before the flu

Back To Zero

  • You are here: 
  • Home
  • Bubur air mata

Bubur air mata

Posted on June 24th, 2008

Tumbawada adalah seorang tukang masak yang sangat ahli, masakannya sangat terkenal karna kelezatannya. Ia membuka rumah makan yang terletak di pinggiran pasar ibukota. Rumah makannya ini tak lebih besar daripada garasi mobil Gubernur Landa. Walaupun rumah makan ini tak begitu besar tapi telah cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup Tumba dengan ibunya ditambah 3 orang pekerjanya.

Kepandaian memasaka Tumbawada diwarisi dari Ibundanya tercinta, sejak kecil ia telah membantu ibunya memasak maklum ia hanya hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya sudah duluan pergi meninggalkan mereka karena sakit. Tinggalah ia dan ibunya hidup membanting tulang menghidupi keluarga setelah menabung sekian lama ia dan ibunya dapat menyewa bangunan di pinggir pasar ini untuk mendirikan sebuah rumah makan. Dari kecil sudah kelihatan sekali Tumba adalah sorang yang sangat berbakat sekali dalam memasak, ia selalu diandalkan oleh ibunya ketika memilih ikan dan sayur ketika ke pasar. Tumba memang memiliki hidung yang sangat peka sekali, dengan sekilas hirup saja tumba kecil telah mampu mengetahui yang mana ikan segar dan mana yang tidak. Begitu juga kemampuannya dalam memilih sayur-sayuran segar. Bahkan tak jarang Tumba kecil mendapat tambahan uang demi memilihkan ibu-ibu yang belanja ke pasar seekor ikan segar dan enak untuk di bakar ataupun di goreng.

Rumah makan Tumbawada tak pernah sepi dari pengunjung, bahkan pelayan sering kali terpaksa untuk membereskan piring buru-buru di atas meja walaupun orang tersebut belum lebih dari 10 menit menghabiskan makanannya. Hal ini dilakukan adalah cara halus untuk mengusir pelanggan. Terpaksa dilakukan karna kadang-kadang terjadi antrian di luar rumah makan. Orang-orang yang mengantri kadang sangat tak sabaran, beberapa diantara mereka bahkan ada yang berani mengetuk kaca kalau melihat ada pelanggan yang mengobrol agak sedikit lama setelah mereka menyantap habis makanan mereka.

Menu favorit di rumah makan itu adalah sop buntut goreng. Menu ini sangat lezat sekali, dagingnya adalah daging pilihan tak seperti sop buntut goreng lainnya sop buntut buatan Tumba memiliki daging yang sangat empuk dan sedikit sekali lemaknya walaupun bentuknya yang lembut itu tampak sedikit berminyak. Yang tak biasanya lagi daging itu dilumuri semacam saos diatasnya. Tak membutuhkan tekanan ketika sendok menyentuh daging tersebut bila hendak memotongnya atau melepaskannya dari tulang. Walaupun saos tersebut hanya di lumuri diatas daging tapi saos tersebut seperti meresap hingga ke dalam daging. Ada sedikit rasa aneh seperti rasa kayu manis tapi benar-benar terasa sangat lezat. Kaldu nya juga tak kalah lezat irisan bawang merah, dan bawang putih serta merica, pala, jahe, paprika menyatu dengan lembut kedalam kuah yang sepertinya di aduk dengan sangat lembut dan merat tersebut. Percikan jeruk semakin membuat kaldu tersebut menjadi sangat segar. Sehingga setiap sendok yang masuk kedalam mulut mencicipi masakan ini selalu diiringi dengan desahan lembut serta mata yang memejam dari pengunjung-pengunjung rumah makan tersebut.

