before the flu

Back To Zero

  • You are here: 
  • Home
  • bedh

Another life story

Posted on July 21st, 2008

bedhiah: jadi pram apa yang bisa ita buat untuk negara kita yang tercinta ini sekarang?

pram: mati anjinglah negara

bedhiah: itulah yang saya maksud dengan semangat anak bangsa

bedhiah: saya suka semangat itu

pram: uhauhauhuha

pram: kenapa kau bedh? kebanyakan mandi kau kayanya

pram: mana aja kau?

pram: pindah ke bali yuk bedh

bedhiah: hanjiang

bedhiah: jauh kali

bedhiah: aku kurang begitu akrab ma bule2 pram

bedhiah: mereka nggak bisa ngikutin gaya aku

pram: ndak suntuk kau?

bedhiah: suntuk juga sih

bedhiah: tapi orang tu pasti ngerti akulah

bedhiah: hoi serius kali

bedhiah: knapa ada yang nawarin kerja di bali ma kau?

pram: ga juga..

pram: pengen aja pindah

pram: ntar cari kerja disana aja

bedhiah: duh kau yakin tampang kau cocok jadi anak pantai?

bedhiah: aku ndak bisa pindah ke bali sekarang

pram: napa gitu?

bedhiah: aku lagi nunggu dadang foto kopi ktp

bedhiah: buat beli honda beat

bedhiah: :(

pram: tajir kali kau bedh

pram: aku udah beli gl max

pram: cam mana clothing.. masih jalan

pram: ?

bedhiah: hehehe

bedhiah: masih lah

bedhiah: aku bukan orang yang suka jadi golongan kerah biru kaya kau

bedhiah: gimana lagi wak

bedhiah: ndeh tinggal di pinggiran metropolitan bikin kau jadi lembek yah pram?

pram: oh tidak dong

bedhiah: duh, kayaya aku mencium bau amis nih

bedhiah: aku takut ntar lagi kau ngomel2 soal betapa hancurnya metropolitan

pram: uhauhauhuha

bedhiah: tenang pram metropolitan masih menjanjikan kejamnya ibukota kok, kau santai2 aja duduk di sana nanti dia bakal datang juga kok dengan sendirinya

bedhiah: sabar yah!

bedhiah: kmaren dia dah bilang kok ma aku

pram: babi

pram: aku biasa aja nyoh

pram: aku cuma bosan aja..

pram: dan dibali kabarnya gajinya lebih tinggi

bedhiah: iya tapi titit orang2 disana gede2 pram

bedhiah: kau yakin bisa sabar?

pram: ntah apa2 kau ni bedh..

pram: kapan jakarta lagi?

bedhiah: jum’at depan kayanya

bedhiah: sabtu hangout yukkk

bedhiah: gaul2 gitu

bedhiah: duduk2 di citos

bedhiah: seprti biasalah…

pram: YUK YUK

bedhiah: sep

bedhiah: nti aku bilang ma bayu biar dia mau ngeluang kan waktu nya

bedhiah: dia lagi sibuk kali sekarang nangis2 darah

bedhiah: kasian kali dia banyak gaul ma komputer

bedhiah: nanti kita selamatkan dia

bedhiah: dari sengsaranya dunia maya

bedhiah: k?

pram: EMBER

Tags: , , ,
Filed under chiffonier | 5 Comments »

Miss u my Lord

Posted on July 19th, 2008


The Boatman

Artist: Nitin Sawhney and Jayanta Bose

Poroshe kaar aador mekhe

Bheshe elam shaagor theke

Baalir tote notun disha

Aandhar theke aaloye mesha

Batash bhora bhalobasha

Ke kandaari…

Boichho tori…

Aaral theke…?

Pada sentuhan siapa aku punya, mencoreng dengan cinta

yang diapungkan oleh laut

Dengan arah baru, pada pantai berpasir ini

Ketika kegelapan bergabung dengan cahaya

Dan angin yang diisi dengan cinta

Siapakah engkau, Oh Nahkoda

mengendalikan perahu ku…

bersembunyi di Sayap-Sayap…?

