diyakininya telah tiba. Tadi malam, kakek tua itu datang dalam mimpinya. Menaiki gethek gedebog pisang, karena entah kenapa mendadak rumahnya dilanda banjir dan halaman rumahnya terendam hingga sebatas dada orang dewasa. Kakek tua yang rambutnya memutih itu melemparkan kantong hitam keatap rumahnya. Raut mukanya mengencang seolah mengancam Ken Arok agar tidak melupakan misi utamanya. Dan tanpa berkata apa-apa, gethek itu menjauh, semakin menjauh dan menghilang dipekatnya malam.
Dengan pedang terhunus, ditelusurinya jalan-jalan gelap di kompleks istana kerajaan. Kaki telanjangnya seolah dituntun kekuatan gaib menuju kesuatu tempat. Aneh. Seingatnya tak ada rumah dibalik kebun istana ini. Kenapa sekarang mendadak ditemuinya sebuah rumah yang mirip istana mungil disana. Terang sekali karena dilimpahi cahaya lampu putih diseputarannya. Siapa yang tinggal disana? Ken Dedes kah?
Belum lengkap khayal itu menghangatkan dingin tubuhnya, mendadak seseorang keluar dari pintu depan rumah itu.
‘Sejuta topan badai! Apa yang kamu lakukan disini, Rok?’ Tunggul Ametung berdiri sombong, dan dengan wajah tidak ramah, Ken Arok dibentaknya.
‘Aku datang menjemput Ken Dedes’ Tunggul tak menyangka ada yang berani menyebut nama yang dikeramatkannya. Ken Arok sendiri juga terkaget, tak disadarinya dari mana kekuatan dan keberanian itu datang. Dalam hati dia menyumpah, Mpu Purwa gila, jangan-jangan aku dibohonginya. Jangan-jangan, tak pernah ada sosok bernama Ken Dedes. Tak ada perempuan dengan perut lucu itu. Hampir dia mundur, tapi telapak kakinya seolah tertanam. Ken Arok tak memiliki pilihan lain, dia harus memainkan peran ini hingga tuntas atau dia tak akan bebas.
‘Jangan kurang ajar! Dia milikku. Apakah kamu akan melawanku? Setelah semua anugerah kekayaan dan jabatan yang kuberikan selama ini?’
‘Aku tak pernah meminta semua itu dan kamu bisa mengambilnya kembali kapan saja kamu mau. Aku kini hanya meminta Ken Dedes. Apapun akan kulakukan, bahkan jika aku harus membunuhmu!’
Tunggul Ametung geram, giginya semakin terkatup rapat menahan amarah. Belum sempat dia memanggil para pengawal pribadinya, mendadak pintu ukir dibelakangnya terbuka. Tak ada seorangpun yang keluar dari sana, hanya suara seorang perempuan yang serak seksi karena baru bangun tidur.
‘Ken Arok, kenapa kamu baru datang sekarang. Aku sudah bosan menunggu’ protes suara itu. Ken Dedes kah? Kenapa dia tidak menampakkan diri? Kenapa hanya suaranya yang terpapar?
‘Keluarlah kamu Ken Dedes. Aku tahu itu kamu. Maafkan kedatanganku yang tertunda. Bukankah kini aku disini? Ken Arok menahan gejolak didada. Setelah sekian lama dia juga menunggu, kini saat itu akan segera tiba. Ken Dedes, sosok yang dulu hanya tergambar perutnya itu, yang selalu memenuhi pikiran dan hatinya selama ini, akan segera dilihatnya. Penuh. Utuh. Dan mungkin tak akan dilepaskannya, bahkan kepada Mpu Purwa, kakek tua yang mengaku sebagai ayah Ken Dedes.