Walaupun menu ini adalah menu favorite di rumah makan ini tapi Tumba tak pernah menghidangkan menu ini lebih dari 13 porsi setiap harinya. Akan tetapi hal tersebut tak membuat para pengunjung menjadi kecewa, karna masakan Tumba lainnya tak kalah lezatnya. Sop Kondro adalah menu kegemaran kedua setelah sop buntut goreng habis. Sop ini memiliki kuah yang sangat kental, paduan rasa asam jawa, lengkuas, garam dan sedikit terasa kayu manis dan juga cengkeh menyatu lembut kedalam potongan-potongan daging iga. Benar-benar membuat air liur berdecak ketika menu tersebut dihidangkan di meja. Tak mengherankan jika kedua menu ini adalah menu yang selalu habis duluan sebelum restoran itu tutup. Beberapa pelanggan tetap telah cukup mengerti untuk tak mencoba-coba mengorder kedua menu tersebut setelah lewat dari jam 2 siang. Karna tentu saja tak akan pernah kebagian.

Masakan yang lezat tentu saja di buat dengan bahan dasar yang juga berkualitas. Hal tersebutlah yang menjadi kehandalan dari Tumbawada. Setiap jam 5 subh tepat Tumba telah menginjakkan kakinya di pasar membeli ikan, daging dan juga sayuran. Pernah suatu hari Tumba telat datang ke pasar jam 5.25 subuhia belum juga tampak. Pasar sudah di penuhi oleh para pembeli tapi anehnya tak ada satupun yang memulai membeli daging ataupun sayuran hanya tampak beberapa pembeli yang membeli itupun kebanyakan adalah para pembantu ataupun orang-orang baru. Ketika Tumba datang dan sudah membeli daging barulah para ibu-ibu itu membeli daging di tempat Tumba membeli daging. Begitu juga dengan ikan ataupun sayuran. Semenjak itu kalau jam sudah menunjukkan lebih 5 menit maka akan tampak rumah Tumba di gedor oleh orang yang di utus oleh para pedagang di pasar. Tumba memang orang yang selalu tepat waktu jadi jika sedikit saja ia terlambat sudah bisa dipastikan Tumba ketiduran atau telat bangun.

Suatu hari tak seperti biasanya Tumba tak datang ke pasar, beberapa kali telah diutus orang kerumah Tumba yang memang tak jauh dari pasar tersebut tapi sampai siang Tumba tak juga tampak di pasar. Siangnya rumah makan Tumba juga tak tampa seperti akan di buka seperti biasanya. Banyak orang yang mengantri di suruh pulang oleh pegawai Tumba, ternyata sang ibunda sedang sakit keras dan Tumba tak beranjak dari tempat tidur sang bunda tercinta berjaga-jaga. Sang bunda tampak sangat pucat dan kehilangan nafsu makan. Beberapa kali masakan yang dibuat oleh pegawainya di muntahkan oleh sang bunda. Karna hingga hampir malam sang bunda tak juga makan akhirnya Tumba lalu memutuskan untuk memasak sendiri makanan buat ibunya. Karna takut ibunya tak kuat makanan yang berat ia lalu bertekat membuat bubur ayam untuk ibunya itu.

Ia sangat paham sekali ibunya sangat menyukai masakan yang pedas, oleh karena itu ia sedikit menambahkan takaran cabe kedalam bumbunya. Tak seperti biasa ia sedikit risau dengan sakit ibunya kali ini, ibunya sangat jarang sekali sakit dan tak pernah kelihatan separah ini. Ia lalu sangat manaruh perhatian khusus dengan buburnya kali ini, ia berniat untuk membuat bubur yang enak agar tak di muntahkan lagi oleh ibunya. Tak memakan waktu yang lama karna semua bumbu dan bahan baku memang tersedia di rumah itu bubur itupun telah selesai dan siap di sajikan. Tumba lalu membawa bubur tersebut dan berniat menyuapi sendiri bubur tersebut kedalam mulut ibunya. Namun ternyata baru satu sendok suapan yang masuk kedalam mulut ibunya telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Tumba sangat terpukul dengan kematian ibunya tersebut, berhari-hari ia tak keluar dari kamar. Tubuhnya menjadi kurus matanya tampak sangat cekung karna sering menangis. Kecintaan terhadap ibunya ternyata sangat mendalam sehingga ia tak siap harus berpisah dengan begitu cepat. Telah hampir sebulan Tumba masih tampak tak bergeming dari kesedihannya. Para pelanggan yang datang berkunjung menyemangati dan menghiburnya juga tak mampu menyemangatinya kembali untuk membuka rumah makan.