Tags: , ,
Filed under Halitosis | 6 Comments »

Bubur air mata II (tamat)

Posted on June 25th, 2008

Ada 5 meja di rumah makan tersebut dan semuanya dipenuhi dengan sisa pengunjung di sore menjelang rumah makan tutup. Tumbawada membuat 20 porsi bubur ayam biar semua pesanan dapat terpenuhi. Ketika bubur dihidangkan dan mulai mencicipi bubur tersebut terjadi kerisuhan. Semua pengunjung restoran mengeluarkan air mata bahkan ada yang sampai terisak-isak bercucuran airmata. Semua pengunjung menangis sambil memakan bubur buatan Tumbawada samapai tak bersisa. Bahkan saat membayar dan keluar dari rumah makan itupun para pengunjung masih tak dapat menghapus air mata yang jatuh. Kota Gulabena tempat Tumbawada menjadi gempar dengan kejadian tersebut. Orang-orang tak henti-hentinya membicarakan bubur tersebut pos-pos ronda dan rumah-rumah ketika makan malam terdengar sedang membicarakan makanan tersebut.

“Benar-benar lezattttt, tak masuk akal. Saya bahkan tak sedang sedih sedikitpun ketika menyantapnya. Tapi air mata saya tak mampu saya tahan. Meluncur begitu saja ketika sendok pertama bubur itu memasuki mulut saya”. Begitu kata salah seorang pengunjung rumah makan itu kepada rekannya sewaktu ronda malam.

“saya bahkan masih tetap menangis sewaktu saya menginjakkan kaki saya kesalam rumah saya sore tadi setelah memakan bubur ayam itu” kata salah seorang pengunjung lainnya kepada sanak saudaranya.

“Itu adalah bubur ayam yang teraneh yang pernah saya makan, rasanya sangat lezat dan sedih sekali. Coba kau bayangkan bagaimana rasanya. Saya bahkan yakin tak bisa tidur malam ini menunggu esok hari biar bisa makan bubur itu lagi”. Sahut seorang ibu kepada suaminya.

Akhirnya seperti yang dapat diperkirakan, keesokan harinya rumah makan itu sudah dipenuhi berpuluh-puluh orang yang sedang berdiri mengantri rumah makan itu dibuka. Rumah makan itu sendiripun bahkan belum buka. Para pengunjung juga tak henti-hentinya datang dan memenuhi perkarangan rumah makan tersebut, ada yang benar-benar datang ingin mencoba bubur itu ada juga yang datang Cuma karena terheran-heran karna banyak sekali orang berkumpul. Orang yang mengantri bahkan sudah hampir keluar jalan karna saking penuhnya ketika rumah makan dibuka oleh pegawai Tumbawada. Hari itu semua orang yang keluar dari rumah makan itu bercucuran air mata.

Bubur ayam itu membuat Tumbawada semakin terkenal dan rumah makannya makin dipenuhi pengunjung setiap harinya. Semakin menangis pengunjung tersebut maka semakin sering pengunjung itu datang kerumah makan Tumbawada. Tak sedikit juga yang marah-marah karna tak kebagian. Tumbawada ternyata takmampu membuat lebih banyak porsi setiap harinya. Bahkan Tumabawada kelihatan semakin kurus dan dan matanya semakin cekung, walaupun harga bubur telah diaikkan berkali-kali lipat tapi pengunjung tak juga beralih dan meminta menu lain. Hal tersebut membuat Tumbawada menjadi tersiksa karna harus membuat bubur itu berulang-ulang kali setiap harinya. Semakin hari pengunjung rumah makan itu bukan semakin sepi melainkan semakin ramai. Bahkan para pengunjung sudah mulai berdesak-desakan dipintu masuk dan sempat terjadi beberapa kali perkelahian karna ada beberapa pengunjung yang tak mau mengantri dan memaksa masuk lebih dahulu.

Hal ini sampai ketelinga Gubernur Landa, beberapa masukan dari pesaing Tumbawada juga menambah-nambah informasi yang sampai ketelinga Gubernur ini.

“Saya tak tahan mendengar ejekan dari orang-orang di kota sebelah pak gubernur. Kuping saya gatal sekali mendengar mereka menghina kota kita penduduknya cengeng semua”, kata salah seorang pembawa berita tersebut.