Ken Dedes bukan tak ingin keluar menemui Ken Arok, laki-laki yang telah diutus oleh ayahnya sendiri menyelamatkan hari-harinya terpenjara di istana Tunggul Ametung. Lehernya dijerat seutas tali tak terlihat. Tunggul Ametung sengaja melakukan itu. Konon dia telah mendapat isyarat dari penasehat spiritualnya bahwa suatu saat ada seseorang yang akan datang merebut Ken Dedes. Tunggul mengikatkan ujung tali satunya di kepala ranjang besi berukir naga. Meskipun ikatannya longgar, namun langkah Ken Dedes hanya terbatas didalam rumah. Seandainya dia mencoba melangkah keluar rumah, maka tali itu akan mencekiknya hingga kehabisan napas. Dia hanya sanggup menjulurkan kedua kakinya kepintu. Ken Arok, sekali lagi, hanya bisa memandang kedua kaki, pinggul dan pinggang Ken Dedes. Perutnya sekali lagi terbuka, seolah sengaja. Ken Arok memang hanya mengenal Ken Dedes melalui perutnya. Dan perut lucu itu, meyakinkan Ken Arok. Dia memang Ken Dedes!
Tunggul Ametung murka. Tak sempat lagi dipanggil para pengawalnya. Dihunusnya keris. Dan dengan langkah lebar, dihadangnya Ken Arok yang juga bersiap dengan keris telanjang.
Belum sempat mereka berduel, datang seorang perempuan tergopoh-gopoh. Cepat, dia berdiri diantara dua laki-laki yang sudah siap mati tersebut. Rambut blondenya tergerai acak-acakan. Mukanya memerah tertimpa sinar lampu. Dengan napas yang terengah-engah, direntangkannya kedua tangan dihadapan Ken Arok seolah meminta perhatian. Tak dihiraukannya Tunggul Ametung yang mendadak bengong. Mulutnya terbuka paksa. Bule blonde ber-tank top dan blue jeans hipster 7/8 itu menjulang membelakangi tanpa memberi kesempatan berpikir. Stiletto hitam di kaki bule itu membuat liurnya menetes tanpa diperintah. Ametung tersihir. Lebih-lebih lagi Ken Arok, yang kini berhadapan muka dengan cewe blonde itu. Ken Arok sering mengkhayalkan bertemu dengan cewe cantik berkepala kosong seperti perempuan itu, namun tak urung kemunculannya yang tiba-tiba ditengah suasana pertempuran seperti ini membuat otak terhenti, bahkan untuk sekedar berpikiran mesum, hal yang biasa dilakukannya.
‘Apa yang kamu lakukan?’ Cewe bule itu berkata-kata dengan susah payah, logat bulenya masih kental, gaya omongnya persis kaya Cinta Laura artis sinetron yang diidolai Ken Arok.
‘Siapa kamu?’ Ken Arok merasa bermimpi. Sialan, sejak dilakoninya hidup sebagai Ken Arok, tak pernah ada hentinya kejutan menghampiri dan dia telah bersiap dengan segala kemungkinan. Tapi yang ini sungguh diluar akal pikirnya. Bule? Hah!
‘Apa maksudmu? Aku Juli. Kekasihmu. Kenapa kamu disini, Romeo? Ayo cepat kita pergi, keluargaku saat ini sedang mengejarku. Kalao kita tertangkap berdua disini, aku tak tahu apa yang terjadi …’ Cewe bule itu, Juli, menguncang tubuh Ken Arok, yang dipanggilnya Romeo.
‘Aku tak mengenalmu. Aku Ken Arok, bukan Romeo’ Ken Arok terkaget setengah mati.
‘Kamu kenapa sih? Kamu Romeo, kekasihku. Aduh pujaanku, kamu hilang bertahun lalu. Kurasa sesuatu terjadi dan membuatmu hilang ingatan. Sudahlah tak apa, nanti akan kubantu kamu mengembalikan memori itu. Ayo cepat, kita tak punya waktu. Para Capulets dan Montagues mengejar kita. Kamu tak ingin tertangkap kan? ‘ Juli memohon, menghiba pada laki-laki itu, yang kini semakin bingung. Beberapa menit yang lalu dia Ken Arok, dan kini seorang perempuan cantik mengatakan dia adalah Romeo. Astaga, mimpi buruk itu masih berlanjut. Sial! Kuharap ada orang yang akan membangunkan aku segera, doanya dalam hati.
Juli meraih tangan kiri Romeo seolah hendak mengajaknya segera lari. Ken Dedes, hanya bisa berteriak-teriak dari dalam rumah.