Sementara itu keahlian memasak Tumbawada sudah sampai kekerajaan dan telah terdengar pula ketelinga sang pangeran yang konon sangat menyukai makanan tersebut. Sang pangeran lalu mengutus orang ke gubernur Landa menyampaikan niatnya mencoba masakan Tumba. Hari itu tampak sang Gubernur yang memiliki tubuh tak sampai 150 centi meter itu berjalan kerumah Tumba. Walaupun telah menolak beberapa kali untuk membuka rumah makan dengan alasan masih dalam keadaan belasungkawa Tumba terpaksa menyetujui keinginan sang gubernur dan membuka rumah makan. Ancaman seluruh anggota keluarga dan juga pegawainya akan di masukkan kepenjara jika Tumba masih tetap bersikeras tak mau memasak untuk sang pangeran cukup membuat Tumba merubah pendiriannya.

Pada hari yang telah di tentukan sebelumnya tampak beberapa prajurit kerajaan berdiri di sekitar rumah makan Tumba. Rombongan Pangeran tampak telah memenuhi rumah makan tersebut. Suasana sedikit keruh ketika tampak Gubernur Landa marah-marah ketika Tumba ternyata tetap pada pendiriannya hanya menyediakan 13 porsi sop buntut goreng pada hari itu. Sang Gubernur tampak sangat murka melihat kekurang ajaran Tumba dan sangat tidak menghormati sang putra kerajaa. Namun ternyata sang pangeran adalah orang yang sangat bijaksana dan iapun dapat memaklumi kebijakan aneh Tumba. Dan rombonganpun sangat menikmati hidangan sop buntut goreng serta sop kondro buatan Tumba. Sang putra mahkota berbadan gembul itu ternyata sangat puas dengan masakan Tumba, iapun kemudian di hadiahi sebuah mobil BMW keluaran terbaru sebagai bonus. Sang pangeran pun tak tersinggung ketika tawarannya sebagai koki kerajaan ditolak oleh Tumba. Tampak sang gubernur sedikit masam melihat tingkah laku Tumba tapi ia tak dapat berbuat apa-apa karna sang pangeran ternyata sangat menghargai keputusan Tumba.

Setelah rombongan Pangeran kerajaan pergi meninggalkan restoran ternyata tumba tak menutup rumah makannya. Ternyata ia kasihan kepada pelanggannya yang berdiri sejak tadi di kejauhan melihat rumah makan telah di buka kembali. Iapun lalu menyuruh para pegawainyamengatakan kepada para pelanggan bahwa rumah makan akan terus di buka dan menerima setiap pengunjung dan tutup seperti biasanya. Ternyata bahan makanan sudah banyak yang habis ketika membuat jamuanuntuk para rombongan kerajaan. Maka tak sampai 2 jam bahan makanan untuk membuat menu biasa telah habis. Yang tersisa hanya beberapa bumbu yang sekiranya hanya dapat membuat jenis makanan bubur ayam saja. Itupun ayam untuk setiap porsinya akan sangat di batasi.

Para pelayan tak sanggup untuk mengusir para pelanggan yang bersikeras memesan bubur ayam sebagai obat kerinduan akan masakan Tumba. Dengan berat hati pelayan itupun memberitahukan hal tersebut kepada Tumba. Seandainya bukan bubur ayam tentu saja Tumba telah sedari tadi membuatkannya untuk para pelanggan tapi menu itu membuatnya kembali mengingatkan dirinya akan kematian ibundanya. Dengan berat hati dan perasaan sedih yang sangat luar biasa Tumba lalu membuat bubur pesanannya itu. Air matanya mengalir tak tertahan kesedihan yang selama beberapa hari ini sudah mulai sedikit ditahannya kembali timbul seiring dengan adukan bubur yang dimasaknya.