“Bagaimana kalau Raja menyangka Tuan tak becus mengurus kota kita karna hampir semua penduduknya gemar menangis”, lanjut yang lainnya.

“Rumah makan itu tak layak lagi di sebut rumah makan, karna sering terjadi perkelahian disana”

“Yah, Rumah makan itu lebih layak di sebut rumah jagal. Atau sasana tinju. Benar-benar biadab”. Sambut yang lain mengiyakan.

Informasi yang sampai tak cukup itu ternyata telah membuat kuping gubernur Landa menjadi panas. Amarah bergejolak didada sang gubernur. Tak disangkanya kejadian seperti itu terjadi di daerah tempat ia pimpin selama bertahun-tahun ini. Kepopuleran Tumbawada terasa sangat mengancam kedudukannya sebagai seorang gubernur. Orang-orang lebih mengenal Tumbawada sang tukang masak dari pada dirinya. Percakapan singkat dengan Surnawida tukang pukulnya adalah puncak dari segala keamarahannya. Malam itu juga tampak Surnawida keluar dari rumah makan Tumbawada sambil membopong seseorang dipangkuannya. Tumbawada berhasil dipukul dengan telak sampai pingsan dan dibawa kepenjara di gubernuran.

Keesokannya kehebohan terjadi dirumah makan itu ketika pegawai-pegawai menceritakan bahwa Tumabawada telah di culik oleh seseorang malam tadi. Sehingga terpaksa rumah makan kembali ditutup. Berita ini sangat mengejutkan para pengunjung. Tampak di seluruh pelosok kota orang-orang membiicarakan hal tersebut.

Gubernur Landa sedang bekerja seperti biasanya ketika datang sepucuk surat yang ternyata berasal dari kerajaan. Isinya sangat singkat sekali “benarkah di daerah mu orang-orang menangis hanya karna semangko bubur?”. Begitu isi surat tersebut. Tapi surat itu ditanda tangani langsung oleh sang raja. Gubernur Landa seperti kebakaran jenggot. Mukanya tampak pucat sekali. Tangannya tak henti-hentinya bergetar menggenggam surat singkat tersebut. Dengan sepucuk surat genggam balasan kepada sang raja, Gubernur Landa telah bertekat membereskan masalah tersebut secepatnya. “Mohon beribu ampun baginda, berita tersebut tak salah adanya. Akan tetapi dengan secepatnya akan segera saya bereskan”, begitulah bunyi surat tersebut. Setelah memberikan surat balasan tersebut Ia lalu berteriak memanggil Surnawida masuk kedalam kantornya.

Tak sampai dua hari setelah itu tampak rombongan kerajaan datang, sangat lengkap berikut punggawa-punggawa kerajaan beserta prajurit-prajuritnya. Kali ini sang Raja berkernan datang sendiri kedaerah tersebut, hal ini tentu saja membuat halaman yang tak seberapa luas itu langsung menjadi penuh sesak. Tampak Gubernur Landa sendiri berlari-lari tergopoh-gopoh menyambut sang Raja di jalan menuju pintu masuk. Mukanya sangat pucat sekali seakan-akan tak ada darah yang mengalir ke sana.

Bumi kemudian seakan-akan berputar sangat kencang ketika Landa mendengar suara Raja. “hey Landa, Aku sangat penasaran sekali ingin mencoba bubur air mata itu”, kata Raja tersebut dengan lembut.

“hah?” Landa benar-benar tak pernah menyangka bahwa kata-kata seperti itu yang akan keluar dari mulut sang raja.

“yah Tuhan apa yang harus kulakukan, aku tak mampu menggali kuburan menghidupkan kembali orang yang telah kubunuh tapi malah tersenyum gembira itu” pikirnya dalam hati tak henti.

*tamat

huhuhu themes baru, thx yah idola ku yang sudah mau mengoprek themes ini jadi lebih nyaman dan keren.

Tags: , , , ,
Filed under chiffonier | 16 Comments »

Bubur air mata

Posted on June 24th, 2008

Tumbawada adalah seorang tukang masak yang sangat ahli, masakannya sangat terkenal karna kelezatannya. Ia membuka rumah makan yang terletak di pinggiran pasar ibukota. Rumah makannya ini tak lebih besar daripada garasi mobil Gubernur Landa. Walaupun rumah makan ini tak begitu besar tapi telah cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup Tumba dengan ibunya ditambah 3 orang pekerjanya.