‘Hei, siapa kamu. Dia bukan Romeo, dia Ken Arok. Dia Ken Arok ku! Jangan bawa dia. Ken Arok, jangan coba-coba meninggalkan aku dan mengikuti perempuan itu! Kamu Ken Arok. Bukan Romeo.’ Ken Dedes berteriak histeris.
Ken Arok terbelah. Dia tak ingat lagi pertempurannya. Kepalanya serasa mau meledak dan dadanya berdebar kencang. Belum pernah dia diperebutkan perempuan. Dalam kebingungan tak tahu harus melakukan apa, dia terkejut menyadari bahwa rambut gondrongnya ternyata memanjang, terus memanjang hingga mencapai pinggang. Ajaib, rambut hitam legamnya kini berubah coklat, terus memudar dan memudar hingga berwarna pirang. Tapi, hanya sebelah. Bagian rambut dibelahan kanannya masih hitam. Lebih terkejut lagi ketika disadarinya kulit tubuh bagian kirinya juga ikutan memutih. Ken Arok benar-benar terbelah. Sebagian dirinya menjelma menjadi bule. Dan perut sixpack yang dibanggakannya belakangan, bergelembung perlahan, mengumpul ditengah dan kembali membentuk onebigpack. Ken Arok … atau Romeo terkesiap. Siapa aku? Kenapa? Apa yang terjadi? Dikepalanya bergema suara Ken Dedes yang menghibur ditimpali bujukan Juli. Tangan kirinya ditarik Juli. Tangan kanannya? Hei, kemana keris Mpu Gandring? Baru disadarinya keris itu tak lagi ada digenggamannya.
Belum terkumpul semua kesadarannya, ketika dalam hitungan detik, dirasainya sebentuk benda dingin dan mulus menusuk dadanya. Tak ada rasa sakit, hanya sedikit nyeri. Sekejap kemudian ada yang meleleh didadanya. Mengalir pelan seolah mengusap kulitnya, terus keperut, mengenai celana dan akhirnya mengucur ketanah. Ketika ditengoknya kebawah, tanah tempatnya berpijak berubah merah. Kakinya goyah. Dia terduduk lemah di lututnya. Semakin lemah dan lemah. Samar dilihatnya Juli masih menarik-narik tangan kirinya. Suara Ken Dedespun terdengar menjauh. Tunggul Ametung berdiri dihadapannya dengan senyum kemenangan. Keris Mpu Gandring tergenggam erat di tangan kirinya.
Aku sekarat ….
Aku siapa?
Siapa aku?——
Maaf sebelumnya kalo dengan lancang aku ‘melanjutkan’ imajinasi kamu Bedh, bahkan lebih panjang. Tak dapat menahan diri nih. Gpp kan? Hehehe … Kalo keberatan, yah boleh didelete ato silakan dicaci ajah. Alasan menulis imajinasi sambungan itu karena pada dasarnya mendadak saya ikut merasakan keresahan pencerita (aku a.k.a. Ken Arok) mengenai identitas dirinya. Jangan-jangan, hingga kini ‘dia’ masih berkepribadian ganda atau lebih. Apapun, mudah2an pencariannya segera berakhir yah. Ken Arok atau Romeo, Ken Dedes atau Julia, sepertinya sama2 pribadi yang menyenangkan. Mudah2an.
Have a nice day!

ann!sha’s last blog post..Ruang Tunggu
huhuhu edan deh………
nggak nyangka akhir cerpennya jadi begitu.
cerpennya keren banget nggak nyangka dirimu malah punya imajinasi yang lebih aneh dari aku huhuhuuhu
ken aroknya malah mati bunuh diri huhuhuhuhu
tapi knapa harus di delete? kalo mau di delete justru cerita awal yang ada diatas itu. karna itu sangat menganggu cerita yang datang belakangan ini huhuhuhu
mengenai kepribadian ganda itu sebenernya cuma peumpamaan kan? perumpamaan yang di perumpamakan. jadi karna aku itu bukan ken arok ato romeo jadi yah tidak ada yang namanya Ken Dedes atau Julia itu sudah. jadi yang ada hanya me and my ketchup yang gi nungguin candlelight dinner pas ulang tahunnya nanti. huhuhuhu. btw thx yah comment yang benar2 lebih aneh ini.
jangan kapok yah…
karna saya hampir aja kapok lagi nulis cerpen setelah baca comment yang aneh satu ini huhuhuhuhuhu
gracias… -
verlita Says:
January 14th, 2008 at 3:08 pmkarena perut adalah segalanya

verlita’s last blog post..Kalau Saya Punya Eee PC
huhuhuhu…… tosh dulu donk.
