Anak Pak Ustat
Posted on March 7th, 2008
Tak seberapa banyak yang ku ingat tentang seorang ayah dari seseorang yang sangat berperan penting terhadap asal usulku ada di dunia ini. Sejak umur 1 tahun bapak sudah meninggalkanku dan ibu. Waktu itu bapak sedang duduk dipelaminan dengan seorang pegawai bank swasta ketika ibu datang mengunjungi dengna perut besarnya. Pesta itu hancur berantakan dan setahun setelah itu bapak tidak lagi tinggal di rumah. Kata ibu bapak marah-marah dan memaki maki ibu karna mukaku tak mirip dengannya. Kulitku putih sedangkan bapak hitam dan ibu hitam.
Sebenernya bapak tak benar-benar pergi meninggalkanku dan ibu. Biaya hidup kami selalu dicukupi olehnya. Tiap hari jum’at aku ingat ibu pergi ke mesjid kuning menemui bapak. Bapak akan memberikan beberapa rupiah kepada ibu setelah bubaran sholat jum’at. Mungkin bapak memberikan beberapa honor ceramah jum’atnya kepada ibu. Setelah besar dan sedikit berumur sekitar 10 tahunan. Aku menggantikan posisi ibu menerima uang dari bapak pada hari jum’at di mesjid itu. Suatu hari aku tak berhasil mendapatkan uang mingguan kami yang tak seberapa itu karna aku ketahuan tak mengikuti sembayang Jum’at.Ibu sedih sekali dan terpaksa mengutang ke warung untuk mendapatkan beras dan beberapa potong ikan asin. Sejak saat itu aku tak berani menggalkan sholat jum’at untuk beberapa waktu.
Bapak biasanya dipanggil dengan sebutan Pak Ustat oleh orang-orang kampung karna memang dia memiliki pengetahuan agama yang dia peroleh sewaktu ia belajar di sekolah agama waktu mudanya dulu. Dengan pengetahuan itu memberikan ceramah-ceramah di mesjid dan rumah-rumah orang yang mengundangnya memberikan ceramah. Selain menjadi seorang ustat babak juga menjadi seorang raja rumah kontrakan. Dia punya beberapa rumah kontrakan hasil warisan kakek yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Dengan uang sewa itu ia membiayai dan menghidupi dua orang istrinya yang lain beserta anak-anaknya.
Menghapal ayat-ayat suci dan hadist-hadist adalah kegemaran dan sekaligus keahliannya. Dia akan senang kalau ada orang datang meminta nasehat kepadanya mengenai suatu hal kalau di lihat dari sudut pandang agama. Dia akan mampu menghabiskan waktu berjam-jam dengan ilmu agama dan petatah petitih agama. saya yakin ulama besar pun akan sedikit keteteran kalau harus beradu hadis dengannya. Beberapa masalah seperti orang mau menikah atau mau menikah lagi sering eminta konsultasi dan bimbingan dari dia. saya tak begitu mengerti dengan apa yang dia bicarakan kalau sudah begitu. Untungnya kalau sedang berhadap-hadapan denganku dia tak pernah menggunakan ayat-ayat atau hadist. Dia mau berbaik hati menggunakan bahasa yang lebih mudah dan gampang buat ku mengerti seperti caci maki dan sumpah serapah.
Beliau jarang sekali mampir kerumah melihatku dan ibu. Adakalanya ibu sangat merasa malu untuk terus menggantugkan hidup kami kepadanya dengan selalu meminta uang setiap minggunya ke mesjid. Ibu lalu mencoba beberapa kali mencari pekerjaan seperti menjadi pelayan rumah makan, tukang sapu, tukang jamu, kerja di salon, sampai tekhir yang kuingat ibu menjadi salah satu pegawai panti pijet. tak berapa lama memang, tak sampai sebulan malah karna kali ini pak ustat datang lebih cepat. Yah, gak tau knapa setiap ibu bekerja tak berapa lama kemudian bapak akan datang berkunjung kerumah dan kemudian ibu lalau berhenti bekerja. Biasanya bapak datang dengan langkah tergopoh-gopoh, melihat itu ibu selalu menyuruhku untuk keluar rumah sehingga aku tak dapat mendengar pembicaraan mereka karna tak begitu jelas terdengar. Hanya seingatku suara bapak seperti berteriak-teriak dan putus-putus. Hari terakhir ibu bekerja di panti pijet itu bapak menghadiahkan lebam biru di pipi ibu. Waktu itu aku sudah sekolah menengah pertama. Sedikit terkejut melihat ibu menangis sambil menutupi pipinya. Sejak saat itu aku tak mau lagi disuruh ibu keluar rumah kalau bapak datang. Dan sejak hari itu pula aku menjadi iblis yang selalu membalas kalau bapak memaki atau menghujat.