Kepandaian memasaka Tumbawada diwarisi dari Ibundanya tercinta, sejak kecil ia telah membantu ibunya memasak maklum ia hanya hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya sudah duluan pergi meninggalkan mereka karena sakit. Tinggalah ia dan ibunya hidup membanting tulang menghidupi keluarga setelah menabung sekian lama ia dan ibunya dapat menyewa bangunan di pinggir pasar ini untuk mendirikan sebuah rumah makan. Dari kecil sudah kelihatan sekali Tumba adalah sorang yang sangat berbakat sekali dalam memasak, ia selalu diandalkan oleh ibunya ketika memilih ikan dan sayur ketika ke pasar. Tumba memang memiliki hidung yang sangat peka sekali, dengan sekilas hirup saja tumba kecil telah mampu mengetahui yang mana ikan segar dan mana yang tidak. Begitu juga kemampuannya dalam memilih sayur-sayuran segar. Bahkan tak jarang Tumba kecil mendapat tambahan uang demi memilihkan ibu-ibu yang belanja ke pasar seekor ikan segar dan enak untuk di bakar ataupun di goreng.

Rumah makan Tumbawada tak pernah sepi dari pengunjung, bahkan pelayan sering kali terpaksa untuk membereskan piring buru-buru di atas meja walaupun orang tersebut belum lebih dari 10 menit menghabiskan makanannya. Hal ini dilakukan adalah cara halus untuk mengusir pelanggan. Terpaksa dilakukan karna kadang-kadang terjadi antrian di luar rumah makan. Orang-orang yang mengantri kadang sangat tak sabaran, beberapa diantara mereka bahkan ada yang berani mengetuk kaca kalau melihat ada pelanggan yang mengobrol agak sedikit lama setelah mereka menyantap habis makanan mereka.

Menu favorit di rumah makan itu adalah sop buntut goreng. Menu ini sangat lezat sekali, dagingnya adalah daging pilihan tak seperti sop buntut goreng lainnya sop buntut buatan Tumba memiliki daging yang sangat empuk dan sedikit sekali lemaknya walaupun bentuknya yang lembut itu tampak sedikit berminyak. Yang tak biasanya lagi daging itu dilumuri semacam saos diatasnya. Tak membutuhkan tekanan ketika sendok menyentuh daging tersebut bila hendak memotongnya atau melepaskannya dari tulang. Walaupun saos tersebut hanya di lumuri diatas daging tapi saos tersebut seperti meresap hingga ke dalam daging. Ada sedikit rasa aneh seperti rasa kayu manis tapi benar-benar terasa sangat lezat. Kaldu nya juga tak kalah lezat irisan bawang merah, dan bawang putih serta merica, pala, jahe, paprika menyatu dengan lembut kedalam kuah yang sepertinya di aduk dengan sangat lembut dan merat tersebut. Percikan jeruk semakin membuat kaldu tersebut menjadi sangat segar. Sehingga setiap sendok yang masuk kedalam mulut mencicipi masakan ini selalu diiringi dengan desahan lembut serta mata yang memejam dari pengunjung-pengunjung rumah makan tersebut.

Walaupun menu ini adalah menu favorite di rumah makan ini tapi Tumba tak pernah menghidangkan menu ini lebih dari 13 porsi setiap harinya. Akan tetapi hal tersebut tak membuat para pengunjung menjadi kecewa, karna masakan Tumba lainnya tak kalah lezatnya. Sop Kondro adalah menu kegemaran kedua setelah sop buntut goreng habis. Sop ini memiliki kuah yang sangat kental, paduan rasa asam jawa, lengkuas, garam dan sedikit terasa kayu manis dan juga cengkeh menyatu lembut kedalam potongan-potongan daging iga. Benar-benar membuat air liur berdecak ketika menu tersebut dihidangkan di meja. Tak mengherankan jika kedua menu ini adalah menu yang selalu habis duluan sebelum restoran itu tutup. Beberapa pelanggan tetap telah cukup mengerti untuk tak mencoba-coba mengorder kedua menu tersebut setelah lewat dari jam 2 siang. Karna tentu saja tak akan pernah kebagian.