Bersambung…………..

 


Tulisan Terkait:

Filed under chiffonier |

10 Responses to “Bubur air mata”

  1. bedh Says:
    June 24th, 2008 at 4:52 am

    uhuy…
    postingan kali ini sengaja di buat bersambung karna sudah kepanjangan. mudah2an nanti beneran ada sambungannya
    huhuhuhu
    kalaupun ternyata nanti ada kemiripan certia ini dengan cerita orang lain, biasalah gw gitu loghhhhh
    hehehe

  2. laporan Says:
    June 24th, 2008 at 6:48 am

    huhuhu ternyata bersambung, panjang sekali, kalau di buat abstraksi gimana.

  3. gempur Says:
    June 24th, 2008 at 6:56 am

    haaa… ternyata bersambung… ikut berbela sungkawa atas kematian ibunda tumba ya mas! hiks.. jadi terharu karena bubur airmatanya itu loh! hiiks

  4. Tigis Says:
    June 24th, 2008 at 8:39 am

    pas baca di awal uda berniat pengen nyobain juga. Tp pas baca lama2x koq ga ada alamat warungnya si Tumba. Ndilalah ini fiksi tho :)

  5. goop Says:
    June 24th, 2008 at 8:49 am

    bukan hanya sembarang bubur
    kenangan, bisa beralamat pada bermacam hal, pada makanan, pakaian, suasana.
    ahhhhh….

  6. fans berat bedhiah.com Says:
    June 24th, 2008 at 3:59 pm

    WOI!!
    apalah neh!!
    digantungnya pulaaa eeehhhhhhhhh,…

    trus kenapa harus 13 porsi?
    trus ibunya meninggal karena sakit apa??
    trus gimana pelanggan yang nyobain bubur itu?!?!

    sop buntutnya pasti kartika sari neh,..
    yakin aku,..

  7. quelopi Says:
    June 24th, 2008 at 4:18 pm

    yah bersambung….

  8. Aki Herry Says:
    June 24th, 2008 at 8:13 pm

    Eleh geuning bersambung…

  9. bedh Says:
    June 25th, 2008 at 12:20 am

    @laporan
    huhuhu masalahnya saya nggak tau abstraksi tu apaan. apa kaya skripsi2 itu yah?
    maap, saya mang bener2 nggak ngerti
    :|

    @gempur
    heheh iya ni,

    @Tigis
    wah mas sigit ini cuma fiksi doang kok, kalo ada nama tokoh dan tempat kejadian yang mirip itu tandanya saya masih belum terlalu pintar nyontek. huhuhu

    @Goop
    ealaaaa, pakabar mas? lama nggak berkunjung dan dikunjungi oleh dirimu. :) jadi kangen huhuhuhu
    tapi saya nggak ngerti ma commentnya. wakkakakak
    tapi sedikit-sedikit mah bisa ngikutin lah.
    thanks yah.
    :)

    @albelly idola ku no 1 yang photonya kupajang di balik pintu kontrakan.
    diatail kali pun,
    Tumbawada itu orang yang sangat rajin, mencintai keluarga, pintar, dan juga perfeksionis kaya kaulah bay. beda tipislah….
    ibunya meninggal karna komplikasi kebanyakan makan daging kambing ma bebek kalo nggak salah.
    kalo pelanggan yang nyobain bubur tu, baca aja kelanjutannya. susah amat.
    nah kalo soal sup buntut kartika sari kau benar kali tu. hahahahah

    @quelopi
    dah disambungin kok. :)

    @aki herry
    kepanjangan ki, nggak nyadar nulis-nulis dah kepanjangan gini. jadi aja di bagi 2. hehehehe

  10. t i n i Says:
    June 26th, 2008 at 10:16 pm

    Saya ga ngerti maksud cerita fiksi ini. Maaf ya, mas. Sebentar, saya mau tanya tukang bubur dulu. Kebetulan itu liwat di depan rumah
    *manggil tkg bubur dgn semangat

Leave a Reply