Kasus pipi lebam itu membuatku lalu memutuskan untuk mencari uang sendiri dan kemudian menjadi pegawai toko klontongan milik kok asong. kerja yang dimulai setelah ku pulang sekolah. Ko Asong mengharuskan aku untuk mengganti pakaian seragam seklahku dengan baju biasa jika sedang waktunya bekerja. Katanya dia tak mau masuk penjara kanrna mempekerjakan anak sekolah seperti aku. Aku hanya tertawa mendengarnya. kenapa pula orang sudah memberiku dan ibu makan harus di tangkap. aneh-aneh saja dan tak masuk akal. Jahat sekali polisi kalau begitu, sengaja membiarkan kami berdua hidup dalam kemiskinan dan kelaparan dengan menangkap orang yang mau membantu kami.
Ibu juga akhirnya tak pernah lagi bekerja dengan orang lain, ia lalu memulai usaha membuat kue untuk kemudian di titipkan ke warung-warung sekolah dan warung-warung kantor untuk di jual. Ko asong baik eskali mau meminjamkan ibu modal untuk memulai usaha itu. yah walaupun pinjaman itu juga harus dibayar sekalian bersama bunganya. setidaknya itu sudah membuat kami dapat mempunyai modal untuk berusaha memperbaiki nasib kami. Entah dimulai kapan kami seperti berjanji untuk tak lagi pergi kemesjid kuning meminta uang kepada bapak. Alhasil aku semenjak itu tak pernah lagi ke mesjid dan akibatnya untuk waktu yang lama aku tak pernah lagi bertemu muka dengan bapak.
Pak Ustat lama sekali tak mampir datang ke rumah terakhir ia datang sebelum aku berani melayangkan bogem mentahku kedagunya waktu ia mulai mencoba mencaci maki ibu awal-awal ibu berjualan kue. Aku tak begitu mengerti knapa ia begitu malu kepada ibu mencari cara untuk dapat membeli beras untuk kami hidup. Aku cuma tak mau melihat muka ibu lebam lagi. Pak ustat itu tersungkur karena tinjuku ternyata berhasil mendarat tepat di dagunya.
Beberapa hari yang lalu bapak datang kerumah setelah betahun-tahun tak pernah lagi mampir. Hari itu tak seperti biasanya dia datang dengan muka memelas dan bercucuran air mata memohon aku melepaskan Hilda yang 2 tahun ini telah menjadi pacarku. Ternyata Hilda adalah anak pertama dari istrinya yang ke tiga yang berada di kampung sebelah. Entah akhirnya dia mengakui aku sebagai anaknya atau karna dia tak sudi aku sebagai menantunya aku tak begitu tau. Yang aku tau ibu jadi sakit-sakitan dan tak pernah turun dari tempat tidur sejak kedatangan bapak hari itu. Sebenernya aku tak begitu mempermasalahkan hal itu dan bersedia berkorban melepaskan Hilda, cuma masalahnya mau dikemanakan anakku yang ada di perutnya itu.
*gambar diambil dari Japihonoo
Tulisan Terkait:
Tags: Bodoh, Cerita, Kolot, Manusia, Purba, Puritan
Filed under chiffonier |
31 Responses to “Anak Pak Ustat”
-
bedh Says:
March 7th, 2008 at 5:17 pmwah setelah membaca sendiri tulisan di blog ini ternyata benar, nggak nyaman dan membuat mata perih. sepertinya saya harus mengganti themes yang baru. duh sayang sekali padahal themes ini bener2 sangat saya sukai.
duh kapan yah idola datang biar bisa ngulik themes ini. sapa tau bisa di jadiin putih dan jadi lebih bersahabat. -
adit-nya niez Says:
March 7th, 2008 at 6:01 pmKlo emang suka gak usah diganti bedh…
Tinggal utak-atik CSS nya aja biar fontnya enak dibaca, entah itu dibesarin ukurannya atau dirubah warnanya…