Masakan yang lezat tentu saja di buat dengan bahan dasar yang juga berkualitas. Hal tersebutlah yang menjadi kehandalan dari Tumbawada. Setiap jam 5 subh tepat Tumba telah menginjakkan kakinya di pasar membeli ikan, daging dan juga sayuran. Pernah suatu hari Tumba telat datang ke pasar jam 5.25 subuhia belum juga tampak. Pasar sudah di penuhi oleh para pembeli tapi anehnya tak ada satupun yang memulai membeli daging ataupun sayuran hanya tampak beberapa pembeli yang membeli itupun kebanyakan adalah para pembantu ataupun orang-orang baru. Ketika Tumba datang dan sudah membeli daging barulah para ibu-ibu itu membeli daging di tempat Tumba membeli daging. Begitu juga dengan ikan ataupun sayuran. Semenjak itu kalau jam sudah menunjukkan lebih 5 menit maka akan tampak rumah Tumba di gedor oleh orang yang di utus oleh para pedagang di pasar. Tumba memang orang yang selalu tepat waktu jadi jika sedikit saja ia terlambat sudah bisa dipastikan Tumba ketiduran atau telat bangun.

Suatu hari tak seperti biasanya Tumba tak datang ke pasar, beberapa kali telah diutus orang kerumah Tumba yang memang tak jauh dari pasar tersebut tapi sampai siang Tumba tak juga tampak di pasar. Siangnya rumah makan Tumba juga tak tampa seperti akan di buka seperti biasanya. Banyak orang yang mengantri di suruh pulang oleh pegawai Tumba, ternyata sang ibunda sedang sakit keras dan Tumba tak beranjak dari tempat tidur sang bunda tercinta berjaga-jaga. Sang bunda tampak sangat pucat dan kehilangan nafsu makan. Beberapa kali masakan yang dibuat oleh pegawainya di muntahkan oleh sang bunda. Karna hingga hampir malam sang bunda tak juga makan akhirnya Tumba lalu memutuskan untuk memasak sendiri makanan buat ibunya. Karna takut ibunya tak kuat makanan yang berat ia lalu bertekat membuat bubur ayam untuk ibunya itu.

Ia sangat paham sekali ibunya sangat menyukai masakan yang pedas, oleh karena itu ia sedikit menambahkan takaran cabe kedalam bumbunya. Tak seperti biasa ia sedikit risau dengan sakit ibunya kali ini, ibunya sangat jarang sekali sakit dan tak pernah kelihatan separah ini. Ia lalu sangat manaruh perhatian khusus dengan buburnya kali ini, ia berniat untuk membuat bubur yang enak agar tak di muntahkan lagi oleh ibunya. Tak memakan waktu yang lama karna semua bumbu dan bahan baku memang tersedia di rumah itu bubur itupun telah selesai dan siap di sajikan. Tumba lalu membawa bubur tersebut dan berniat menyuapi sendiri bubur tersebut kedalam mulut ibunya. Namun ternyata baru satu sendok suapan yang masuk kedalam mulut ibunya telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Tumba sangat terpukul dengan kematian ibunya tersebut, berhari-hari ia tak keluar dari kamar. Tubuhnya menjadi kurus matanya tampak sangat cekung karna sering menangis. Kecintaan terhadap ibunya ternyata sangat mendalam sehingga ia tak siap harus berpisah dengan begitu cepat. Telah hampir sebulan Tumba masih tampak tak bergeming dari kesedihannya. Para pelanggan yang datang berkunjung menyemangati dan menghiburnya juga tak mampu menyemangatinya kembali untuk membuka rumah makan.

Sementara itu keahlian memasak Tumbawada sudah sampai kekerajaan dan telah terdengar pula ketelinga sang pangeran yang konon sangat menyukai makanan tersebut. Sang pangeran lalu mengutus orang ke gubernur Landa menyampaikan niatnya mencoba masakan Tumba. Hari itu tampak sang Gubernur yang memiliki tubuh tak sampai 150 centi meter itu berjalan kerumah Tumba. Walaupun telah menolak beberapa kali untuk membuka rumah makan dengan alasan masih dalam keadaan belasungkawa Tumba terpaksa menyetujui keinginan sang gubernur dan membuka rumah makan. Ancaman seluruh anggota keluarga dan juga pegawainya akan di masukkan kepenjara jika Tumba masih tetap bersikeras tak mau memasak untuk sang pangeran cukup membuat Tumba merubah pendiriannya.