-
sigid Says:
January 14th, 2008 at 4:12 pmMas, imajinasinya bagus, beneran kok.
Namun ada satu hal :“loh perut saya kenapa jadi six pack gini yah? huhuhu”
*ngakak sambil guling-guling*
duh maap mas bibiknya nggak masuk tadi pagi katanya mo ngantri minyak tanah dulu, jadi lantainya masih kotor gitu. jadi jangan guling2 ntar bajunya kotor. ntar saya bersihin dulu…. sret…sret…. nah dah bersih. yukkkk………

-
sigid Says:
January 14th, 2008 at 4:16 pmEh, kalau di sini, smiley kaya di wordpress itu bisa dipakai semuwa ndak to mas?
nggak tuh, saya matiin
, kalo mau pake yang punya YM gitu deh paklek. -
joyo Says:
January 14th, 2008 at 8:31 pmapdet apdet!!!
joyo’s last blog post..blogwalking ke ‘dunia lain’
lah itu kan dah di update ma annisha huhuhu saya malah lom baca bener2
.
ntar yah mas nggak tau nih beberapa hari ini jadi males nulis.
-
zal Says:
January 15th, 2008 at 12:25 am::emang kamu huhuhunya kemana bedh…, mungkin harus nyampe atau bermula dari situ… kan kamu harus nyari ken de des…
zal’s last blog post..(Masih) Tentang Shalat, yang akan dipertanyakan pertama kali itu…
gak kmana-mana tuh mas, masih ada. disini aja gak kmana-mana
huhuhuhuhu -
zal Says:
January 15th, 2008 at 7:00 pm::maksudku, kalau rel kreta di jawa kan, dari merak sampe panywangi…lha badan kita dari kepala sampe kaki…, yg kemana itu… rutenya… apa cicahem ledeng atau ledeng kalapa….
siapa tahu ada sinyal rute ke tempat yang terbuka belum ada, sedangkan disana perlu dilalui… 
zal’s last blog post..(kenangan) saya dan Pak Harto
gak pernah begitu sering ke daerah ledeng. dulu sering ke sana cuma karna kerjaan saya mengharus kan ke daerah sana. tapi sekarang dia dah pindah jadi dah nggak pernah lagi ke daerah sana.
huhuhu sekarang saya seringnya naik travel ke jakarta pak.
-
zal Says:
January 16th, 2008 at 2:49 pm::tul…
zal’s last blog post..(kenangan) saya dan Pak Harto

-
bayu Says:
January 20th, 2008 at 3:01 pmhuhuhuhu,..
kalian romantis sekali,..
aku jadi iri,..bedh!
putus!!*nyanyi*
I don’t know what I’ve done
Or if I like what I’ve begun
But something told me to run
And honey you know me it’s all or noneThere were sounds in my head
LIttle voices whispering
That I should go and this should end
Oh and I found myself listeningSee I thought love was black and white
That it was wrong or it was right
But you ain’t leaving without a fight
And I think I am just as torn insideAnd I won’t be far from where you are if ever you should call
You meant more to me than anyone I ever loved at all
But you taught me how to trust myself and so I say to you
This is what I have to do‘Cos I dont know who I am, who I am without you
All I know is that I should
And I don’t know if I could stand another hand upon you
All I know is that I should
‘Cos she will love you more than I could
She who dares to stand where I stood
Oh, she who dares to stand where I stood -
suci Says:
July 24th, 2008 at 2:12 pmsialan w kira ceritanya beneran ga taunya ngawur minta ampun tapi bagus lo dah berhasil nipu banyak orang ma cerita lo.
-
riri Says:
August 13th, 2008 at 7:11 pmgila memang gila,btw..ketawa juga aq dibuatnya.