-
regso Says:
March 7th, 2008 at 10:07 pmini cuman cerpen tho

regso’s last blog post..Rahajeng Nyepi
ini cerita yang belum bisa di katakan cerpen ger karna saya belum bisa ni bikin cerpen. huhuhuhu
-
joyo Says:
March 7th, 2008 at 11:17 pmdrama kehidupan, mengalir terus dan entah kapan berhenti,
jadi kapan ni undangan makan2nya?
joyo’s last blog post..Karikatur nabi Muhammad?
idenya memang terlalu klise yah…. kejadian yang sepertinya sering terjadi di sekitar kita. cuma masalahnya makan2nya kan harusnya dirimu yang mengadakannya huhuhu kan gi nungguin honor bikin karikatur huhuhuhuhuhu
-
qzink666 Says:
March 8th, 2008 at 1:49 amUntung bapak saya bukan ustat..

ah, tapi kenapa dia sampe kobun, bro?? Kan udah saya bilang; pake kondom, jangan cuma pake kon**l..qzink666’s last blog post..Pulang
dudul dasar setannnnnnn huhuhuhuuh
-
Arwa Says:
March 8th, 2008 at 3:45 amDrama kehidupan bro…. , kayak di sinetron aja. Moga-moga ini hanya fiksi belaka. Dasar pa uscraattt….!
huhuhu mudah2an nggak ada sinetron seperti ini pasti makin males nonton sinetron gw. huhuhu yup kalau cerita ini sih murni fiksi bro.
oh ja, komeng di tempat lo harus log in di wordpress dulu yah? bisa rikues dimatiin gak tuh? huhuhuu rada ribet euy account gw yang di wordpress dah jarang banget and sebenernya dah nggak mau gw pake juga
-
iman brotoseno Says:
March 8th, 2008 at 8:01 amcerita yang menggelitik sindirannya..Bahwa Ustad juga manusia
huhuhu sepertinya mang begitu mas, ustad juga manusia huhuhuhu
-
erick ningrat Says:
March 8th, 2008 at 10:11 amgw mw jadi pemeran utamanya

wakakkakak silahkan…silahkan….
-
sawali Says:
March 8th, 2008 at 1:28 pmwew… pesan moralnya sangat kuat mas bedh agar seorang suami ndak gampang menuduh sang istri berbuat macam2, apalagi melakukan praktik kekerasan dng dalih untuk mencari pembenaran bagi dirinya. di mata saya, sosok sang ustadz dalam cerita ini hanya jadi topeng untuk menutupi karakternya yang lalim. untung dia segera insyaf.
yup pak wali kejadian seperti itu membuat miris dan sedikit gondok, seperti kata mbak puan status sosial kadang2 bisa membawa positif dan negatif jadi harus berhati-hati menyandangnya. huhuhu sok tau banget yah…… tapi serius ni pak nanyain langkah2 bikin cerpen yang baik tu gimana soalnya kalau cerita ini masih jauh kalau dibilang sebuah cerpen atau karya sastra.
-
quelopi Says:
March 8th, 2008 at 7:59 pmjadi teringat kisah tetangga sebelah
*jadi ingat lagi tentang kisah “bapak ayam”*
huhuhu jadi pengen baca ih, bisa minta link nya?
-
Dy Says:
March 8th, 2008 at 10:49 pmwah..berarti ini ceritanya kisah cinta terlarang gitu yah..pacaran sama sodara satu ayah..
tapiii…akhirny itu lho..miris..+_+huhuhu sengaja dy dibikin miris begitu biar smakin tragis huhuhuhu
-
perempuan Says:
March 8th, 2008 at 11:55 pmSetuju saya ustad juga manusia,….

terkadang “label” bisa menyelematkan-menguntungkan bahkan juga menjerumuskan.
Btw, kisah nyata atau hanya hasil olah imajinasi?yup, kita memang harus berhati-hati menggunakan atribut sosial yang kita punya.
cuma imajinasi liar yang tak terkendali huhuhuhhu -
bebex Says:
March 8th, 2008 at 11:57 pmanak ama bapak koq sama sajah
huhuhueh kmana idolamu?
sedang refleksi barengkah?
aku ingin minta didesignkan segera
hohoho
huhuhu baru semalam ber-refleksi bareng. maap yah gw duluan nih. huhuhuhu
-
zal Says:
March 9th, 2008 at 12:00 am::busyeett, makjang…apa ada ustad kek gitu bedh…barangkali itu orang yang hapal buku-buku bedh, anak saya juga sudah hapal beberapa, apa anak saya ustad juga ya bedh…