Pada hari yang telah di tentukan sebelumnya tampak beberapa prajurit kerajaan berdiri di sekitar rumah makan Tumba. Rombongan Pangeran tampak telah memenuhi rumah makan tersebut. Suasana sedikit keruh ketika tampak Gubernur Landa marah-marah ketika Tumba ternyata tetap pada pendiriannya hanya menyediakan 13 porsi sop buntut goreng pada hari itu. Sang Gubernur tampak sangat murka melihat kekurang ajaran Tumba dan sangat tidak menghormati sang putra kerajaa. Namun ternyata sang pangeran adalah orang yang sangat bijaksana dan iapun dapat memaklumi kebijakan aneh Tumba. Dan rombonganpun sangat menikmati hidangan sop buntut goreng serta sop kondro buatan Tumba. Sang putra mahkota berbadan gembul itu ternyata sangat puas dengan masakan Tumba, iapun kemudian di hadiahi sebuah mobil BMW keluaran terbaru sebagai bonus. Sang pangeran pun tak tersinggung ketika tawarannya sebagai koki kerajaan ditolak oleh Tumba. Tampak sang gubernur sedikit masam melihat tingkah laku Tumba tapi ia tak dapat berbuat apa-apa karna sang pangeran ternyata sangat menghargai keputusan Tumba.

Setelah rombongan Pangeran kerajaan pergi meninggalkan restoran ternyata tumba tak menutup rumah makannya. Ternyata ia kasihan kepada pelanggannya yang berdiri sejak tadi di kejauhan melihat rumah makan telah di buka kembali. Iapun lalu menyuruh para pegawainyamengatakan kepada para pelanggan bahwa rumah makan akan terus di buka dan menerima setiap pengunjung dan tutup seperti biasanya. Ternyata bahan makanan sudah banyak yang habis ketika membuat jamuanuntuk para rombongan kerajaan. Maka tak sampai 2 jam bahan makanan untuk membuat menu biasa telah habis. Yang tersisa hanya beberapa bumbu yang sekiranya hanya dapat membuat jenis makanan bubur ayam saja. Itupun ayam untuk setiap porsinya akan sangat di batasi.

Para pelayan tak sanggup untuk mengusir para pelanggan yang bersikeras memesan bubur ayam sebagai obat kerinduan akan masakan Tumba. Dengan berat hati pelayan itupun memberitahukan hal tersebut kepada Tumba. Seandainya bukan bubur ayam tentu saja Tumba telah sedari tadi membuatkannya untuk para pelanggan tapi menu itu membuatnya kembali mengingatkan dirinya akan kematian ibundanya. Dengan berat hati dan perasaan sedih yang sangat luar biasa Tumba lalu membuat bubur pesanannya itu. Air matanya mengalir tak tertahan kesedihan yang selama beberapa hari ini sudah mulai sedikit ditahannya kembali timbul seiring dengan adukan bubur yang dimasaknya.

Bersambung…………..

 

Filed under chiffonier | 11 Comments »

Asam urat

Posted on June 16th, 2008

Asam urat atau nama lainnya yaitu arthritis gout adalah penyakit yang sudah ada sejak jaman dahulu kala, untuk waktu yang telah lama berlalu itu penyakit ini sering disebut sebagai penyakit raja-raja karna kegemeran mereka mengkonsumsi makanan enak-enak. Saya bukanlah seorang raja tapi kegemaran akan mengkonsumsi makan-makanan enak telah membuat saya harus menerima penyakit para raja ini. Sebenarnya penyakit ini di timbulkan oleh zat buangan purin dari dalam tubuh telah melebihi dari kadar normal sehingga menyebar ke dalam rongga sendi-sendi sehingga menyebabkan peradangan akut/terjadi gout. Penyakit ini selalu menyerang persendian tumit kaki saya, kalau sudah mulai sakit maka daerah di sekitar mata kaki itu akan tampak merah, mengilat, bengkak, disertai dengan rasa nyeri yang sangat hebat. Saking hebatnya membuat setiap langkah menjadi berat dan sakit. Persendian sangat sulit sekali untuk digerakkan.