tapi satiremu ini memang paten..wkakakak bang zal, ini cuma gi bermain-main dengan hayalan aja kok. sepertinya kalau dia beneran ustad nggak akan mungkin begitu degh…..
wah yakin degh kalau anak bang zal bisa begitu lah bokap nya aja begono… huhuhuhu -
pink Says:
March 9th, 2008 at 6:05 amsaya kok jadi sedih gini yah bacanya.
ceritanya memang nggak sengaja jadi menyedihkan gitu
….. thx yah apresiasinya. 
-
cempluk Says:
March 9th, 2008 at 7:54 ammeski si ustat memiliki ilmu agama yang tinggi..namun blm mampu tuk memberikan keadilan pada dirimu dan ibumu…
huhuhu ini bukan cerita ibu gw kok pluk….
-
Zee Says:
March 9th, 2008 at 1:20 pmnice story, bener2 kyk kenyataan di negara kita ini..
hmmm mungkin mang begitu mbak, thx yah…
-
Hanna fransisca Says:
March 9th, 2008 at 5:17 pmBedh…
ini fiksi, kan? aku tidak yakin Bedhiah seangker itu sampai mau melayangkan bogem mentah segala. *cereeemm*sabar, Bedh, Sabar….
huhuhu ini cerita imajinasi doang han jadi mana mungkin gw ngasih bogem ke bokap terakhir ngebogem orang waktu masih kelas 4 sd kalau nggak salah itupun karna dia maling ayam temen. malingnya anak kecil sepanteran ma aku. tapi dia tersungkur gitu trus nangis. sejak itu aku nggak mau lagi mukul orang. dan seingat aku dah nggak pernah lagi.

-
gempur Says:
March 9th, 2008 at 7:03 pmhowever, cerpennya menarik sekali.. efek dari poligami yang sedemikian parah … mengrikan mas!
huhuhu poligami memang parah dan mengerikan

mudah2an gw nggak akan pernah ngelakuinnya. -
ichan "brainstorm" Says:
March 9th, 2008 at 7:14 pmsial, kirain true story

ternyata disini ente.. kirain udah almarhum hehehe
huhuhu belum ni, masih mau beromong kosong ria.

-
indra1082 Says:
March 10th, 2008 at 8:13 amIni Kisah nyata atau cuma cerpen??
hey kmana aja ni? huhuhu
hmm ini juga nggak bisa dibilang kisah nyata juga sih karna gw juga nggak ngalamin tapi ini juga nggak tau bisa di bilang cerpen ato nggak karna cara nulisnya asala gitu juga. huhuhu
-
fauzan sigma Says:
March 10th, 2008 at 9:27 amjadi ini semua hanya fiksi.. alhamdulilah
huhuhu iya ni, mudah2an aja nggak ada yang pernah ngalamin.

-
verlita Says:
March 10th, 2008 at 9:43 amsemoga ini bukan beneran…kalaupun beneran, semoga pemeran utamanya bukan bedh…ehhh sebenernya, ini mau nyindir sapa??

huhu saya bukan bintang film atau sinetron dan ini juga bukan naskah huhuhu jadi saya juga nggak bisa berperan sebagai pemeran utamanya huhuhuhuhu, gak mo nyindir sapa2 kok.

-
tukangkopi Says:
March 10th, 2008 at 12:02 pmwiii…keren keren keren keren keren keren…
*sembah bedh*huhuhu hinalah aku terus ….. ni nulis beginian gara2 kebanyakan baca cerpen lo ni.
-
qnewt Says:
March 11th, 2008 at 5:13 amceritanya bagus. pesannya juga dapet.
wah sukurlah kalau begitu.

-
stey Says:
March 11th, 2008 at 6:08 pmedaann..
cerpennya keren..kapan dibuat lanjutannya?huhuhu idenya cuma sampai situ mbak. huhuhu ntar kalau disambung-sambung beneran kaya sinetron dong. huhuhu
-
namaewadina Says:
March 12th, 2008 at 2:15 pmwew, damn well written story!
keren. serius ^^
salam kenal -
jegez Says:
March 13th, 2008 at 5:22 pmebat kau ya medramatisasi….
tukang olah bana…orang pakan kale…. -
Ina Says:
March 15th, 2008 at 9:50 pmHubungan na jadi beribet gitu.
Semuanya krn nafsu…!!!
Ehm…kenapa selalu harus wanita yg menjadi korban.
*sedih* -
bayu Says:
March 21st, 2008 at 5:17 pmSebenernya aku tak begitu mempermasalahkan hal itu dan bersedia berkorban melepaskan Hilda, cuma masalahnya mau dikemanakan anakku yang ada di perutnya itu.
anjriitt!!!
mada dia bedh!!!
telat ngangkat kaya’nya,…