Serangan ini biasanya hanya timbul sebentar, setelah meminum obat biasanya besoknya sudah hilang dan saya kembali beraktifitas seperti biasanya. Tapi kali ini doi sedikit membandel sehingga saya harus tetap merasakannya untuk beberapa hari, walaupun sudah tidak terlalu sakit tapi masih berasa kalau di bawa jalan sehingga menimbulkan rasa ngilu di dekat persendian. Hal ini lalu membuat saya memutuskan untuk memeriksakan darah ke lab. Paramitha Lab kemudian menjadi pilihan saya untuk memeriksakan darah.

Kadar normal untuk laki-laki menurut Lab ini berkisar diantara 3.5 hingga 7.2 dan diharapkan untuk tetap stabil di sekitaran angka 5. Pemeriksaan ini sedikit memakan waktu karna memang banyak yang datang ke sana, akhirnya saya terpaksa untuk datang kembali besoknya untuk mendapatkan hasil lab tersebut. Esoknya setelah menerima hasil dari lab saya dapat mengetahui kalau kadar URIC ACID (purin) yang ada di tubuh saya mencapai angka 10.6 sebuah prestasi yang tidak terlalu membanggakan.

Dokter yang ada di sana bersedia sedikit meluangkan waktunya untuk saya berkonsultasi, doi lalu menganjurkan kepada saya untuk tidak dulu buru-buru ke dokter untuk mengkonsumsi obat-obatan untuk mengurangi kadar asam urat itu. Dia lebih menganjurkan ke saya untuk lebih dahulu menjalani diet. Mengurangi kadar purin di dalam darah saya dengan menjaga pola makan. Dan lebih dianjurkan lagi untuk dapat mengurangi bobot tubuh saya yang sudah makin bengkak ini.

Lebih lanjut dokter ini lalu menyarankan kepada saya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa jenis makanan yang mengandung purin tinggi (>(150-800 mg/100 gram) seperti:

Segala macam jenis jeroan dan makanan-makanan laut seperti udang, cumi-cumi, kerang dan makanan-makanan kaleng termasuk sarden dan kornet, yang merupakan semua makanan-makanan favorite saya huhuhu. Doi juga menganjurkan saya untuk tidak mengkonsumsi alkohol suatu hal yang tidak berat karna memang sudah lebih dari 7 tahun saya tidak lagi pernah mengkonsumsinya.

Dokter itu lalu menganjurkan untuk membatasi mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar purin sedang (50-150 mg/100 gram) jika serangan nyeri pada persendian datang. Makanan-makanan itu dapat di temui dalam:

Kerang-kerangan, segala macam ikan yang termasuk kedalam golongan atas, daging sapi, kacang-kacangan , bayam, kangkung, buncis, tauge, ada beberapa jenis sayuran lain yang dia sebutkan tapi tak mampu saya ingat lagi.

Untuk melanjutkan hidup sehat itu ada beberapa makanan yang aman untuk saya konsumsi yaitu makanan yang memiliki kandungan purin rendah (<50-150 mg/100 gram)

Jenis makan yang dimaksudkan oleh dokter ini seperti keju, susu, telur, untuk memudahkan purin terbuang melalui urin saya juga dianjurkan untuk meminum banyak air dan buah-buahan yang banyak mengandung air seperti semangka, dan jus buah-buahan lainnya. Untuk buah-buahan seperti durian dan alpukat juga sebaiknya dihindari karna dapat diekstrak menjadi alkohol di dalam tubuh dan juga membuat kadar lemak menjadi tinggi dan akan menambah berat badan.

Untuk keterangan lebih menjelas mengenai asam urat ini saya juga telah membaca beberapa artikel di dunia maya ini, beberapa diantaranya adalah tulisan yang kemudian saya contekuntuk membuat tulisan
ini. Huhuhuhu sekali lagi hidup mencontek.


Tags: , , , ,
Filed under chiffonier | 23 Comments »